KLIP MARET 2021 : HARI KE-16
CERITA MELAHIRKAN ANAK KEDUA
Melahirkan
anak kedua berbeda dengan kondisi waktu anak pertama. Kondisi ekonomi keluarga
kami sudah mulai lebih baik. Dan ada suami yang siaga mengantar Saya bolak
balik ke rumah sakit.
Awal hamil anak kedua ini diluar
perkiraan juga. Bahkan rasanya Saya belum siap. Karena sebelum hamil, Saya
mulai bekerja kembali di salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris
Internasional. Saya mengajar dari siang sampai sore saja.
Oya karena Saya mulai kerja, aa kyo juga mulai dimasukkan ke salah satu PAUD yang berada di pinggiran Bandar Lampung. Pagi sekolah lalu sore baru pulang ke rumah. Karena kyo sekalian saya titipkan ibu angkat yang kebetulan menjadi Ibu kantin di sekolah kyo.
Selama kehamilan anak kedua lancar saja. Malah Saya lebih sibuk. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja di ranah publik. Selain itu, Saya juga sering ditinggal dinas keluar kota. Kebayang kan hectic nya hari-hari Saya.
Dari bulan pertama kehamilan sampai
bulan kesembilan alhamdulillah lancar. Mungkin karena suasana di tempat kerja
juga yang membuat saya bahagia dan rileks. Tiap sore ada saja makanan yang kami
makan bersama-sama. Karena kebetulan teman sekantor juga yang hamil, pasti
setiap lapar ada saja makanan yang kami beli.
Setelah memasuki bulan ke-9 kehamilan.
Saya pun cuti. Hari-hari Saya lalui dengan mengerjakan tugas rumah tangga
seperti biasa. Setelah ada tanda-tanda mules beberapa hari sebelum melahirkan.
Mama (alm), Papa dan adik-adik serta keponakan dari Palembang datang ke rumah
kami.
Di suatu siang hari kami sedang
berkumpul di rumah. Lalu ada rasa mules. Akhirnya Saya pun ke rumah sakit dan
membawa tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan. Sampai di rumah sakit dan
di periksa dalam. Ternyata masih bukaan satu. Saya pun di suruh pulang lagi.
Sesampainya di rumah rasa mules semakin
datang. Saya istighfar sebanyak-banyaknya, lalu sholat seperti biasa. Tambah malam
tambah mules. Akhirnya jam 1 malam Saya pun diantar lagi ke rumah sakit. Lalu
diperiksa lagi oleh bidan. Ternyata sudah bukaan 3. Memang lambat sekali
kurasa. Akhirnya kami tidak boleh lagi pulang ke rumah. Kami langsung menginap
di rumah sakit.
Saya sempat diajak suami jalan kaki lagi.
Bayangkan jam 1 malam kami berjalan bolak balik di koridor rumah sakit. Setelah
lelah. Kami masuk kamar inap. Karena lapar, Suami pun membelikan nasi goreng.
Kami pun makan bersama. Saya tidak kuatir meninggalkan aa kyo di rumah karena
bersama dengan kakek nenek dan tantenya.
Semalaman itu Saya benar-benar terjaga.
Mules nya benar-benar ga tahan. Saya juga dalam keadaan batuk dan pilek.
Kebayang kan ga enaknya. Setelah mandi pagi dan sarapan, bidan datang dan
mengatakan sudah mulai bukaan 7. Saya disuruh menunggu lagi.
Menjelang pukul 9. Rasa sakitnya
benar-benar tidak bisa Saya tahan. Akhirnya dibawa ke ruang bersalin. Lalu
diperiksa dalam lagi oleh bidan, ternyata masih bukaan 9. Lalu bidan memberitahukan
bahwa dokter yang biasa memeriksa kandungan sedang berada di luar kota dan kami
ditanya apakah ingin berganti dokter. Lalu suami memutuskan cukup sama bidan
saja.
Masih dengan rasa sakit dan mules.
Ternyata akhirnya sudah bukaan 10. Tapi bidan melarang untuk mengejan karena
belum pecah ketuban. Harus menunggu beberapa detik lagi. Saya benar-benar tidak
tahan. Sudah lemas rasanya. Saya juga dipasang infus karena semalaman terjaga.
Suami yang kala itu berada di samping Saya merasa gemas. Sampai ikut-ikutan
memberikan aba-aba atur nafas mengikuti aba-aba bidan. Saya sampai berteriak “
pecahkan saja ketubannya bu, ga kuat lagi ini” lalu bidan memberitahukan Saya
harus sabar lagi menunggu, karena ketuban lebih baik pecah secara alami. Terus
terang. Saya tidak tau bagimana rasanya pecah ketuban. Saya konsentrasi dan
banyak bertasbih, beristighfar dan membaca doa-doa yang Saya ingat. Sampai
akhirnya terasa nyesssss, ada yang pecah. Lalu Saya diberi aba-aba untuk
mengejan. Kondisi yang sedang batuk dan pilek membuat Saya kesulitan bernafas. Alhamdulillah
tidak berapa lama keluar juga. Seorang bayi laki-laki. Pada pukul 9.30 WIB.
Suamiku berkali-kali menciumku dan
mengatakan “ Terima kasih sayang”. Mungkin ini kali pertama Ia menyaksikan
momen melahirkan anaknya sendiri. Karena waktu Saya melahirkan anak pertama. Ia
berada di luar kota. Perasaan bahagia menyelimuti hatiku karena akhirnya ada
suamiku yang mendampingi proses melahirkan anak kedua. Anak laki-laki itu kami
beri nama M. Gentza Abyaz. Seorang anak laki-laki yang cerdas dan perkasa. Nama
yang sudah Saya siapkan dari beberapa bulan sebelumnya, sejak Saya tahu akan
mendapat anak laki-laki kembali.
Selalu ada cerita yang menarik dibalik
proses kelahiran seorang anak. Sebagai orang tua, Kami selalu mendoakan yang
terbaik bagi anak-anak kami. Agar anak-anak menjadi anak-anak yang soleh
solehah, baik budi, baik hati, cerdas dan semua yang terbaik. Terima kasih ya
Allah. Atas segala karuniaMu.
Komentar
Posting Komentar