Klip juni 2021, hari kesembilan
Anak kedua ku
Dari keempat anak yang kumiliki, rasanya hanya anak yang ke dua yang jarang ku ceritakan. Kalau diingat-ingat dari masa batita, balita hingga sekarang ia berumur 9 tahun. Ia selalu menjadi anak yang manis.
Ia satu-satunya anak yang didampingi ayahnya ketika dilahirkan. Karena sewaktu anak pertama lahir, ayahnya berada diluar kota. Sedangkan anak ketiga dan keempat dilahirkan dengan proses operasi sehingga otomatis ayah tidak bisa langsung mendampingi.
Masa menyusui setelah ia lahir pun terbilang lebih mudah dari anak pertama, ketiga dan keempat. Setelah lahir, air susu saya langsung deras sehingga selama pemulihan di rumah sakit pun bayi keduaku tidak rewel.
Melewati masa makan pertama kali pun mudah sekali. Mungkin karena saya telah berpengalaman sebelumnya sehingga saya dengan senang hati bisa memasakkan makanan tambahan untuk si nomor dua. Oya namanya Muhammad Gentza Abyaz, nama panggilannya iyaz.
Pada umur tujuh bulan, untuk pertama kalinya kami membawanya naik pesawat bersama kakaknya yang kala itu berumur 2 tahun lebih karena kami pindah ke gorontalo. Pun di dalam pesawat alhamdulillah mereka bisa diajak bekerja sama. Karena itu bukan hanya penerbangan pertama mereka. Waktu itu adalah penerbangan pertama juga yang saya alami.
Sejak kecil ia senang sekali bermain mobilan. Khususnya hotwheel, untungnya tidak setiap ke supermarket ia merengek minta dibelikan mainan tersebut. Bila saya ingatkan mainannya masih banyak di rumah, ia pun mengerti dan tidak marah-marah.
Setelah ia berumur 2 tahun dan sudah waktunya menyapih. Saya melalukannya dengan lancar. Saya hanya memberikan pengertian kepada iyaz bahwa ia sudah dua tahun, dan sudah waktunya untuk berpisah dengan susu bunda. Iyaz pun mengerti dan langsung makan seperti biasa. Lauk yang ia sukai waktu itu adalah tempe goreng.
Iyaz banyak menghabiskan waktunya di sekolah bersama kakaknya. Karena ketika si kakak berumur 4 tahun dan bersekolah taman kanak-kanak harus saya tunggui di sekolah. Otomatis iyaz pun ikut menunggu di sekolah.
Akhirnya pada umur 2,5 tahun langsung saya masukkan PAUD di sekolah itu. Lalu lanjut lagi PAUD sampai umurnya 4 tahun. Di umur 4 tahun lebih ia memasuki TK A. Selama di TK A iyaz sudah sangat mandiri. Ia bahkan bisa ke toilet sendiri. Saya juga sudah tidak perlu lagi menunggu di sekolah.
Lalu ketika iyaz memasuki usia 5 tahun yaitu di kelas TK B. Ia melanjutkan sekolahnya di sekolah yang baru dan kota yang baru karena ayahnya mutasi. Dari gorontalo dengan sedikit mengenal bahasa daerahnya, iyaz mudah sekali beradaptasi dengan teman-temannya di TK B di Bekasi.
Setelah menamatkan Taman kanak-kanak di Bekasi. Ayahnya pun mendapat SK mutasi kembali. Padahal tadinya iyaz sudah saya daftarkan di sekolah yang sama dengan kakaknya. Mungkin belum jodoh kami untuk lama tinggal di bekasi.
Iyaz yang sudah satu tahun berada di bekasi dan bahasanya sudah seperti anak bekasi banget, harus pindah ke samarinda. Ia pun bersekolah yang sama dengan kakaknya.
Alhamdulillah dari awal masuk iyaz mudah sekali beradaptasi dengan lingkungannya. Ia disukai teman dan guru-guru. Ia sangat manis bersikap dan tanggap di kelas ketika belajar.
Sekarang iyaz sudah naik kelas 4 SD dan berumur 9 tahun. Seperti kakaknya, iyaz sudah sholat 5 waktu tanpa disuruh-suruh lagi. Ia juga sudah bisa menamatkan puasa ramadhan selama 30 hari. Dan kemarin ketika ia berulang tahun ia tidak meminta kado apapun.
Di umur 9 tahun ini ia telah memiliki dua orang adik. Semakin ia memiliki tanggung jawab di rumah. Ia tahu tugasnya menyapu lantai yang terlihat kotor. Ia pun bekerja sama dengan kakaknya mengangkat jemuran bila hujan akan tiba.
Tetaplah menjadi anak baiknya bunda. Anak yang ceria, rajin sholat, rajin mengaji, rajin belajar dan ringan tangan melakukan tugas rumah. I love you anak keduaku.

Komentar
Posting Komentar