Cita-cita Yang Kuimpikan
Cita- cita Yang Kuimpikan
Tiap anak kecil pasti memiliki cita-cita tak terkecuali saya. Dari kecil saya ingin sekali menjadi guru. Waktu itu saya dalah murid di sebuah taman kanak-kanak di Palembang. Entah mengapa rasanya ingin sekali menjadi guru, mungkin saya melihat guru TK saya saat itu sangat ramah dan sabar Akhirnya memang ada keinginan untuk menjadi guru.
Ketika di bangku sekolah dasar, keinginan saya menjadi guru agak berkurang karena saya menemukan guru walikelas yang tidak ramah dan pemarah. Tak jarang saya sering dapat pukulan dengan penggaris kayu di betis saya. Memang salah saya sih karena tidak hafal perkalian pada saat itu.
Lalu di bangku sekolah menengah pertama, saya mulai belajar bahasa Inggris. Saya sangat suka dengan cara gurunya mengajar. Lalu saya pun bercita-cita ingin menjadi guru bahasa Inggris. Saya yang tadinya tidak suka dengan pelajaran bahasa Inggris jadi suka karena cara bapaknya mengajar membuat saya mengerti dengan pelajarannya. Nama beliau adalah Pak Suhaimi. Pak Suhai begitu kami panggil, orangnya sangat tegas. Bila kita telat masuk pelajaran beliau siiap-siap saja belajar di luar.
Suatu hari pada pelajaran beliau, saya harus ke toilet. Sayangnya karena tidak tahan saya tidak izin dulu. Jadi ketika bapaknya masuk kelas otomatis saya terlambat dan tidak bisa masuk ke kelas. Saat itu saya tidak marah sama sekali, karena saya tahu itu kesalahan saya. Selanjutnya saya tetap mengikuti pelajaran beliau dari jendela. Saya mengambil kursi dan tetap duduk di luar.
Selanjutnya di bangku sekolah menengah atas saya ikut kursus bahasa Inggris yang terkenal di kota saya. Walau bayaran kursus itu 10 kali lipat dengan bayaran sekolah saya saat itu saya tetap saja ikutan kursus. Kadang saya mengajar privat ke anak-anak tetangga saya agar saya bisa membantu papa membayar kursus. Selain itu di sekolah ada program little teacher. Suatu program setiap hari Jum’at di sekolah untuk menambah kemampuan Bahasa Inggris, lalu direkrutlah murid-murid yang bisa berbahasa Inggris.
Waktu itu saya hanya ikut-ikutan teman-teman saja karena yang mendaftar program little teacher itu lumayan banyak, dari kelas satu sampai kelas tiga. Setelah tes tertulis juga ada wawancara. Padahal kami tidak diberi gaji loh hanya diberi sertifikat saja. Tapi program itu tuh suatu kebanggan bagi kami yang diterima menjadi little teacher.
Sayangnya ketika kuliah, malah jurusan Agribisnis yang membuat saya diterima menjadi mahasiswi di salah satu Universitas negeri di Palembang. Saya salah strategi malah jurusan Ilmu Pendidikan saya letakkan di urutan kedua dan ketiga. Antara senang dan menyesal, karena saya ingin sekali menjadi guru. Saya piker kalau saya berkuliah di jurusan Agribisnis saya tidak bisa menjadi guru.
Tapi takdir berkata lain, setelah lulus kuliah, saya malah kesulitan menemukan pekerjaan yang cocok dengan jurusan saya ini. Kebanyakan dari alumni Agribisnis memiliki karir di bidang perbankan. Saya merasa itu bukan passion saya. Akhirnya dengan modal sertifikat kursus yang saya dapat waktu SMA dahulu saya mencoba melamar menjadi guru bahasa Inggris.
Setelah melalui beberapa tahapan akhirnya saya diterima di salah satu sekolah swasta di Bekasi. Saya sangat senang sekali karena tentu saja tidak lama menjadi seorang pengangguran. Ternyata cita-cita saya dari kecil ingin menjadi guru akhirnya tercapai. Sayangnya hanya satu tahun saya mengajar di sekolah itu, karena saya keburu dilamar oleh seseorang.
Sekarang saya adalah guru bagi anak-anak saya. Sejatinya seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya sehingga cita-cita saya sebagai guru tetap bisa saya terapkan kepada anak-anak. Terima kasih untuk semua guru yang telah mengajar saya dari taman kanak – kanak hingga kuliah. Sehingga saya bisa menjadi seorang ibu yang membersamai anak di rumah.
Komentar
Posting Komentar