KLIP mei 2021, h4
Lebaran dan Segala Perniknya
Mitos atau fakta sih kalau lebaran itu harus serba baru?sebetulnya tergantung orangnya juga sih. Saya akan menceritakan kebiasaan yang terjadi pada keluarga saya ketika saya kecil. Ada hal-hal yang saya terapkan, ada juga yang tidak. Intinya di keluarga kami lebaran tidak harus selalu baru.
Beda lagi dengan keluarga besar saya di palembang. Dari kecil saya dan adik-adik selalu dibelikan baju baru ketika lebaran. Selain baju, kami yang perempuan juga dibelikan mukena baru, sedangkan adik saya yang laki-laki dibelikan baju koko. Selain baju baru untuk anggota keluarga, mama juga kadang mengganti gorden di rumah dengan gorden terbaru keluaran sinetron-sinetron yang saat itu sedang ramai-ramainya.
Mama juga menata rumah supaya tampak lebih rapi. Sudut-sudut rumah diberi tanaman hiasan agar tampak segar. Selain itu, taplak meja dan sarung bantal untuk kursi pun semuanya baru. Serasi dengan warna kursinya. Kursi jati dengan pahatan bunga cengkeh pun sengaja mama beli untuk menyambut lebaran.
Entah sudah beberapa kali lebaran kami berganti sofa dan kursi. Kadang juga tukar tambah dengan yang baru atau kadang memang dijual murah asal keinginan untuk memiliki kursi baru terwujud. Itulah mama, kami anaknya kadang heran. Apa pentingnya mengganti kursi? Toh masih bisa dipakai. Tapi ketika saya dewasa saya tahu alasan mama melakukan semua itu.
Menjelang dua minggu sebelum lebaran saja mama sudah stok bahan pangan di kulkas. Mulai dari daging sapi, ayam, ikan giling dan semua bumbu-bumbu. Belum lagi stok minuman bersoda dan sirup serta kue-kue kering. Selain kue kering mama juga membuat kue basah beberapa hari sebelum lebaran.
Kue basah ala palembang antara lain lapis legit, maksuba, bolu kojo, kue delapan jam, dodol agar, engkak ketan. Semua nya itu terasa manis. Selain kue-kue basah. Mama juga membuat pempek, tekwan dan pentol bakso. Lemari es dua pintu yang sangat besar itu terasa sempit dengan bahan-bahan makanan yang dibuat untuk menyambut lebaran.
Sehari menjelang lebaran, dari pagi mama sudah sibuk di dapur. Mulai dari memasak ketupat, lalu rendang, opor, sambal hati goreng, sambal kentang dan sayur buncis godog. Semuanya ia kerjakan sendiri. Bahkan bumbunya ia racik seminggu sebelum lebaran. Mama sangat anti sekali membeli bumbu masak yang sudah jadi di pasar. Alasan mama karena bumbu yang dibuat sendiri lebih segar dan tanpa zat macam-macam seperti zat pengawet atau pemutih.
Setelah semua masakan lebaran sudah siap. Sore harinya biasanya saya dan adik-adik mengirimkan masakan tersebut kepada tetangga dan keluarga terdekat kami. Rantang demi rantang kami antarkan. Kadang tak jarang rantang pun diisi kembali dengan lauk pauk buatan tetangga atau keluarga kami. Intinya kami saling bertukar lauk lebaran.
Dulu kami sangat bahagia bila disuruh mama mengantarkan rantang. Karena biasanya kami akan mendapat uang lebaran lebih awal dari para tetangga. Selain uang lebaran kadang kami juga diberi minuman bersoda yang waktu itu sangat istimewa bagi kami.
Mengingat masa kecil kami ketika menghadapi lebaran terasa berbeda memang dengan yang kami ajarkan kepada anak-anak kami. Di keluarga saya sendiri tidak semua hal harus baru. Bahkan saya membeli sofa bekas itupun memang ketika baru pindah, bukan sengaja menjelang lebaran.
Hal yang saya ingatkan kepada anak-anak saya selama ramadhan ialah untuk fokus untuk beribadah. Selain berpuasa, sholat 5 waktu, sholat tarawih dan witir, anak-anak juga memiliki target mengaji. Walau tanpa reward anak-anak alhamdulillah tetap berpuasa full dari subuh sampai magrib.
Kue lebaran memang ada, tapi saya hanya beli secukupnya. Insyaallah hidangan lebaran juga ada tapi saya membuatnya cukup untuk keluarga saya saja. Intinya saya mengambil kebiasaan yang sesuai dengan keluarga saya saja. Karena inti dari berpuasa ialah menahan. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan diri berlaku boros.
Semoga setelah ramadhan kita kembali dalam keadaan yang suci, lebih mawas diri dan mampu menahan segala godaan dalam berbelanja.
Komentar
Posting Komentar