KLIP HARI KE-18 :
KISAH
BATU BADAONG (BATU BERDAUN)
Pertama kali saya membaca kisah batu
badaong ini di buku pelajaran bahasa Indonesia sewaktu saya duduk di bangku
sekolah menengah pertama. Batu badaong artinya ialah batu berdaun. Kisah ini
berasal dari daerah Maluku. Badaong maksudnya ialah berdaun.
Kisah batu badaong ini begitu melekat
di ingatan saya karena pada saat itu guru Bahasa Indonesia yang saya kagumi,
Ibu Nuraini membacakannya dengan enak didengar. Semua murid terdiam, menyimak kisah
yang dibacakan oleh ibu nuraini. Begini kisahnya.
Dikisahkan pada zaman dahulu kala di sebuah desa di pulau Tanimbar (Maluku), hiduplah seorang pria kaya raya bersama istri dan dua orang anak nya yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda dan pemudi, mereka berdua sangat dimanjakan oleh ayah mereka sehingga mereka mempunyai sifat yang malas dan sombong. Mereka memiliki banyak pelayan yang siap melayani semua keinginan mereka.
Suatu ketika ayah mereka meninggal, kedua anak yang sombong da pemalas itu tambah menjadi-jadi kepada para pelayan. Akhirnya tidak ada pelayang yang bertahan di rumah itu. Mereka berhenti jadi pelayan mereka. Namun kedua anak ini malah menyuruh ibu mereka untuk menggantiak tuga para pelayan. Mulai dari memasak, membereskan rumah,, mencuci dan lain-lain. Bukan hanya menyuru, mereka tak segan membentak ibunya bila melakukan kesalahan. Seringkali sang ibu yang malang itu melakukan pekerjaannya sambil meneteskan air mata dan berdoa.
Ampunilah
hamba, ya Tuhanku
Hamba gagal mendidik mereka
Hamba gagal menjadikan mereka anak-anak yang berbakti
Ya Tuhanku
Bukalah mata hati mereka
Berilah mereka kesadaran
Agar mereka bisa menjadi anak-anak yang insyaf;
Insyaf akan dirinya;
Dan kembali ke jalanMu
Suatu hari ketika kedua anak itu bangun tidur dan hendak makan, mereka terkejut
melihat meja dalam keadaan kosong tanpa makanan. Tak ada makanan dan minuman
yang tersaji. Hanya ada panci diatas kompor. Mereka berdua marah dan membanting
apapun yang ditemukan di depan mereka sambil mencari ibu mereka.
Si
pemuda berpikir pasti ibunya sedang mencuci pakaian di sungai. Merekapun
bergegas menuju ke sungai. Dan, ternyata benar dugaan pemuda itu sang ibu
sedang berada di sungai untuk mencuci pakaian.
Dalam
keadaan marah yang memuncak pemuda itu menghampiri ibunya. Tanpa bertanya,
langsung “gubrakkk…”, pemuda itu menendang cucian sang ibu hingga terjatuh
berserakan ke sungai. Ibunya tidak kuasa berbuat apa-apa selain menangis. Tak
hanya itu, si gadis pun tidak mau ketinggalan. Sementara tangan kirinya memegangi
tangan ibunya, tangan kanannya mengayunkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh sang
ibu. “Ampun nak…. Ada apa gerangan, kenapa kalian memperlakukan ibumu seperti
ini?” tanya sang ibu dengan diriingi isakan tangis dan cucuran air mata yang
mendera. “Dasar kau perempuan tua tak berguna, sampai jam segini aku belum
makan. Aku lapar! Kau tak ikhlas yah memasak untukku?” hardik gadis itu sambil
terus menerus memukuli tubuh ibunya yang renta itu.
Si
Ibu menangis dengan nyaring dan memohon, tapi kedua anak itu tidak mau
mendengarkannya. Malah mereka memukulnya lagi dan lagi. Ibu yang malang
mendapatkan perlakuan buruk dari anak kandung nya sendiri.
Tiba-tiba
sang Ibu berhenti menangis, tubuhnya lemah tak berdaya, dan dengan suara
tertahan ia pun berkata “Ayahmu memang meninggalkan banyak kekayaan, tapi tidak
akan berlangsung lama. Dan meskipun aku yang melahirkan kalian kedunia ini,
mulai sekarang kalian bukan lagi anak-anakku. Aku tidak akan pernah mau kembali
kerumah kalian lagi. Kalian bebas melakukan apapun, aku sudah tidak peduli
lagi”.
Setelah
mengatakan itu, si ibu menyeret tubuhnya ke sebuah batu besar yang ada di
pinggir sungai. Lalu berkata “Wahai batu besar terbukalah. Biarkan aku masuk
kedalam. Jadikan aku bunga yang wangi seperti melati putih”
Tak lama setelah itu, perlahan batu itu terbuka. Lalu masuklah sang ibu kedalam batu itu. Dalam sekejap mata batu itu telah tertutup kembali. Setelah beberapa hari, pada batu itu muncul dedaunan dan bunga-bunga berwarna putih yang wangi sangat semerbak.
Apa
yang terjadi pada kedua anak tersebut?Penduduk desa marah dan mengusir mereka
karena perbuatan mereka yang tidak wajar kepada sang ibu serta perlakuan mereka
yang sombong terhadap para masyarakat sekitar. Hartanya pun dijarah untuk
dibagikan kepada orang-orang miskin di desa tersebut. Kini yang tertinggal
hanya penyesalan. Menyesal telah berlaku kasar kepada ibu yang telah melahirkan
dan merawat mereka. Namun penyesalan tinggal penyesalan, sang ibu telah tiada.
Mereka mendatangi batu
dimana ibu mereka tertelan. Sambil mengelus batu yang telah ditumbuhi dedaunan
dan bunga putih yang harum nya semerbak, mereka menangis tersedu-sedu. Mereka berharap
batu itu membuka dan menelan mereka agar bisa bertemu kembali dengan sang ibu
tercinta.
Sumber : https://pedomanbengkulu.com/2018/08/legenda-batu-badaong/
Komentar
Posting Komentar