Peta Belajar : Baking With Love, Jurnal Bunda Cekatan #3


Sebagai penjelajah di hutan kupu-kupu pekan ini kami diberi arahan oleh magika berupa panduan main : Peta Belajar. Wah apa nih? Ternyata di pekan ini kami membuat sendiri peta belajar versi kami yang akan dipelajari. Kata magika peta yang menggambarkan diri sendiri dan bukan versi kedua orang lain. 






Dari telur oranye yang saya buat pekan lalu, selanjutnya ialah membuat peta belajar sebagai pedoman yang akan saya pelajari dan akan saya latih hingga menjadi cekatan selama beberapa bulan kedepan. Dari telur oranye ada ilmu yang akan saya pelajari diantaranya metode pembuatan, manajemen emosi, pengenalan alat dan bahan, dan kreativitas. 


Dari telur merah yang akan saya pelajari ialah baking. Akan tetapi ternyata baking ini jangkauannya luas, ada kue, pastry, roti dan lain-lain. Akhirnya saya memilih untuk fokus baking di bidang rerotian. Menurut saya baking rerotian adalah hal yang sangat penting dan ingin saya pelajari secepatnya, karena anak-anak saya menyukai roti. 


Setelah saya berkonsultasi dengan dua teman saya yang ahli di bidang rerotian, maka peta belajar saya menjadi seperti berikut :



Coba deh bandingkan dengan telur oranye saya. Ternyata ada perbedaannya ya? Ilmu yang akan dipelajari ada yang diganti dan ada yang ditambah. Semuanya karena menyesuaikan dengan fokus saya yang ingin pelajari ialah baking di bidang perotian. 


Alasan saya ialah saya ingin sekali bisa membuat roti untuk anak-anak dan suami. Karena pernah mengalami beberapa tahun yang lalu saya sempat dua kali mencoba membuat roti. Hasilnya rotinya keras banget, entah salahnya di mana. 


Lalu sekarang anak-anak sudah mulai besar dan sering sekali membeli roti untuk cemilan. Lumayan ya cost yang dikeluarkan untuk membeli roti, padahal mungkin kalau membuat sendiri bisa lebih hemat ya.. nah makanya pas banget di kelas bunda cekatan, saya memilih belajar membuat roti dan bisa cekatan dalam membuat roti. 


Peta Belajar

1. Pengenalan Alat dan Bahan

Alat dan Bahan pembuatan roti sangat banyak dan bermacam-macam. Bisa dilihat dari blog disini sehingga saya masih punya waktu beberapa minggu untuk mempelajarinya dan menyiapkan alat dan bahan tersebut agar tersedia ketika kelas baking roti dimulai.


2. Manajemen Waktu

Manajemen waktu yang saya ingin pelajari yang sesuai dengan kegiatan baking ialah

A. Rencana dan Prioritas

Bila akan memulai kegiatan kursus baking sewajarnya saya merencanakan dari beberapa hari sebelumnya. Mulai dari bahan-bahan yang diperlukan hingga peralatannya pun harus disiapkan. Selain saya menyiapkan satu hari tersebut untuk khusus belajar baking roti dan memprioritaskan kegiatan tersebut karena memang sudah direncanakan dari jauh hari sebelumnya.

B. Jadwal Harian

Saya membuat jadwal harian dimana saya dapat belajar baking dan mempraktekannya agar menjadi cekatan.

C. Evaluasi

Saya mengevaluasi kembali dari rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya apakah sesuai dengan keadaan dan apakah sudah sesuai prioritasnya. 


3. Metode Pembuatan Roti

Ada beberapa metode yang perlu diketahui yang saya dapatkan dari berbagau sumber, yaitu

  1. NO TIME DOUGH PROCESS (Pembuatan Roti Metode Cepat)
    Dalam metode pembuatan roti no time dough ini, semua bahan diaduk menjadi satu, kemudian difermentasikan secara cepat, maka diperlukan bahan tambahan (additive) yang sifatnya membantu/memperbaiki tekstur roti yang dihasilkan. Bahan tambahan roti yang digunakan berupa penguat dan pelembut adonan.

  2. ROLLING DEVELOPMENT (Break Roll Method)
    Metode pembuatan roti ini berasal dari Australia dan banyak dipakai di Indonesia, industri roti skala kecil. Bahan dicampur dengan mixer secukupnya, kemudian dibuat kalis melalui mesin rolling. Hasil roti yang dihasilkan bertekstur halus dan berpori rapat. Namun juga diperlukan bahan tambahan untuk menyempurnakan proses pembuatan rotinya.

