Klip bulan april 2021
Kelahiran anak keempat di masa pandemi
Tiap anak masing-masing memiliki cerita kelahiran yang menarik. Apalagi anak kami keempat, Omar. Ia lahir di tengah-tengah masa pandemi. Ia lahir jauh dari keluarga ayah bundanya. Ia lahir disaat para kakak sudah sangat mandiri untuk di titipkan di tetangga.
Hari itu senin, 5 April 2021 seperti biasa adalah jadwalku ke dokter kandungan. Aku ditemani anak pertama yaitu aa kyoshi. Ia sangat manis sekali, sambil menunggu antrian untuk dipanggil masuk ke ruang praktek dokter, kyoshi memijit-mijit bahu dan tanganku yang saat itu memang terasa linu. Tidak lama kami pun dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Aku pun di usg, perkiraan bbj ialah 3 kg.
Sebelumnya aku dan suami sudah memutuskan kami akan menempuh operasi caesar karena sekalian juga aku akan melakukan tubektomi. Selain itu ada suatu keadaan yang tidak bisa kuceritakan disini yang akhirnya kami pun memutuskan untuk mengambil jalan operasi. Lalu dokter menyarankan malam itu juga aku harus ke rumah sakit untuk dilakukan persiapan operasi keesokan harinya.
Lalu kami pun pulang dan menyiapkan semua kebutuhan di rumah sakit dan kebutuhan anak-anak yang akan kami titipkan kepada tetangga kami yang baik hati yaitu teh desi. Setelah berpamitan dan menitipkan anak-anak, aku dan suami langsung menuju rumah sakit rekomendasi dokter kandunganku.
Pertama kami menuju customer service untuk mendaftar lalu aku diarahkan menuju IGD untuk dilakukan pemeriksaan sehubungan dengan persiapan operasi. Alhamdulillah tekanan darahku normal, lalu aku diambil darah lewat vena dan langsung dipasang jarum infus. Selain itu aku juga di SWAB oleh perawat, bismillah semoga hasilnya negatif. Lalu diperiksa juga detak jantung bayi. Dari sekian pemeriksaan tersebut, yang paling aku takutkan ialah pemeriksaan SWAB, rasanya tidak nyaman dan deg-degan menunggu hasilnya.
Waktu telah menunjukkan Pukul 01.00 dini hari tapi ternyata belum ada juga kamar perawatan yang tersedia untukku. Akhirnya aku diberi tawaran untuk menginap di ruang IGD atau pulang terlebih dahulu dan pagi hari baru datang kembali. Aku pun memilih untuk pulang terlebih dahulu. Dengan terpaksa jarum infus yang sudah terpasang pun dilepas. Kami pun pulang dan beristirahat di rumah.
Subuh-subuh kami bangun dan berangkat ke rumah sakit sekitar Pukul 05.30 WITA. Aku pun kembali ke ruang IGD dan dipasang infus lagi. Sekitar Pukul 06.00 WITA aku dibawa menuju ruang operasi, namun sayangnya suami tidak dapat menemani. Karena suami harus tes antigen terlebih dahulu dan lab nya baru dibuka Pukul 09.00 WITA.
Akhirnya aku dibawa dokter jaga di IGD menuju ruang operasi dengan menggunakan kursi roda. Lalu aku disuruh mengganti bajuku dengan baju operasi. Yang sudah pernah operasi caesar pasti taulah ya baju operasi ini bentuknya bagaimana. Tak lama aku dibawa ke kamar operasi.
Ini adalah operasi caesar yang kedua yang aku lalui, namun terasa lebih mencemaskan. Entah kenapa, sampai-sampai perawat tahu kalau aku merasa cemas. Setelah berada di meja operasi, tanganku direntangkan kanan dan kiri, sebelah kiri tangan yang tertusuk infus dan sebelah kanan tanganku dipasang alat mengukur oksigen. Lalu dokter anestesi mulai beraksi selanjutnya aku disuruh duduk untuk disuntik bagian tulang belakang. Dokter melakukan pembiusan epidural sehingga area perut ke bawah menjadi mati rasa. Selanjutnya dipasang alat kateter yang mengontrol air kemih selama berlangsungnya operasi.
Perawat memasang tirai pembatas sehingga aku tidak akan bisa melihat bagaimana perut disayat. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar aba-aba dokter memulai operasi. Setelah dibius itu aku memang tidak merasakan sakit, akan tetapi aku bisa menebak-nebak ketika pisau bedah mulai menari-nari diatas perutku. Selama proses operasi caesar tersebut aku masih merasa sadar, aku bisa mendengar dokter dan perawat sedang berbincang-bincang.
Tidak lama kemudian terasa perutku seperti ditarik dan terdengarlah suara tangisan bayi. Masyaallah aku melihat bayiku telah digendong perawat dan diukur berat badan, panjang bayi, lingkaran kepala bayi, dan lain-lain. Lalu bayiku diletakkan diatas dadaku, karena aku berpesan kepada dokter agar bayiku bisa mendapatkan ASI pertamanya terlebih dahulu. Setelah cukup, bayiku selanjutnya dibersihkan dan diantar ke kamar bayi. Sedangkan dokter melanjutkan operasi lainnya yaitu tubektomi.
Setelah semuanya selesai, tubuhku dibersihkan oleh perawat. Pukul 08.30 WITA aku dibawa ke kamar pemulihan kamar yang terdiri dari 7 buah ranjang pasien dan semuanya adalah para ibu-ibu seperjuangan caesar. Di kamar itu aku belum bisa menggerakkan kakiku. Kira-kira Pukul 10.00 WITA aku sudah bisa menggerakkan kakiku dan aku diperbolehkan untuk minum. Minum dengan perlahan-lahan karena bila tersedak maka akan terasa nyeri sekali bagian perutku.
Cukup lama aku berada di kamar pemulihan tersebut, tentu saja dengan masker yang terus aku pakai dari sebelum operasi hingga selesai operasi. Kadang aku berbincang dengan ibu-ibu yang berada di kamar itu. Kami mengobrol walau kami tidak tahu rupa wajah masing-masing karena kami menggunakan masker. Akhirnya sekitar pukul 13.00 WITA aku pun berhasil mendapatkan kamar. Memang butuh perjuangan untuk mendapatkan kamar yang sesuai dengan kelas BPJS yang kami miliki yaitu kelas 1.
Sekian cerita kelahiran anak keempat di masa pandemi ini. Banyak hal yang berbeda bila dibandingkan ketika melahirkan disaat sebelum pandemi.
Komentar
Posting Komentar