Berlibur Ke Balikpapan (bagian 2)
Lanjut cerita yang kemarin ya.. Hari selasa pagi tadinya berencana akan ke pantai lamaru. Tapi karena Hana ada test naik Ummi jadinya kami baru bisa pergi siang hari setelah sholat dzuhur.
Sebelum menuju pantai lamaru, kami makan siang terlebih dahulu
Kulineran di Balikpapan memang ga habis-habisnya, selalu saja ada yang menarik. Kebetulan saya lagi puingin banget makan ikan bakar dan seafood lainnya tapi ga mau kantong bolong. Lalu kami mendapat rekomendasi dari teman yang tinggal di Balikpapan bahwa ada rumah makan yang ramah di kantong lah ya.
Nama rumah makannya ialah Terumbu Sultra. Wah dari namanya saya sudah membayangkan ikan bakar nya dipadukan dengan dabu-dabu khasnya sulawesi. Lokasii rumah makannya berada di Jalan MT. Haryono dekat banget dengan Ayam Prapatan Khas Bandung.
Tidak sulit kok menemukan rumah makannya karena sudah ada di Google Maps. Sebelum memasuki rumah makan, kami memilih ikan yang akan dibakar oleh pegawai rumah makan tersebut. Kami memilih ikan bawal, ikan kakap, ikan kerapu dan udang.
Kami masuk ke dalam rumah makan yang bangunannya sederhana. Jangan harap ada pojok instagramable atau pojok estetik lainnya ya. Karena memang bentuknya khas warung makan biasa. Kami juga tidak berharap yang lebih, karena tujuan kami hanya ingin makan dan kenyang.
Sekitar lima belas menit kami menunggu. Pas banget datangnya ikan berbarengan dengan hujan deras. Hujan-hujan sambil menikmati ikan bakar dan udang bakar, masya Allah nikmat sekali. Saya makan bergantian dengan suami, karena omar sedang on. Suami memberikan waktu kepada saya terlebih dahulu untuk menikmati makan siang.
Hidangan ikan dan udang bakar didepan mata dengan didampingi oleh sayur asem, sayur sop, lalapan dan sambal. Sambal nya pun ada dua macam, ada sambal mangga dan dabu-dabu. Sambil memakan nasi dan lauk pauk tersebut sambil mengingat kembali beberapa tahun yang lalu ketika tinggal di Pulau Sulawesi. Ikan bakat ditambah dabu-dabu adalah perpaduan yang sedap. Ah bahkan ketika saya menulis ini pun hampir jatuh liur saya membayangkannya. (Agak lebay)
Setelah semua selesai makan, saatnya bayar membayar. Alhamdulillah memang tidak membuat kantong bolong. Semuanya hanya dua ratus ribuan saja. Yang paling senang ialah emak, kuatir akomodasi selama di Balikpapan tidak cukup kalau kami makan diluar anggaran.
Perjalanan selanjutnya yaitu ke Pantai Lamaru. Tiketnya lumayan ya, satu orang membayar Rp 20.000,- Mobil juga bayar. Jadi total kami sekeluarga masuk ke pantai lamaru ialah Rp 125.000,- Padahal banyak pantai yang menawarkan dengan harga tiket yang terjangkau. Akan tetapi suami lebih suka ke pantai ini, lebih nyaman karena toiletnya banyak dan bersih. Selain itu ada mushola di dekat area pantai dan ada masjid di pintu gerbang masuk ke pantai.
Seperti biasa saya bagian menjaga tas dan kunci mobil. Anak-anak sangat senang bermain di pantai, sesekali mereka berlarian dan bermain pasir di pantai. Tidak kalah dengan kakak-kakaknya, omar juga ikutan bermain pasir dan duduk di tepi pantai. Sepertinya suara ombak yang datang masih membuat omar takut dan sempat menangis. Tapi hanya sebentar, ia asyik bermain dengan ayah dan kakak-kakaknya.
Setelah kedinginan dan bosan, anak-anak meminta untuk berbilas. Seperti biasa ritual setelah mereka bermain di pantai atau berenang ialah menikmati Pop Mie. Omar yang sudah selesai dimandikan dan sudah berganti pakaian juga tampaknya lapar dan haus. Jadi sembari kakaknya menikmati pop mie, ia pun menikmati ASI.
Hari menjelang sore kami pun menyegerakan untuk pulang. Padahal orang-orang biasanya suka menikmati sunset apalagi mumpung di pantai. Tapi tidak bagi kami. Sebelum magrib kami harus sudah sampai di hotel.
Setelah lelah bermain di pantai, anak-anak sudah tidak ingin ke luar kamar. Jadi akhirnya ayah yang membelikan makan malam untuk kami. Pilihan ayah tepat sekali, nasi iga bakar mas giri kesukaan aa kyo mendarat dengan mulus di lidah kami.
Keesokan harinya, yaitu hari rabu Balikpapan sangat cerah. Kami janjian dengan teman dari Samarinda untuk ke pantai yang berada dekat dengan hotel tempat kami menginap. Pantai tersebut terletak di Jalan Jendral Sudirman, nama pantainya ialah pantai kilang mandiri.
Tiket masuk pantai sangat murah sekali, yaitu Rp 5.000,- untuk dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun, selain itu biaya parkir mobil hanya Rp 3.000,- di sisi kiri pantai terdapat spot instagramable dan banyak bean bag yang berwarna warni. Jangan kuatir kelaparan karena di area pantai terdapat kafe yang menjual minuman dan makanan.
Lagi-lagi anak-anak bahagia karena bermain air di pantai lagi. Sepertinya mereka tidak pernah bosan bermain air di pantai. Saya yang lagi-lagi jaga kandang sambil menggendong omar hanya bisa berswafoto saja. Ingin rasanya ikutan main air, tetapi omar sedang tertidur pulas di gendongan.
Ah sayangnya liburan kami di Balikpapan harus segera berakhir. Empat hari tiga malam tidak cukup rasanya menjelajahi Balikpapan dan sekitarnya serta menikmati kulinernya. Sampai jumpa lagi Balikpapan. Selalu menjadi cerita indah bagi saya dan anak-anak.
#1dekadeibuprofesional #KelasLiterasiIbuProfesional #ibuprofesional2021 #ibuprofesionalforindonesia #semestakaryauntukindonesia #womenincooLABoration #IP4ID2022 #klip2022mengantarcahaya
Komentar
Posting Komentar