  3. STRAIGHT DOUGH METHOD
    Dalam pembuatan roti metode ini, semua bahan diaduk menjadi satu dan kemudian difermentasikan. Waktu fermentasi bisa bervariasi antara 2-3 jam. Setelah fermentasi mencapai kira-kira 80% an, adonan dikempeskan, kemudian dibulatkan kembali, dan fermentasi dilanjutkan. Selanjutnya adonan dibentuk sesuai peruntukannya. Roti yang dihasilkan dengan metode ini tidak sehalus dan tidak seharum roti yang dihasilkan dengan metode biang (sponge and dough method).

  4. SPONGE AND DOUGH METHOD
    Pembuatan roti metode biang ini, terdiri dari 2 kali pencampuran dan 2 kali fermentasi. Sebagian bahan dicampur membentuk biuang (sponge) dan difermentasikan selama 3-6 jam. Selanjutnya biang dicampur dengan bahan lainnya membentuk adonan (dough). Setelah adonan kalis sempurna, adonan difermentasikan dengan waktu yang lebih pendek (20-30 menit). Roti yang dihasilkan dengan metode biang ini bertekstur halus dan harum.

Sumber : https://www.bakersfriend.co.id/post/metode-pembuatan-roti


4. Proses Pembuatan Roti

Secara garis besar, proses pembuatan roti dapat dilihat disini . Saya harus membacanya dengan perlahan-lahan agar dapat mengerti dan memahaminya.


5. Mempelajari aneka bentuk roti

Nanti akan dipelajari bersama guru kursus dan sebagai tambahan juga bisa mempelajarinya dari youtube, blog dan media sosial lainnya.


Timeline

Waktu yang saya berikan pada diri saya sendiri ialah selama perkuliahan ini berlangsung. Karena pas juga dengan kursus online yang saya ikuti berbarengan dengan kelas bunda cekatan. 


Adapun timeline nya adalah sebagai berikut 

  1. Pengenalan alat dan bahan 

Dimulai bulan februari selama dua minggu

  1. Manajemen waktu

Berbarengan dengan pengenalan alat dan bahan saya juga belajar manajemen waktu, yaitu bulan februari selama 3 minggu.

  1. Metode pembuatan roti

Dimulai bulan maret selama 1 minggu

  1. Proses pembuatan roti

Dimulai maret selama 1 bulan

Dalam proses pembuatan roti juga terdapat ilmu teknik memanggang Dimana akan saya pelajari ialah sebagai berikut, Tips atau aturan lama dan waktu pemanggangan adalah: (ini bagi saya masih secara teori karena saya belum praktek diambil dari berbagai sumber. Nanti setelah praktek akan saya revisi kembali bila ada perbedaan).

1. Penetapan suhu oven

Range suhu oven untuk mendapatkan volume roti yang optimal dan warna kulit roti yang bagus adalah 220-260 derajat Celcius

2. Ukuran roti 

Semakin besar ukuran roti, semakin lama waktu pemanggangan/oven

3. Gula dan susu bubuk

Semakin tinggi persentase gula dan susu bubuk dalam resep, semakin rendah suhu pemanggangan /oven

4. Lemak 

Semakin tinggi lemak dalam resep/formulasi, akan memperlambat gelatinisasi pati, jadi waktu pemanggangan semakin lama dengan suhu lebih rendah.

5. Kepadatan/sifat adonan

Sifat adonan ini berhubungan dengan banyaknya cairan

dalam adonan. Makin banyak air maka waktu pemanggangan

akan lebih lama.

6. Jenis kulit roti yang diinginkan

7. Makin lama waktu pemanggangan akan makin banyak air yang teruapkan dan makin renyah kulit roti yang terbentuk. Kulit roti yang renyah (crispy) dibentuk dengan menyemprotkan uap air (steam) sebelum dan selama baking.

❤ Intinya

Rumus memanggang roti adalah:

Semakin besar produk, semakin rendah suhu dan lama waktu panggangnya.

Semakin kecil produk, gunakan suhu lebih tinggi dan waktu lebih singkat. Range suhu 180-220 derajat celcius untuk roti. 

Sumber: https://dapoorkue.blogspot.com/2015/06/tips-tips-memanggang-roti.html?m=1


5. Ilmu Membentuk aneka roti

Akan dimulai pada bulan mei dan berlangsung dalam waktu yang tak terhingga Karena membentuk roti dengan bentuk yang bermacam-macam memerlukan waktu yang lama (berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu terjun dalam membuat roti).



Demikianlah jurnal ini saya buat semoga dapat berjalan sesuai dengan apa yang saya rencanakan.


Yetti Febriani

Mahasiswi Bunda Cekatan #3


#kelasbundacekatan3

#institutibuptofesional

#hutankupucekatan

#lacakkekuatanmu

#petaperjalananbelajar



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF