Klip juni 2021, hari kesepuluh






 Saya dan Memasak




Saya menikah dengan suami di tahun 2007 tepat setelah dua tahun lulus dari bangku kuliah. Selama enam bulan pertama pernikahan kami tinggal jarak jauh atau lebih kekiniannya dengan istilah Long Distance Marriage (LDM). Selama enam bulan itu kami hidup terpisah, saya tinggal di bekasi dan suami tinggal di bandar lampung. 


Selama enam bulan pernikahan kami, suami dua minggu sekali datang ke bekasi. Kadang ia datang pada pukul 03.00 dini hari di hari sabtu karena biasanya ia berangkat sepulang kerja di hari jumat. Waktu itu terasa manis sekali ada rasa rindu yang membuncah setiap kami bertemu. 


Sayangnya suami saya belum menyadari kalau saya tidak bisa memasak. Karena di kontrakan saya memang tidak memiliki alat-alat masak. Hanya ada penanak nasi dan beberapa peralatan makan. Jadi biasanya kalau suami datang ke kontrakan, kami beli lauk pauknya saja atau makan di luar, kadang juga kami nebeng makan di rumah tante yang tidak jauh dari rumah.


Setelah saya berhenti dari mengajar di salah satu SMP swasta di bekasi. Lalu saya pun ikut bersama suami tinggal di bandar lampung. Kami mengontrak di bangsalan alias bedengan empat pintu. 


Sebagai seorang istri yang baru saja berhenti dari bekerja di ranah publik dan berdiam di rumah saja. Membuat saya sering kali bosan. Apalagi sudah enam bulan pernikahan kami, belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Akhirnya setiap hari saya lewatkan dengan berkeliling kota bandar lampung dengan menggunakan angkot. 


Perabot dapur di rumah kontrakan juga belum terlalu banyak. Saya belum bisa terjun memasak di dapur karena memang suami belum membelikan kompor dan peralatan dapur lainnya. Akhirnya kami hanya memasak nasi dan membeli lauk pauk dari warung. Kadang memasak mie instan pun memakai panci listrik. Benar-benar minimalis. 


Ketika suami libur kerja di hari sabtu, maka saya pun mengajak suami untuk membelikan peralatan dan bahan-bahan memasak. Belanja memang kesukaan saya, rasanya berbinar-binar bila membeli barang-barang rumah tangga yang saya mau. 


Suatu hari saya ingin memasak makan siang untuk suami. Rencananya saya akan memasak tumis kangkung dan telur balado. Semua bahan sudah ada dan saya menyiangi sayurnya. 

 

Setelah menumis kangkung yang entah apa rasanya. Saya melanjutkan membuat telur balado. Akan tetapi saya bingung, seumur hidup dari gadis sampai menikah saya belum pernah memasak telur rebus. Saya bingung, bagaimanakan ciri telurnya itu masak?tahun 2008 dulu hp belum android dan akses internet terbatas. Meskipun sudah ada cookpad dulu, tapi saya memang belum kenal dengan mencari resep di internet. Akhirnya saya menelepon suami, saya menanyakan ciri-ciri telur rebus yang sudah masak. Untungnya suami sangat baik dan tidak menertawakan saya ditelepon. Akhirnya saya pun bisa merebus telur dan membuat telur balado. 


Kemampuan memasak saya semakin terlatih karena saya rajin membaca dan mempraktekkan resep. Intinya semakin jarang kami membeli lauk masak di luar. Kecuali untuk masakan tertentu kadang kami masih membelinya. 


Sekarang kami sudah melalui 14 tahun pernikahan. Sudah banyak resep masakan yang saya coba masak. Setiap kami pindah pun tak jarang saya mencoba memasak masakan khas daerah yang kami tempati. Misal ketika kami tinggal di gorontalo, saya sudah memasak ikan garo rica, woku ikan, woku ayam, ikan asam, poki-poki santan dan lain-lain. 


Begitu pula bila lebaran tiba. Saya tidak lupa memasak hidangan lebaran seperti rendang, opor ayam, sambal goreng kentang, sambal hati dan lain-lain. Sekarang memasak bukan hanya kebutuhan tapi juga menjadi kegemaran saya. Sampai-sampai saya kepikiran untuk punya usaha di bidang kuliner. Ah menghayal dulu tidak mengapa bukan? Siapa tau menjadi kenyataan.  






Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF