ZONA 7 DAY 7 : PENDIDIKAN SEKSUALITAS PADA ANAK USIA DINI
Topik 2
: Pendidikan Seksualitas Pada Anak Usia Dini
Kelompok
7 : Batam, Bontara, Cianjur, Cirebon Raya
Live
hari kedua ini kami menyimak kelompok yang terpilih yaitu kelompok 7 yang
merupakan gabungan regional Cianjur dan
Cirebon Raya, Bontara, Batam atau disingkat oleh mereka Cici Boba. Bertindak
sebagai host ialah Nur Karimah, lalu dengan narasumber lainnya yaitu Wati Uji,
Miranti, Romiyatul, dan Aliftah. Presentasi yang disampaikan sesuai materi akan
tetapi kadang suara tidak jelas yah dikarenakan sinyal, karena para narasumber
ini memang dari ujung ke ujung lokasinya. Antara pulau sumatera, Jawa dan
Kalimantan.
Dari penjelasan
tersebut ada hal yang saya garisbawahi yaitu Bentuk pendidikan seksualitas
berdasarkan klasifikasi usia yang dapat diberikan pada anak adalah sebagai
berikut :
1.
Umur 0 – 2 tahun:
❖ Mengenalkan namanya sendiri
(wajib bagi orang tua memberi nama anak sesuai
gendernya,
nama yang baik).
❖ Memberikan ASI eksklusif
(anak dekat dengan ibunya, anak tahu bahwa hanya ibu yang bisa memberikan ASI).
❖ Mengenalkan orang tuanya
(ayah-ibu, membiasakan istri memanggil suami dg sebutan ayah dan sebaliknya).
2.
Umur 3 – 6 tahun:
❖ Mengenalkan perbedaan antara
laki-laki dan perempuan (ayah-laki, ibu-perempuan).
❖ Mengenalkan silsilah keluarga
(dengan membuat permainan pohon silsilah, membiasakan silaturahmi ke kel/ kakek
nenek).
❖ Mendekatkan anak dengan ayah
ibu (agar anak tau apa yang seharusnya dilakukan ayah-laki & ibu-perempuan.
❖ Mengenalkan lingkungan
sekitar (bermain di luar rumah, tetangga atau sekolah).
❖ Memberi penjelasan kepada
anak siapa saja yang boleh dan tidak boleh memegang tubuhnya.
Dari materi
juga dijelaskan Menurut Amber Ledergerber,
guru sekolah dasar di California, berbagi saran agar anak-anak tidak menyimpan
rahasia dari orangtua adalah dengan menyampaikan pada anak terkait hal-hal
berikut.
●
Tubuhmu adalah milikmu. Tidak boleh ada seorang pun menyentuhnya tanpa
seizinmu. Ajarkan mereka tentang dasar-dasar seksualitas dan mana bagian tubuh
yang bersifat sangat privat. Gunakan istilah dan kata-kata yang sesuai usia
anak.
●
Sentuhan yang aman dan yang tidak. Ajarkan anak untuk bisa membedakan mana
sentuhan yang aman dan sopan serta mana yang tidak aman dan tidak senonoh.
Katakan bahwa tidak baik jika seseorang menyentuh orang lain dengan jenis
sentuhan yang tidak senonoh, apalagi di bagian privat.
●
Strategi "tidak! pergi! adukan!" Anak harus diajarkan dan dilatih
untuk secara spontan serta sangat tegas berkata "tidak!" untuk
sentuhan yang tidak pantas dari siapapun, lalu "pergi" segera dari
situasi yang tidak aman, kemudian "adukan" secepatnya kepada
orangtua, guru, dan pendamping yang terpercaya.
●
Ajarkan mana rahasia yang aman dan boleh disimpan, lalu mana rahasia berbahaya
yang harus dibagi kepada orangtua dan guru bahwa ada rahasia yang justru
membuat anak semakin tidak aman jika disimpan sendiri. Berahasia adalah taktik
pelaku untuk melindungi dirinya.
●
Pelaku adalah orang yang dikenal dekat oleh anak dan keluarga. Bagi anak yang
masih berusia muda, sangat sulit baginya untuk menerima bahwa om dan tante yang
tampaknya sayang kepadanya dapat berbuat kejam. Beri pengertian menggunakan
bahasa yang mereka mengerti bahwa itu tidak selalu benar.
●
Tanamkan bahwa semua pemberian dari orang lain, termasuk dari kerabat dekat,
ajakan untuk berduaan, dan permainan rahasia-rahasiaan harus dilakukan di
rumah, di depan, dan seizin ayah ibunya. Beri tahu alasannya, mengapa Anda
membuat peraturan itu, dan gunakan Bahasa kanak-kanak.
●
Pelaku juga bisa orang asing. Meskipun jarang, anak harus tetap tahu risiko
kemungkinan penculikan oleh orang asing. Mereka harus tahu bahwa orang asing
itu sering tampil normal, ramah, dan murah hati. Instruksikan anak untuk tidak
mau berkendara dengan orang asing,
●
Miliki komunikasi yang jujur, manis, dan terbuka dengan anak-anak agar mereka
terdorong untuk jujur kepada Anda jika terjadi hal yang buruk atau berpotensi
buruk. Bangun hubungan berlandaskan rasa saling menghormati dan percaya dengan
anak, anggota keluarga, tetangga, dan guru yang tepercaya. Mereka-mereka ini
dapat ikut melindungi anak ketika Anda tidak ada.
●
Saling bantu. Dorong empati, persahabatan, dan hubungan saling peduli antara
anak dan teman-temannya. Teman-teman juga dapat menjadi sumber bantuan, ketika
anak membutuhkan pertolongan.
Komentar
Posting Komentar