KLIP MARET 2021 : HARI KE-19
Bahagia menjadi Ibu Rumah
Tangga
Sudah hampir 14 tahun
ini aku menjadi Ibu rumah tangga.
Meskipun diawal-awal pernikahan belum menjadi full IRT. Aku berusaha menjadi
ibu yang baik. Karena aku tahu di dalam Islam. Derajat ibu lebih tinggi
dibandingkan bapak. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Muslim disebutkan : Abu Hurairah menceritakan nahwa seorang lelaki datang dan
menemui Rasulullah SAW dan bertanya :” Ya, Rasulullah, siapakah orang yang
harus saya layani sebaik-baiknya?” Rasulullah SAW
menjawab, “ Ibumu.” Dia bertanya lagi,” Siapa lagi, ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab, “ Ibumu.” Dia bertanya lagi,” Siapa lagi, ya
Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “ Ibumu.” Dia pun bertanya lagi,
“Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW menjawab:”Bapakmu.”
Sempat menjadi Ibu yang bekerja di
ranah public sekaligus menjadi Ibu rumah tangga membuatku merasa capek sekali.
Karena suami sering bepergian keluar kota dalam waktu yang cukup lama.
Membuatku bingung siapa yang harus menjaga anak ketika harus bekerja?. Kami
sempat memiliki asisten rumah tangga. Akan tetapi hanya bertahan sebulan. Ada
saja alasannya, ada yang rindu kampung halaman, ada juga yang berhenti karena
mendapatkan gaji yang lebih besar dari yang kami berikan.
Akhirnya pada tahun 2012 akhir,
keluarlah surat mutasi dari kantor suami. Kami harus pindah ke kota lain.
Otomatis Aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Ada perasaan sedih karena dulu
bagiku seorang sarjana itu harus berbagi ilmunya, harus bekerja agar bertemu
banyak orang dan agar dapat mengaktualisasikan dirinya. Tapi akhirnya semua
pemikiranku yang salah itu diluruskan oleh suami. Menjadi ibu rumah tangga
adalah jihadnya wanita. Rasulullah bersabda : “ Barangsiapa di antara kalian yang
tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.”
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim surat Al Ahzab 33). Dari penjelasan suami aku
berusaha ridho dan berdamai dengan keadaan. Karena kami berada jauh dari
keluarga dan tidak ada tempat untuk menitipkan anak-anak bila aku kembali
bekerja.
Setelah resmi menjadi ibu rumah tangga. Aku baru tahu bahwa
menjadi istri dan ibu itu asyik. Aku dapat belajar banyak hal dan mendapatkan
banyak hikmah. Diantaranya saat melayani suami, anak-anak, membereskan rumah,
saat bermain Bersama anak,saat memasak, dan menyiapkan makanan untuk anak dan
suami adalah hal yang mebuatku Bahagia.agar aku tidak bosan di rumah saja.
Sejak menjadi ibu rumah tangga Aku mulai belajar memasak jenis masakan yang
berbeda, bahkan Aku juga belajar membuat cake dan kue-kue untuk cemilan
keluarga. Pernah juga aku jualan kue kering ketika lebran idul fitri.
Supaya aku tidak bosan di rumah saja. Suamiku mengizinkan aku
untuk ikut pengajian mingguan sesama perantau. Di pengajian itu kami membawa
anak-anak, lalu makan bersama bahkan ada juga kegiatan masak dan membuat kue
bersama-sama. Saling curhat masalah anak-anak dan sharing pertumbuhan anak juga
tak jarang kami lakukan. Duh kangen kalian ibu-ibu solcanter (solehah, cantik,
pinter) 😊
Selain ikut dibolehkan ikut kajian, suamiku juga
membolehkan aku untuk merawat diri ke salon. Kadang juga Aku mengikuti seminar
parenting dan kegiatan cooking class. Jadi walau pun menjadi full ibu rumah
tangga. Aku diperbolehkan suami untuk berkegiatan di luar rumah. Hal itu yang
membuatku Bahagia. Selain itu mungin ada beberapa hal lagi yang bisa aku
sharing agar menjadi ibu rumah tangga yang Bahagia.
1. 1. Memperhatikan
diri sendiri
Ini maksudnya ialah sebagai ibu rumah tangga, kita memperhatikan keadaan ruhiyah dan jasadiyah kita. Memperhatikan ibadah wajib dan amalan-amalan sunnah sebagai seorang wanita. Ikut kajian atau ikut taklim rutin salah satu hal yang juga bisa dilakukan. Selain itu rajin merawat diri dan makan makanan yang halalan toyyiban juga salah satu yang bisa dilakukan agar kita selalu bahagia.
2. Jangan Mengatur Standar Terlalu Tinggi
Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi siapa tau rumput itu sintetis. Itu adalah salah satu kalimat yang kadang kugunakan untuk memotivasi diriku sendiri. Kadang Aku melihat ada beberapa rekan yang mendidik anaknya dengan ilmu parenting banget. Kadang Aku melihat ada teman yang rumahnya rapi banget dan pintar menata rumah. Dari apa yang kulihat seringkali aku curhat ke suami. dan beliau berkata, turunkan standar. Jangan terlalu membuat standar terlalu tinggi. Nanti bisa stress sendiri. Soal rumah yang kadang berantakan wajar saja karena masih punya anak kecil dan aktif, tinggal mengkomunikasi kan kepada anak untuk diajarkan cara membereskan mainan. Kalau soal parenting itu yang penting kita belajar dan tau pakemnya. Selanjutnya disesuaikan dengan keadaan keluarga kita. Itu adalah nasihat suami dan Aku bahagia diberikan patner yang bisa memotivasiku.
3. Bersyukur
Nah point bersyukur ini adalah yang paling penting agar Aku bahagia. Semua anggota diberkan kesehatan, suami punya rezeki yang cukup untuk kamisehari-hari bahkan bisa berbagi, bisa beribadah, bisa ikut berkomunitas dan bergaul dengan teman-teman. Alhamdulillah hal ini membuatku bersyukur dan akhirnya mendatangkan kebagiaan bagi diriku.
Demikian lah sharing ku menjadi Ibu
rumah Tangga yang bahagia. Karena kebahagiaan itu kita yang sendiri yang
ciptakan dan kebahagiaan itu ada dalam diri kita masing-masing. Maka
berbahagialah selalu para Ibu.
Komentar
Posting Komentar