Memasak Dengan Cinta


    Sebelum menjadi leader Kampung Komunitas IP Samkabar, saya lebih dahulu menjadi karumbel boga. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi saya pribadi selama menikah dengan suami saya selama 13 tahun. Karena kalau diingat-ingat lagi ke belakang, Saya sering menertawakan diri sendiri. Rasanya tidak mungkin berada diposisi yang sekarang. 

     Awal menikah hidup Kami terpisah pulau. Suami tinggal di Bandar Lampung dan Saya tinggal di Bekasi, Kami adalah pasangan "Long Distance Marriage" alias LDR. Selama 6 bulan LDR itu otomatis Saya tidak pernah memasak untuk suami. Bahkan Saya tidak mempunyai kompor di kost - kost an tempat Saya tinggal. Saya hanya mempunyai magic com. Terkadang Saya menumpang makan di rumah tante dan kadang-kadang juga Saya membeli lauknya saja, antara warteg, warsun warpad. 

          Setelah Saya resign akhirnya mengikuti suami tinggal di Bandar Lampung. Di sana Kami tinggal di bangsalan lima pintu. Saya menikmati hari-hari sebagai Istri yang berkegiatan di rumah, akan tetapi Saya dilanda kegalauan bila harus memasak untuk suami. 

        Awal-awal ketika tinggal bersama suami itu Saya masih meminta dispensasi agar tidak memasak. Suami pun mengiyakan saja. Saya hanya memasak nasi di magic com, lalu suami biasanya akan membelikan lauknya ketika pulang istirahat di kantor. Hingga suatu waktu suami mengatakan ingin makan siang dengan masakan Saya. 

      Keesokan harinya Saya menyanggupi keinginan suami. Setelah membereskan rumah dan mencuci baju. Saya mulai memasak. Menu yang pertama kali Saya masak adalah tumis kangkung dan sambal telur balado. Ternyata menumis kangkung merupakan perkara yang sulit buat Saya. Hasil tumisan Saya kacau sekali, Saya terlalu banyak menuangkan air di wajan dan terlalu lama menumisnya kangkungnya. Hal itu menjadikan kangkung menjadi sangat lembek. Saya cicip rasanya sudah pas, mau Saya buang tetapi Saya hanya membeli satu ikat kangkung. Akhirnya sudah saja tetap saya hidangkan untuk suami. 

        Ada satu menu lagi yang rasanya kalau mengingat itu Saya jadi malu sendiri. Untungnya sampai sekarang suami tidak pernah mengejek masakan Saya. Oya menu selanjutnya yang Saya masak adalah telur balado. Tahun 2008 dulu handphone Saya belum canggih. Hanya bisa sms dan menelepon. Kalau diingat-ingat, mengapa Saya memilih memasak telur balado? Padahal cukup memasak telur dadar atau telur ceplok. Ini malah memilih telur balado yang mana Saya sendiri saja belum pernah merebus telur sebelum Saya menikah. Boro-boro merebus, Tandanya telur sudah matang saja Saya tidak tahu. 

        Dengan mengumpulkan keberanian dan demi memasak lauk untuk suami, akhirnya Saya menelepon suami. Saya menanyakan bagaimana ciri-ciri telur yang sudah matang. Mungkin di ujung telepon suami merasa kaget dan lucu karena istri tercinta baru ketahuan tidak bisa memasak telur rebus. Tapi alhamdulillah suami tidak menertawakan Saya. Beliau menjelaskan dengan sabar bagaimana cara merebus telur dan bagaimana mengetahui ciri-ciri matangnya sebuah telur. 

        Lalu Saya pun melanjutkan pekerjaan Saya di dapur. Menumis sambal balado dan mencemplungkan telur yang sudah matang sempurna. Sayangnya Saya tidak mencicip telur baladonya. Saat istirahat makan siang, suami pun pulang dan mulai makan masakan pertama istri tercinta. Ia tampak bahagia karena mendapati istrinya masak dengan penuh cinta. Hingga ketika menyuapkan nasi, tumis kangkung dan telur baladonya Saya melihat perubahan diraut mukanya. 

    Lalu Saya memberanikan bertanya kepada suami. " Enak ga masakannya?" Saya deg-deg an melebihi menghadapi ujian skripsi. Lalu suami bertanya  kepada Saya, " dek, tadi pas masak dicicipin ga?" Lalu Saya mengingat-ingat kembali proses memasak yang Saya lakukan. Astaghfirullah Saya lupa mencicipi masakan yang Saya buat. Langsung Saya ambil tumisan kangkung dan sambal baladonya. Ternyata tumisan kangkungnya tidak ada rasanya dan telur balado rasanya asin sekali. Tapi walau rasanya yang amburadul begitu, Suami tetap menghabiskan makan siangnya. 

      Saya langsung meminta maaf kepada suami dan berjanji akan belajar memasak lagi. Suami berkata " Memasak itu soal jam terbang, ala bisa karena biasa, Insyaallah nanti adik bisa memasak masakan yang lezat buat Aa, asal kalau dikasih masukan mau menerima ya jangan ngambek" begitu kira-kira motivasi Suami.

        Lalu Saya berusaha memperbaiki diri, Saya mulai membeli buku resep-resep masakan. Walau kadang yang dimasak tidak jauh dari telur, bayam, kangkung. Akan tetapi lama kelamaan rasanya sudah lumayan. 

      Keinginan untuk menghadirkan masakan yang lezat untuk suami membuat Saya akhirnya sering mempraktekkan resep yang Saya baca. Saya pernah mendengar bahwa cinta itu datang lewat perut. Makanya Saya selalu berusaha memberikan masakan dengan penuh cinta. Walau sering gagal akan tetapi karena suami selalu mendukung dan memberikan saran serta kritik yang membangun. 

   Sekarang pun walau telah mencoba memasak berbagai masakan tidak membuat Saya berhenti belajar. Karena rumah tangga adalah sekolah seumur hidup. Tempat Saya menempa diri lebih baik, tempat Saya belajar dan berproses menjadi pribadi, istri dan seorang ibu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF