KLiP setoran ke-2 bln Agustus 2021
Aku Terkonfirmasi Positif Covid-19
Menyambung cerita sebelumnya tetang awalnya virus wuhan datang. Kali ini aku akan bercerita kejadian selanjutnya. Jadi setelah 7 hari setelah demam dan meriang melandaku. Tiba-tiba aku merasa ada yang salah dengan penciumanku.
Awalnya aku cuek karena kupikir mungkin karena aku flu jadi penciumanku tertanggu. Tapi rasanya ada yang beda. Dimalam senin ketika aku memasak rendang. Sama sekali aku tidak bisa mencium aroma bumbu rendang. Sampai-sampai aku bertanya kepada anak keduaku. " Bang, ini sudah harum lah bumbunya?" Lalu dijawab abang iyaz " Iya bun, sudah harum bumbunya". Lalu aku melanjutkan memasak. Dari awal sampai akhirnya rendang masak, sama sekali aku tidak bisa membauinya.
Aku masih tenang-tenang saja dan berfikir positif bahwa aku baik-baik saja. Sampai akhirnya seharian di hari senin tanggal 26 Agustus 2021 sama sekali aku merasakan indera penciumanku tidak berfungsi dengan baik. Tadinya apa yang kualami ini akan kusimpan sendiri. Tapi aku takut kalau aku benar-benar terkonfirmasi positif dan tidak mendapatkan perawatan dengan benar, maka akan berbahaya bagi diriku bahkan keluargaku. Akhirnya aku memberi tahu suami dan menjelaskan bahwa indera penciumanku sudah tidak berfungsi dengan baik. Lalu suami pun menghubungi dokter di klinik kantornya dan meminta untuk di swab antigen di hari selasa.
Keesokan harinya, hari selasa tanggal 27 Agustus 2021. Kegiatan sekolah online anak-anak berjalan seperti biasa. Lalu kami meminta izin kepada anak-anak untuk mengecek kondisi bundanya. Alhamdulillah anak-anak yg sholih dan sholihah mengerti keadaan kami dan bersedia untuk ditinggal di rumah hanya bertiga saja. Yaitu aa kyo, abang iyaz dan kakak hana. Sedangkan adik omar bunda bawa karena masih bayi.
Sesampainya di kantor suami, kami pun tes swab antigen. Pertama kali suamiku yang di tes. Dari jauh terlihat ngilu sekali. Beneran aku takut ketika hidungku di colok begitu. Setahun yang lalu aku pernah merasakannya. Itu pun gara-gara aku reaktif ketika di rapid tes, akhirnya di swab pcr. Nah sekarang aku harus mengalami lagi tes yang seperti ini.
Ketika giliranku tiba, aku mendekati petugas dan perawat memberitahukan bahwa suamiku positif. Aku sudah menguat-nguatkan diriku, apapun hasilnya aku pasrah. Kalau suamiku positif, pasti aku juga positif, karena kami memang memiliki kontak erat setiap hari. Lalu bu dokter pun mulai memasulkan alat swab ke hidungku. Rasanya seperti kemasukan air ketika berada di kolam renang. Tidak lama hasilnya keluar dan ternyata dari tes swab antigen hasilku positif.
Untuk memastikan lagi walau kemungkinan besar kami terkonfirmasi positif, suamiku langsung menuju laboratorium yang bekerja sama dengan kantor suamiku. Kami akan melakukan tes swab PCR. Kami menunggu agak lama karena memang banyak orang yang butuh tes swab PCR untuk perjalanan dinas atau ke luar kota. Setelah 30 menit menunggu. Tibalah giliranku.
Lagi-lagi aku harus menguatkan hati dan harus berani. Duh memang tidak nyaman hidung di colok-colok. Akan tetapi demi meyakinkan lagi dan agar kami dapat diobatibdengan tepat, saya pun pasrah. Awalnya lubang hidung kanan. Lalu petugas izin kepadaku untuk membuka mulut dan mengambil cairan dari tenggorokan. Tentu saja aku menolak, aku sangat sensitif sekali bila ada sesuatu yang masuk ke tenggorokan. Lalu petugas pun memaklumi dan akhirnya mengambil cairan di lubang hidung sebelah kiri.
Kami pun pulang ke rumah lalu memberi tahukan kepada anak-anak tentang kondisi kami berdua yag positif co-19. Hana terpaksa ikut tidur bersama aa dan abang sedangkan omar mau tidak mau harus bersama saya karena masih ASI.
Di sore hari datanglah obat-obatan dan vitamin untuk saya dan suami. Ada juga beras dan minyak sayur. Tidak lama kemudian menyebarlah berita tentang saya dan suami yang positif covid 19 di WAG kantor suami. Semuanya mensupport dan satu per satu datang bantuan. Lalu kami dimasukkan di WAG khusus pegawai yang isoman agar bisa dipantau oleh dokter.
Selanjutnya di hari rabu, 28 Agustus 2021 giliran anak-anak yang di swab antigen. Hal ini dilakukan karena kami kuatir anak-anak ikut terkonfirmasi positif juga. Dari rumah saya berdoa agar hasil swab antigrn anak2 bagus. Ternyata saya sedih, anak pertama saya, aa kyo terkonfirmasi positif covid 19.
Sesampainya suami dan anak-anak di rumah. Anak-anak cerita tentang tes swab antigen tersebut. Mereka bilang tidak sakit, rasanya memang benar kata ayah, seperti kemasukan air ketika berenang. Tidak lama kemudian kami menjelaskan kepada anak-anak. Bahwa aa kyo harus sekamar dengan ayah bunda dan adik omar. Karena terkonfirmasi positif.
Awalnya aa kyo agak 'denial' begitu, mengapa aku positif? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Lalu kami jelaskan bahwa sudah qadarullah, sudah ketetapan Allah. Kita jalani dan kita berobat serta makan yang teratur. Supaya segera pulih.
Lalu kami menjelaskan tentamg isolasi mandiri atau isoman. Biasanya setiap sore anak-anak bermain di luar rumah. Maka mulai hari rabu, sampai nanti masa isoman selelsai. Kita sekeluarga tidak boleh ke luar rumah. Kecuali mau berjemur boleh saja di depan rumah. Lalu mengajak anak-anak untuk memakai masker kecuali makan dan mandi. Selain itu menjelaskan kepada iyaz dan hana untuk menjaga jarak dengan kami yang positif ini.
Alhamdulillah anak-anak mengerti dengan keadaan yang kami alami bersama. Selanjutnya kami juga mendapat beberapa artikel tentang isoman dan cara melatih indera penciuman.
Bagaimana cerita selama kami isoman? Besok-besok ya saya tulis lagi kegiatan kami selama isoman. Terima kasih semoga apa yang kami hadapi ini bisa menjadi pembelajaran untuk teman-teman semua. Berikut panduan isoman yang kami dapatkan dari dokter.


Komentar
Posting Komentar