KLIP MARET 2021 HARI KE-14

 

Kisah Klasik Sekolah (SMP)


        Aku masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1996. Kala itu yang mengurus masuk smp aku sendiri. Dari SD yang lama aku mendaftar bersama teman-teman dengan berjalan kaki. Setelah beberapa minggu mendaftar, akhirnya diumumkan lah aku dan beberapa teman diterima, sedangkan ada juga teman yang lain terpaksa harus mencari sekolah swasta karena tidak diterima di sekolah negeri.

       Di kelas 1 aku sekelas dengan beberapa teman dari SD. Karena memang SMP tersebut satu-satunya rayon yang terdekat dengan SD ku. Di kelas 1 Aku semeja dengan sahabat ku dari SD yaitu Ami. Selain pintar Ia cantik dan sangat percaya diri.

        Selama kelas 1 berjalan dengan lancar. Tapi ada 1 kejadian yang Aku ingat sampai sekarang. Pada suatu siang di ruang kelas, Kami murid-murid sedang khusyu mengerjakan soal-soal yang diberikan guru Bahasa Indonesia. Ibu Guru Bahasa Indonesia adalah Ibu Guru favoritku dan teman-teman. Selama kegiatan belajar berlangsung, ada seorang temanku yang ingin meminjam penghapus. Karena temanku malas mengambil penghapusnya, lalu kulempar lah penghapus itu ke arah depan dekat dengan meja guru ( posisi tempat dudukku paling belakang dan tempat duduk temanku di depan). Kulemparlah penghapus kecil itu, tapi apa yang terjadi? Ternyata penghapus itu mendarat di kepala guru yang sedang duduk. Ya Allah aku gemetar. Pasti aku akan mendapat hukuman, ucapku dalam hati.

        Lalu aku disuruh maju ke depan kelas oleh Guru yang bersangkutan. Aku langsung minta maaf. Tapi hukuman tetap ada, Lalu apa hukumanku? Aku disuruh melempar penghapus ke arah atas dan menangkapnya selama 10x. Bila Aku gagal, lemparan diulang dari pertama. Perasaanku campur aduk pada saat itu, Selain malu aku juga takut, takut nilai ku dikurangi. Setelah berkali – kali gagal melempar penghapusnya kea rah atas. Akhirnya selesai juga setelah 15 menit berlalu. Setelah kejadian itu Aku tidak berani menatap guru Bahasa Indonesia itu.

      Aku naik ke kelas 2 dengan nilai yang lumayan. Aku masuk peringkat 3 besar dan bergabung dengan kelas 2.3. Disinilah cerita percintaan monyet ku dimulai. Di kelas 2 lah aku mulai mendapatkan surat cinta. Surat cinta nya datang berkali-kali. Aku tahu siapa yang mengirimkan surat itu. Hingga suatu hari aku dipanggil guru Bahasa Indonesia  ke perpustakaan. Karena pada waktu itu beliau juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan. Otomatis sering berkantor di perpustakaan. Sesampai di perpustakaan, Ibu Guru memberikan surat cinta dari teman sekelasku. Dalam hatiku : “ apa-apaan. Kok surat itu bisa sampai ke tangan ibu guru”. Memang sudah sering temanku itu mengirim suratnya, tapi aku cuekin. Eh Taunya dia nekad menitipkan surat itu ke Ibu Guru.

        Kebetulan yang mengirim surat itu punya semacam genk yang terkenal nakal. Sambal memberikan surat itu kepadaku, Ibu guru mengatakan kepadaku untuk memikirkan kembali supaya aku menerima cinta si pengirim surat. Karena di kelas lain ada kejadian, ada anak perempuan yang menolak salah satu geng terkenal itu, lalu anak itu diancam. Nah mungkin guru ku itu takut aku juga diancam makanya memberikan saran untuk menerima cinta (monyet) si pengirim surat.

       Keesokan harinya aku memutuskan untuk menerima cinta (monyet) temanku itu. Tapi ada beberapa syarat yang harus dia patuhi. Lalu dia dengan senangnya memberitahukan ke teman sekelas bahwa kami sudah jadian. Padahal pada waktu itu aku naksir teman sekelasku. Huhu dasar cinta monyet.

    Sejak jadian si cowo itu mulai protektif. Aku ga bisa lagi berteman dengan anak laki-laki lainnya. Tiap pulang sekolah dia selalu mengawal sampai ke rumah bersama dengan teman-teman genk nya. Tapi anak zaman dulu masih polos kali ya. Sekedar suka-sukaan dan menyatakan cinta ya sudah. Kami tidak punya medsos sebagai tempat pamer atau tidak punya hp juga untuk saling menelepon atau bertukar pesan. Kami hanya bertemu di sekolah saja.

    Lalu aku naik ke kelas 3. Alhamdulillah anak itu pindah sekolah. Entah apa alasannya pindah seKolah yang pasti aku lega. Aku bisa melanjutkan hari-hari bebas berteman dengan siapa saja. Di kelas 3 ada pelajaran yang sangat aku sukai. Yaitu pelajaran Bahasa Inggris. Ada peraturan unik dari Pak Guru Bahasa Inggris ini. Bagi siswa yang telat masuk. Tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran beliau. Kalau pun tetap akan ikut pelajaran, boleh mengikuti pelajaran di luar kelas. Pada suatu hari, entah dari toilet atau mengerjakan urusan lain. Aku telat masuk kelas Bahasa Inggris. Tiba-tiba sesebapak sudah berada di dalam kelas. Ya sudah aku pasrah harus berada di luar kelas selama pelajaran Bahasa Inggris berlangsung. Malunya minta ampun. Tapi ya itu adalah konsekuensi. Yang aku ingat lagi kok aku rajin banget ya sampai aku tetap mengikuti pelajaran walau berada diluar kelas. Aku belajar lewat jendela. Padahal bisa saja kan aku main ke kantin atau nongkrong-nongkrong Bersama anak lain. Tapi sayangnya dulu aku tidak punya uang jajan.

       Masa kelas 3 itu aku lewati dengan riang. Pulang sekolah aku sering main sepeda hingga memanjat pohon belimbing bersama teman-teman yang lain. Oya pada suatu hari kami kerja kelompok di rumah teman, Tapi kami tidak mengerjakan tugas. Yang ada cuma ngobrol-ngobrol dan makan. Lalu main sepeda lagi keliling kampung.

      Begitulah kisah klasik masa sekolahku dahulu. Hingga  sekarang aku dan teman-teman alumni SMP ku masih berteman. Alhamdulillah semua sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Bahkan diantara mereka ada yang menikah dengan teman SMP dulu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF