Klip mei 2021,h6

 Berjuang atau diam? 



Setiap anak memiliki cerita kelahiran yang berbeda-beda. Saya sudah melahirkan sebanyak empat kali, saya sudah melalui proses pervaginam maupun proses operasi caesar. Pernah juga mengalami kuretase karena dua kali janin dirahim saya tidak berkembang. Semuanya meninggalkan peristiwa yang kadang membuat saya trauma bila akan melahirkan lagi. Tapi ya manusia hanya bisa berusaha, ketika tiba-tiba ada amanah di rahim kita, siapa yang mau menolak. Alhamdulillah masih bisa diberi amanah untuk memiliki anak, walau awalnya bilang trauma tapi mau tidak mau harus dijalani juga.


Alhamdulillah lahirnya anak pertama sampai ketiga saya tidak ada perasaan sedih atau putus asa karena terlalu lelah. Mungkin karena anak pertama dan kedua masih ada mama yang menemani saya di rumah dan merawat saya pasca melahirkan. Selain itu, mama juga memasakkan masakan yang enak-enak sesuai dengan selera saya. Tugas saya hanya menyusui dan mengurus bayi. Sedangkan untuk tugas rumah tangga, suami saya mencarikan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan domestik di rumah. What a wonderful life.


Lalu tibalah dengan keadaan sekarang. Melahirkan anak keempat di tengah pandemi. Pastinya sedikit berbeda keadaannya dengan keadaan sebelum datangnya pandemi. Kebetulan anak keempat ini saya dan suami memutuskan untuk melahirkan anak kami dengan operasi caesar. Hal ini kami lakukan karena keadaan ambeien saya yang semakin parah dan umur saya yang sudah menjelang 40 tahun serta saya memutuskan akan menempuh tubektomi. 


Menghadapi meja operasi untuk yang kedua kalinya bukan perkara yang mudah. Karena saya sudah tahu langkah-langkah operasinya malah hal itu yang membuat saya takut dan ekspresi ketakutan saya diketahui oleh perawat. Salah seorang perawat laki-laki mengingatkan saya untuk berdoa dan berdzikir agar tidak takut menghadapi operasi caesar. Karena saya yang sedang sensi, langsung saja saya jawab : " ga usah dibilangin ini dari tadi sudah doa dan dzikir, namanya takut ya gimana lah, " dan si perawat pun diam. 


Pasca operasi saya di tempatkan di ruang istirahat bersama dengan ibu-ibu pasca caesar lainnya. Ada sekitar 6 ranjang di ruangan itu, dan kami menunggu untuk dibawa ke kamar perawatan sesuai dengan kelas BPJS yang kami miliki. Kebetulan saat itu sedang ramai-ramainya ibu melahirkan, sehingga butuh waktu beberapa jam bagi saya untuk mendapatkan kamar. 


Beberapa jam setelah operasi biusnya mulai hilang dan rasa nyeri mulai terasa. Gerak saya terbatas karena memang sedikit saja bergerak rasa nyerinya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Setelah ujung kaki bisa digerakkan, saya diperbolehkan minum. Itu pun minum dengan perlahan-lahan jangan sampai tersedak. Karena bila tersedak bukan main rasanya. 


Lalu sampailah saya di kamar perawatan. Alhamdulillah lumayan nyaman setelah sebelumnya merasakan panas sekali karena AC di ruang sebelumnya tidak dinyalakan. Tidak lama saya pun belajar untuk miring kiri dan miring kanan. Kemudian saya belajar duduk. Subhanallah sakitnya terasa sekali ketika saya mencoba duduk. Memang harus dipaksakan dan saya tidak boleh malas-malasan. 


Tidak lama kemudian diantarlah bayi saya ke kamar tempat saya beristirahat. Masyaallah bayi laki-laki yang imut dan ganteng sekali. Walau kehadirannya bisa dibilang diluar perkiraan kami. Tapi kami bersyukur mendapatkan amanah yang kesekian kalinya. Tiba-tiba ia menangis, tangisan yang tadinya kecil sekali menjadi kencang sekali karena air susu saya belum keluar. 


