Zona 7 day 4. Pendidikan Seksualitas

Kelompok : 25 Samkabar

Topik : Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual


Pendidikan Seksualitas


Pendidikan seksualitas adalah proses pendidikan yang menjadikan anak laki-laki dapat berperan sebagai anak laki-laki yang baik dan benar dan yang menjadikan anak perempuan sebagai perempuan yang baik dan benar. (Christina,2020)


Pendidikan seksualitas termasuk didalamnya mengetahui bentuk lahiriah, atau organ fisik yang berbeda antaral laki-lakidan perempuan, bagaimana bersikap, perilaku, juga pandanganh hidup sebagai laki-laki dan perempuan dibangun ditata, dan diberikan pemahaman yang kuat sebagai bekal anak hingga ia dewasa.


Pendidikan Seksualitas Menyesuaikan dengan Perkembangan gender anak


0 - 7 tahun

Mengenalkan dan menegakkan identifikasi jenis kelamin, mulai dari bentuk tubuh, cara berpakaian, mainan, cara bicara.


7 - 12 tahun

Penguatan identitas jenis kelamin dengan pembiasaan misalnya: sudah mulai menggunakan pakaian yang menutup aurat, cara berjalan, cara berpikir dan tugas-tugas rumah sederhana.


Persiapan baligh dengan mulai mengenalkan tanda-tanda kematangan seksual dan apa yang akan terjadi pada diri anak.


12 - 18 tahun

Pendidikan mengenai baligh dan konsekuensinya pada diri anak. Manajemen aktivitas sehari-hari untuk membantu anak menyalurkan energinya, terutama energi seksual.


> 1 8 tahun

Pendidikan mengenai persiapan menikah dan berkeluarga.


Dari penjelasan pendidikan seksualitas sesuai gender anak tersebut saya jadi teringat ketika anak ketiga saya lahir. Kedua kakaknya yang waktu itu kyoshi (6 tahun) dan Iyaz (3 tahun) agak kaget ketika melihat alat kelamin adiknya ketika saya membersihkan dari air seninya. Kyo bertanya kepada saya " Bun, kok adik tempat pipisnya beda ya sama aa?" Dalam hati saya, nah ini adalah saat yang pas untuk menjelaskan kepada kyo dan iyaz. " Ohiya, adik hana kan perempuan jadi alat kelaminnya berbeda dengan aa dan iyaz yang laki-laki. Kalau aa dan iyaz alat kelaminnya penis sedangkan adik alat kelaminnya vagina. 


Entah mereka mengerti atau tidak pada saat itu. Saya berusaha menjelaskan agar anak-anak tahu membahasakan alat kelamin mereka dengan penyebutan yang pas. Saya tidak mau anak-anak bingung dengan menyebutkan alat kelamin laki-laki dengan burung atau alat kelamin perempuan dengan dompet atau semacamnya.


Semasa mereka toilet training pun saya dan suami mengajarkan cara membersihkan alat kelamin dengan benar. Dan selalu sounding kepada anak-anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain. Kecuali bila sedang berada dalam pengobatan dokter. 


Saking terekamnya dipikiran kyo bahwa tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ada kejadian yang lucu. Ketika kyo di umur taman kanak-kanak dan kami waktu itu berada di lift. Ada seorang bapak-bapak yang menyentuh pipinya kyo, mungkin si bapak gemes. Saya tersenyum tapi tidak dengan kyo. Ia marah-marah sambil teriak " Jangan sentuh akuuuu". Si bapak kaget dan langsung meminta maaf. Saya dan suami yang berada di tempat kejadian pun salah tingkah. Masyaallah ternyata terekam oleh kyo tentang tidak boleh disentuh orang asing. 


Kejadian lainnya waktu kami di gorontalo, di sore hari seperti biasa anak-anak main ke luar rumah. Waktu itu yang bermain kebanyakan anak laki-laki tetangga dekat rumah. Lalu saya melihat ada salah satu anak laki-laki yang buang air kecil sembarangan. Kyoshi langsung menegur, " kakak, kalau mau pipis di wc dong, itu auratnya kelihatan, malu loh" si anak yang ditegur kyoshi cuma senyum-senyum. Lalu kyoshi pulang dan menceritakan kepada saya. Padahal saya juga melihat kejadiannya. 


Pernah juga beberapa kali kyo dan iyaz menghadiri pesta ulang tahun temannya. Di gorontalo marak pada waktu itu MC ulang tahunnya wanita jadi-jadian. Awalnya kyo tidak tahu kalau MC yang berpakaian wanita itu ialah laki-laki. Sampai suatu ketika kyo dipilih kedepan untuk menyanyikan lagu bersama teman lainnya. Sepertinya ia menyadari daru suara MC nya bahwa aslinya ialah laki-laki. Sesampai di rumah kyo bertanya : " Bun, tadi yang nyuruh aa ke depan itu seperti tante-tante tapi kok suaranya seperti om-om ya bun? Kalau dia laki-laki kok berpakaian perempuan ya bun? " Emak bingung dong jawabnya, entah jawaban saya tepat atau tidak pada saat itu. " Oh itu pekerjaannya yang menyuruhnya berpakaian perempuan. Mungkin om nya belum tahu nak, harusnya laki-laki ya berpakaian laki-laki yaa.. " iya, lain kali aku mau bilang ah ke om nya jangan pakai pakaian perempuan". 


Banyak sekali memang tantangan anak-anak kita sekarang ini. Intinya sebagai orang tua kita menjaga anak-anak jangan sampai kehilangan indentitasnya sesuai gender masing-masing. Fitrahnya dilahirkan sebagai laki-laki ya harusnya bersikap dan berpenampilan laki-laki begitupun sebaliknya. 


#zona7

#topik5menjagadiridarikejahatanseksual

#harike4

#kuliahbundasayang

#batch6

#pantaibentangpetualang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF