KLIP setoran ke-3 bulan Agustus 2021
Ia Bernama Anosmia
Seperti yang kuceritakan sebelumnya, setelah tujuh hari aku mengalami demam dan meriang. Seketika aku tidak bisa mencium bau atau dengan kata lain indra penciumanku sama sekali tidak berfungsi dengan baik.
Anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau. Kondisi ini juga dapat menghilangkan kemampuan penderitanya untuk merasakan makanan.
Kehilangan kemampuan indera penciuman atau anosmia dapat mempengaruhi hidup seseorang. Selain tidak bisa mencium bebauan dan merasakan makanan, kondisi ini dapat memicu hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, malnutrisi, hingga depresi.
Ya, namanya anosmia. Makan terasa tidak sedap bila kita tidak bisa merasakan aroma makanan tersebut. Apalagi biasanya setiap hari saya selalu mencium aroma tubuh bayi saya. Setelah terkena anosmia otomatis saya tidak bisa merasakan bau apapun.
Ada beberapa cara yang diajarkan oleh dokter maupun dari beberapa artikel untuk melatih indra penciuman agar kembali, diantaranya dengan cara :
Mencium dengan aroma-aroma yang kuat seperti kopi, kulit jeruk, minyak kayu putih selama 20 detik secara berulang.
Meneteskan minyak jarak setiap lubang hidung dua kali sehari setiap sebelum tidur dan setelah bangun tidur.
Menggunakan jahe dengan cara diseduh dengan air panas.
Membilas hidung dengan air garam non yodium.
Meminum ramuan bawang putih yang ditambah garam yang direbus selama dua menit.
Mencampur cabai dengan madu dalam secangkir air.
Meminum air rebusan daun mint sebanyak 3-5 lembar yang dicampur dengan satu sendok madu
Mencium minyak esensial yang berbeda selama 40 detik sebanyak dua atau tiga hari sekali.
Sumber : detikcom
Awalnya aku tidak menyadari bila indra penciumanku terganggu. Ketika malam senin tanggal 26 Agustus 2021 aku kebetulan memasak rendang dari jatah daging kurban idul adha kemarin. Kebetulan sudah tinggal 1 bungkus. Akhirnya dengan keadaan yang waktu itu batuk pilek. Aku pun mulai meracik bumbu-bumbu rendang. Selama memasak tentu saja aku memakai masker medis.
Selama menumis bumbu rendang, setelah beberapa menit, sama sekali aku tidak bisa membaui bumbu rendang yang telah ditumis. Kupikir mungkin karena hidungku tersumbat maka aku tidak bisa mencium aroma bumbunya. Hingga untuk memastikan bumbu rendang sudah masak atau belum, aku bertanya kepada anak keduaku apakah bumbu yang bunda tumis sudah mengeluarkan bau harum. Lalu dijawab anakku : " iya bun sudah harum bumbunya".
Akhirnya aku meneruskan saja memasak rendang selama 2 jam lebih. Karena sama sekali aku tidak bisa membaui rendang yang telah masak. Aku pun memasak rendang hanya memakai perasaan saja. Alhamdulillah rendangnya jadi juga. Perasaanku mulai tidak enak. Biasanya juga kalau flu biasa aku masih bisa mencium bau. Tapi mengapa sekarang sama sekali tidak bisa mencium bau rendang yang biasanya lezat.
Waktu sudah menunjukkan Pukul 21.00 WITA dan setelah masak, aku merasa kelaparan. Aku pun makan nasi hangat dan sepotong daging rendang. Rendang yang biasanya terasa lezat dan sedap kurasakan ada yang berbeda. Malam itu rendang hanya terasa asin dan asin. Tidak ada rasa gurih atau pun manis. Aku hanya diam tidak memberitahukan kepada suami apa yang aku rasakan. Aku berharap keesokan pagi, indra penciumanku akan pulih sedia kala.
Pagi hari tiba dan ternyata aku tidak bisa mencium bau anak bayiku. Bau khasnya dipagi hari dan bau khasnya setelah mandi sama sekali tidak bisa kurasakan. Aku tetap menenangkan diri. Aku pun mandi tetapi lagi-lagi semua bau tidak dapat kurasakan. Bau odol, bau sabun bahkan bau kamar mandi pun tidak dapat tercium sama sekali. Setelah mandi aku yang biasa membalurkan minyak kayu putih ke bahu ku pun tidak dapat kurasakan baunya.
Biasanya aku mendengar anosmia itu terjadi kepada teman-temanku yang sedang isolasi mandiri karena terkonformasi covid 19. Apakah aku juga terkonfirmasi positif? Pertanyaan itu kutanyakan didalam hati. Hingga di sore hari ketika suamiku pulang kerja. Aku memberi tahukan bahwa seharian aku tidam dapat mencium bau apapun. Ingin ku menangis tapi kutahan. Aku tidak mau anak-anak melihat keadaanku yang menangis.
Setelah bercerita kepada suamiku apa yang aku alami seharian. Akhirnya suamiku melaporkan apa yang aku alami ke dokter klinik di kantornya. Kami pun dijadwalkan swab antigen keesokan harinya pada hari selasa setelah dzuhur.
Lalu teman-teman pasti tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?Kami menuju klinik kantor untuk di swab antigen. Ternyata hasilnya positif. Untuk lebih yakin lagi, kami swab PCR dan hasilnya positif.
Bagaimana isolasi mandiri kami sekeluarga? Apakah ada kendala? Apakah aman-aman saja? Nantikan cerita selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar