Klip juni 2021, hari keenam
Hidangan Lebaran Ala Perantau
Sejak menikah dengan suami 14 tahun yang lalu. Otomatis saya keluar dari rumah orang tua karena pekerjaan suami yang selalu berpindah tempat. Hidup merantau ke beberapa daerah di indonesia otomatis mengenal aneka kuliner yang ada pada daerah tersebut. Akan tetapi tetap saja bila lebaran tiba, saya rindu masakan almarhumah mama.
Ketika saya tinggal di bandar lampung tentu saja saya bisa dengan leluasa bolak balik pulang ke rumah mama. Begitupun bila lebaran tiba, saya biasanya pulang ke palembang. Ada sih beberapa tahun ketika lebaran saya tidak pulang karena keadaan saya pasca melahirkan.
Walaupun saya tidak pulang ke rumah, biasanya mama mengirimkan rendang buatan mama lewat travel atau paket. Sungguh kemudahan yang saya dapatkan ketika tinggal di bandar lampung membuat saya terlena dan tidak berusaha belajar memasak hidangan lebaran.
Beda lagi ceritanya ketika saya tinggal di Gorontalo tahun 2013 - 2017. Keinginan saya untuk dikirimkan rendang buatan mama menjadi sirna karena jarak yang jauh antara Palembang - Gorontalo membuat mama tidak bisa mengirimkan rendang kepada saya.
Akhirnya saya nekad ketika saya tidak bisa mudik lebaran dikarenakan pasca melahirkan. Saya menelepon mama untuk menanyakan resep rendang yang biasa mama buat. Sayangnya mama tidak pernah mengukur dengan pasti jumlah berapa gram tiap bumbu yang dipakai. Akhirnya mama memberi tahu saya bumbu-bumbu utamanya saja. Mengenai jumlahnya giliran saya disuruh mikir.
Akhirnya sebelum lebaran saya pun mencoba membuat rendang. Karena bumbunya masih kiralogi, akhirnya rendang yang saya buat itu terasa sangat pedas. Alhamdulillah tetap dimakan suami tapi sayangnya anak-anak tidak bisa menikmati. Lalu saya pun mencoba lagi dengan mengurangi jumlah cabai keriting yang saya pakai.
Dengan penuh cinta dan kasih sayang saya berusaha membuat rendang sesuai dengan rendang buatan mama yang tidak bisa saya lupakan. Alhamdulillah percobaan yang kedua berhasil dan suami memuji saya dengan mengatakan bahwa rendang yang saya buat itu mirip dengan buatan mama.
Akhirnya lebaran tiba, lebaran pertama kalinya saya lewatkan di gorontalo bersama keluarga kecil saya. Selain rendang, saya memasak opor ayam, sayur buncis dan sambal hati. Semua hidangan lebaran yang biasa mama sajikan ketika lebaran tiba bisa saya masak. Rasanya tidak percaya loh. Saya yang tadinya tidak bisa memasak alhamdulillah semakin percaya diri memasak hidangan lebaran demi keluarga tercinta. Apalagi suami saya sangat suka dengan masakan mama.
Saya pun mengundang tetangga sekaligus teman terdekat untuk menikmati hidangan lebaran yang saya buat. Alhamdulillah masakan saya diterima dengan baik oleh teman-teman saya. Bahkan mereka dapat mengenang masakan lebaran yang biasa mereka makan di kampung halaman masing-masing. Karena rendang memang bukan masakan khas gorontalo. Selain itu tradisi masak memasak ketika lebaran memang tidak ada di gorontalo. Mereka masak ketika lebaran ketupat alias 7 hari setelah lebaran.
Lain cerita di gorontalo, lain lagi ketika kami sekarang tinggal di samarinda. Sejak lebaran 2020 ketika pandemi awal melanda dunia. Otomatis kami pun tidak bisa mudik. Alhamdulillah kami juga mudah mendapatkan rempah-rempah dan bumbu untuk memasak hidangan khas sumatera.
Begitupun tahun 2021 ini, selain pandemi, keadaan saya pasca melahirkan juga membuat kami tidak bisa pulang kampung. Sejak mama berpulang, saya hanya bisa pulang kampung ke kampung halaman suami di bandung. Lalu biasanya kami lanjut ke kota banjar tempat lahir mertua saya.
Ah rasanya dimanapun kami tinggal. Kami akan tetap melestarikan kuliner lebaran ala palembang dan sumatera di keluarga kami. Hal tersebut kami lakukan supaya anak-anak kami selalu ingat bahwa bundanya ini sedikit berdarah palembang. Sehingga kuliner palembang tetap hadir di keluarga kami bila lebaran tiba.

Komentar
Posting Komentar