KLIP september 2021
Wesel dari Pak Pos
Aku tukang pos
rajin sekali
Surat kubawa naik sepeda
siapa saja aku layani
tidak kupilih
miskin dan kaya
Kring ... kring ... pos!
Penggalan lagu tersebut membuat kenangan masa kecilku tentang pak pos teringat lagi. Setelah ceritaku sebelumnya tentang pengalamanku mengirimkan surat kepada sepupuku yang berada di Jakarta. Kali ini aku akan bercerita lainnya yang berhubungan dengan pak pos.
Waktu kecil aku suka sekali menggambar dan mewarnai. Sehingga setiap ada kolom mewarnai di majalah anak-anak, aku warnai dengan warna kesukaanku. Walau tidak seperti anak zaman sekarang yang bisa mewarnai dengan gradasi yang bagus. Tapi lumayanlah, beberapa kali aku ikut lomba 17an di kampung kelahiranku. Aku mendapat juara, walau bukan juara satu tapi aku bangga.
Suatu hari di majalah anak-anak tersebut ada kolom hasil karya menggambar. Lalu apabila hasil karyanya dipilih maka akan dimuat di kolom hasil karya dan mendapatkan uang tunai. Aku sih dulu tidak peduli dengan hadiah yang didapatkan. Aku hanya ingin karyaku bisa tampil di majalah tersebut.
Aku pun mulai menggambar sesuai dengan tema yang ditentukan. Yaitu tentang Kemerdekaan Republik Indonesia. Aku menggambar keadaan anak-anak yang sedang berlomba balap karung dan panjat pinang. Suasana yang aku gambar ialah suasana perkotaan, dimana anak-anak mengikuti dan memeriahkan Kemerdekaan Republik Indonesia diantara gedung-gedung yang bertingkat yang mengelilingi perkampungan mereka.
Setelah selesai menggambar dan mewarnai. Aku pun minta tolong ayahku untuk mengirimkannya ke kantor pos. Sambil memasukkan kertas gambarku itu, aku berdoa kepada Allah SWT agar hasil karyaku bisa terpilih dan tampil di majalah yang aku tuju.
Bulan pun berganti. Datanglah majalah tersebut ke rumah ku. Karena dulu ayah memang membayarkan untuk berlangganan majalah itu. Majalah Aku Anak Saleh namanya. Cepat-cepat kubuka halamannya. Ternyata hasil karyaku tidak ada di majalah itu. Aku sedikit kecewa, tapi ibuku langsung menghiburku. " Tidak apa-apa, namanya mencoba, soal ditampilkan atau tidak di majalah ya bukan masalah. Ayo lekas makan pempek tuh Ibu sudah siapkan untuk Ayuk." Begitu ujar ibuku.
Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Aku sudah tidak mengingat lagi keinginanku agar karyaku tampil di majalah. Sampai pada suatu hari, Ayahku memberitahukan kalau ada karya dan namaku di majalah itu. Huaaa senangnya hatiku.
Beberapa minggu kemudian datanglah pak pos menghampiri rumah kami. Pak pos yang waktu itu memakai sepeda dengan kantong besar di belakang sepedanya memberikan sepucuk kertas wesel kepada ibuku. Lalu ibuku memberikan kertas itu kepadaku. " Selamat ya, Yuk. Ayuk mendapatkan uang dari majalah yang kemarin kita baca ".
Aku bingung bagaimana mungkin selembar kertas itu bisa bernilai uang. Lalu ibuku menjelaskan kertas wesel itu bisa ditukar dengan uang. Akhirnya kami pun ke kantor pos bersama-sama. Sayangnya aku tidak ingat berapa jumlah uang yang kudapatkan dari wesel yang dikirim oleh majalah tersebut. Kami menunggu cukup lama agar uangnya cair. Aku juga lupa, dulu apa ya yang kulakukan di dalam kantor pos sambil menunggu uang tersebut cair?
Setelah uangnya cair kami tidak langsung pulang. Aku diajak ibuku ke pasar terdekat untuk membeli kerudung untuk aku mengaji di sore hari. Aku sangat senang sekali, karena ibuku berkata aku bisa membeli kerudung itu dengan hasil keringatku sendiri. Kami juga mampir ke warung pempek langganan dengan uang dari wesel yang kudapatkan. Lalu ibu memberitahukan kalau sebagian uang ditabung untukku.
Sejak itu aku selalu gembira bila pak pos menghampiri rumahku. Karena kenangan aku diberi selembar wesel dari pak pos dan aku dibelikan kerudung cantik oleh ibu dari uang tersebut. Terima kasih pak pos yang telah mewarnai masa kecilku.
Komentar
Posting Komentar