Bayangkan dengan keadaan saya yang masih memakai kateter dan masih dipasang infus, saya berusaha duduk dan menyusui bayi saya. Apalagi dengan tangisannya yang semakin menjadi membuat saya lama kelamaan panik dan akhirnya saya ikut menangis. Rasa nyeri bekas jahitan caesar tidak sebanding rasanya dengan tangisan bayi saya yang sudah menangis histeris ingin menyusu. Untungnya suami saya sigap. Ia langsung menggendong bayi kami sehingga lama kelamaan menjadi tenang dan tidak menangis lagi. 


Ketika malam tiba, seperti kebanyakan bayi-bayi yang baru lahir lainnya. Pasti akan selalu bangun dan mencari air susu ibunya. Alhamdulillah infus dan kateter sudah dibuka sehingga saya mulai leluasa menggendong bayi saya. Walau rasa nyeri jangan lagi ditanya. Rasa nyeri itu sudah saya kalahkan dengan keinginan saya agar air susu saya mengalir deras. 


Tengah malam saya berdoa kepada Allah sambil menangis, saya meminta agar air susu saya lancar mengalir sehingga bayi kami tidak menangis lagi. Sambil makan dan minum susu serta asi booster lainnya. Saya tetap menyusui bayi kami walaupun air susu saya belum lancar. 


Entah berapa kali sudah saya menangis meratapi keadaan tersebut. Rasanya saya ingin menyerah dan memberitahukan kepada perawat agar anak saya segera diberi susu formula saja. Saya tidak tahan mendengar tangisannya yang menyayat hati. Keinginan saya untuk memberikan susu formula begitu saja terlontar kepada suami, untungnya suami menolak. Ia tetap memberikan semangat untuk saya agar menyusui langsung dan mengatakan saya pasti bisa melewati ini semua. Saya harus berjuang memberikan air susu walaupun belum lancar. 


Semalaman saya dan suami terjaga, karena tiap jam bayi kami ingin menyusu. Lagi-lagi saya menangis, rasanya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Kondisi yang kurang tidur dan keadaan nyeri pasca caesar benar-benar menguras emosi saya. Lagi-lagi suami menguatkan saya. 


Dua malam saya lewatkan di rumah sakit dengan keadaan terjaga. Kadang menangis lagi kadang sedih lagi. Padahal anak kedua dan ketiga setelah lahiran, air susu saya langsung keluar. Tapi mengapa keadaan sekarang ini seperti keadaan saya ketika melahirkan anak pertama. Asi belum keluar selama dua hari. 


Untungnya suami selalu berada disisi saya dan memberikan dukungannya. Karena dalam keadaan pandemi seperti sekarang, pasien tidak boleh dijenguk orang lain selain keluarga yang menunggui. Walaupun mereka mau menjenguk harus rapid test atau swab antigen terlebih dahulu. 


Hari ketiga akhirnya saya pun diperbolehkan pulang setelah berusaha belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Suami sengaja tidak mengambilkan saya kursi roda agar saya tetap berlatih berjalan supaya bekas jahitan lekas sembuh dan tidak kaku. Perjalanan dari kamar hingga lobby rumah sakit terasa lama sekali. Saya hanya bisa meringis menahan sakit. 


Sesampainya di rumah perasaan rindu kepada ketiga anak lainnya akhirnya terobati. Terus terang saya belum pernah menitipkan anak-anak kepada siapapun kecuali dalam kondisi saya melahirkan. Para kakak menyambut gembira kedatangan bunda dan adik bayi. 


Alhamdulillah sesampai di rumah, air susu saya mulai terisi dan mengalir deras. Mungkin keadaan mood saya semakin baik ketika berada di rumah. Air susu sudah mengalir deras sehingga bayi kami pun tidak rewel. Selama di rumah saya bahagia menikmati peran baru saya sebagai ibu menyusui. Para kakak juga membantu bundanya menyelesaikan pekerjaan domestik di rumah sehingga bunda juga tidak cepat lelah. 


Semoga sehat-sehat selalu jiwa dan raga ini. Sehingga dapat membersamai keempat amanah kami dengan sebaik-baiknya. Terima kasih untuk para kakak yang telah memberikan pijatan dan membantu pekerjaan domestik bunda di rumah. Terima kasih suami yang selalu mendukung dan sabar merawat istrinya ini. Terima kasih telah menjadi tempat curahan hati dan tempat bersandar ketika istrimu sedang berjuang mengalahkan baby blues syndrome. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF