KLIP : HAL YANG MENANTANG DALAM HIDUPKU

 KELAHIRAN YANG DINANTI


    Cukup lama kami berhasil mendapatkan anak pertama. Awalnya enam bulan pada awal pernikahan kami menjalani dengan LDM alias Long Distance Marriage. Setelah menikah pada bulan Desember 2007, suami harus menetap di Bandar Lampung sedangkan saya harus menyelesaikan tugas sebagai guru di salah satu SMP Swasta di Bekasi. Kami mengalami hubungan jarak jauh selama kurang lebih enam bulan.

    Sekitar bulan Juni 2008 saya dan suami mulai hidup bersama di Bandar Lampung. Enam bulan lebih belum ada tanda-tanda kehamilan pun membuat saya cemas, sedangkan suami masih santai saja. Saya memeriksakan diri ke dokter kandungan ingin memastikan bahwa Rahim saya dalam kondisi yang bagus dan tidak ada kista. Dokter pun menjelaskan kepada kami tentang berhubungan pada masa subur. Ada perhitungan dan ada caranya ternyata.

    Lalu tibalah kabar gembira, pada bulan Oktober 2008 saya hamil, setelah melakukan test pack sebanyak 3 kali lalu kami memeriksakan ke dokter kandungan. Pada awal kehamilan berjalan lancar, akan tetapi menginjak di bulan kedua kehamilan, ternyata dokter memutuskan saya harus dikuret. Karena janin dalam keadaan tidak berkembang alias Blind Ovum.

    Rasanya perasaan saya sedih tidak terkira, untuk lebih yakin lagi saya mengunjungi dua dokter kandungan lainnya. Ternyata mereka memberitahukan hal yang sama bahwa saya harus segera dikuret. Pada saat itu suami sedang berada di luar kota. Saya mengunjungi dokter kandungan bersama salah satu teman saya. Untungnya saya bisa mengendarai motor. Tapi lumayan loh rasanya diperiksa dengan USG Transvaginal lalu dilanjutkan dengan membawa motor sendiri dan tidak didampingi suami. Betul-betul paket lengkap.

    Setelah benar-benar yakin bahwa memang saya harus dikuret, saya pun membuat janji dengan dokter kandungan yang akan melakukan tindakan kuretase. Karena suami sedang di luar kota, alhamdulillah ada istri dari ketua tim nya suami menjemput saya ke rumah dan mengantar saya ke rumah sakit. Hal yang tidak disangka ialah ternyata adiknya ketua tim bareng suami bekerja adalah teman saya sewaktu SMA yang memang sudah lama tidak bertemu.

    Selama tindakan kuretase itu saya dibius total jadi tau-tau sudah selesai saja, rasanya perih dan lebih perih sebetulnya harus merelakan kehamilan yang baru memasuki umur 16 minggu harus dibuang, yah demi kesehatan saya juga, toh memang tidak berkembang. Setelah proses kuret dokter menyarankan saya untuk istirahat dan jagan hamil dulu sebelum lewat  bulan setelah kuretase.

    Bulan Maret 2009 saya tidak mendapatkan haidh, saya pikir itu hal yang biasa Saya tidak berani untuk melakukan test pack karena pernah kecewa tidak mendapatkan tanda garis dua. Pada saat itu juga saya baru diterima sebagai salah satu pengajar di Taman Kanak-kanak di Bandar Lampung. Lalu saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ternyata saya hamil. Akan tetapi masih dipantau karena beberpa bulan sebelumnya saya pernah dikuret.

    Saya menjalani kehamilan dengan biasa, tidak mual parah dan bekerja seperti biasa. Mungkin karena pada saat itu saya bekerja sehingga keluhan awal kehamilan tidak terlalu saya rasakan. Menginjak kehamilan yang keenam bulan, saya mengalami pendarahan. Saya pun harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Saya takut sekali. Takut kalau-kalau anak yang saya kandung tidak dapat bertahan, diam-diam kadang saya menangis. Saya ingin sekali memiliki anak di usia pernikahan kami yang hampir dua tahun.

    Selanjutnya saya menjalani hari-hari seperti biasa. Pendarahan terjadi lagi ketika usia kehamilan saya berumur 8 bulan. Posisi suami pada saat itu sedang di luar kota. Akhirnya suami menelepon mama yang waktu itu masih ada, untuk menemani saya di rumah sakit. Saya diharuskan bedrest. Karena ternyata posisi ari-ari berada di bawah alias plasenta previa. Lagi-lagi saya takut. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah SWT agar anak saya kuat dan dapat lahir dengan selamat. Dokter mengultimatum, bila pendarahan terus terjadi, bulan depannya haru diambil tindakan Caesar.

    Setelah tiga hari di rumah sakit, saya pun pulang. Untungnya ada mama. Mama yang memasakkan dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan saya hanya boleh tiduran di Kasur.

    Suatu hari di akhir November 2009, saya merasakan mulas yang amat sangat. Seperti keadaan ingin buang air besar akan tetapi arah depan. Saya pikir ini adalah tanda-tanda melahirkan. Suami pun masih berada di luar kota, kira-kira 5 jam dari kota Bandar Lampung. Saya menelepon mobil rental karena pada masa itu belum ada taksi online. Saya membawa tas ditemani mama. Sesampainya di IGD Rumah Sakit yang saya tuju, saya diperiksa dalam. Ternyata sang bidan memberitahukan waktu saya melahirkan masih lama, masih sekitar semingguan lagi. Kebetulan saya memang ke rumah sakit itu supaya saya bisa memakai Askes (sebelum berubah nama menjadi BPJS). Karena dianggap waktu lahiran masih lama, saya pun pulang kembali. Ketika itu kira-kira pada waktu siang hari.

    Sesampai di rumah saya merasakan tambah mulas. Awalnya satu jam sekali. Lalu lama kelamaan menjadi sering timbul mulasnya. Akhirnya saya tidak tahan lagi. Saya menelepon supir agar menjemput, akan tetapi sayangnya lokasi si supir berada jauh dari rumah. Akhirnya saya meminta tolong tetangga untuk memanggilkan angkot. Lalu datanglah sebuah angkot berwarna abu-abu. Sudah lewat waktu magrib pada saat itu. Supir angkot pun mulai beranjak menuju rumah sakit ibu dan anak. Rumah sakit ini berbeda dengan rumah sakit yang saya datangi pada siang harinya.

    Ditengah perjalanan, supir angkot bermaksud menaikkan penumpang selain kami. Otomatis mama marah besar, karena dari awal kami bilang akan mencarter angkotnya, jadi si supir tidak boleh sembarangan menaikkan penumpang. Saya hanya diam sambil meringis kesakitan. Hanya mama yang memarahi supir angkot karena kejadian itu.

    Setelah 20 menit perjalanan dari rumah ke rumah sakit, saya pun sendiri turun dari angkot dan mama masih berurusan soal pembayaran dengan supir angkot. Saya langsung disambut perawat dan naik kursi roda. Saya dibawa langsung ke ruang bersalin. Sungguh, tidak kuat sekali, rasanya sudah ada yang mau keluar dari vagina saya. Setelah naik ke tempat tidur, saya pun diperiksa dalam dan memberitahukan saya untu menunggu dokter. Sekitar 10 menit dokter datang karenan memang rumah dokter berada di dekat rumah sakit tersebut. Ternyata saya sudah mengalami bukaan 10 dan sudah pecah ketuban.

    Hal yang saya ingat dan mengafirmasi diri sendiri ialah saya harus tenang, sesakit apa pun saya tidak boleh menangis dan berdzikir serta bacaan-bacaan lainnya yang saya ingat. Setelah dokter memberi instruksi kapan saya boleh mengejan, akhirnya kalau tidak salah hanya 5 kali mengejan, alhamdulillah anak saya lahir. Saya melahirkan tanpa robekan vagina dan otomatis tidak dijahit. Waktu itu saya masih tidak percaya bahwa anak saya telah lahir.

    Anak saya langsung ditidurkan diatas payudara agar sekalian IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Lalu masuk ke ruangan bersalin itu tetangga saya untuk mengazankan dan mengiqomahkan anak saya. Memang sebelumnya saya meminta tolong kepada istrinya untuk mengazankan dan mengiqomahkan. Ada rasa sedih karena saya berharap suami saya mendampingi saat-saat penting tersebut. Akan tetapi saya juga menyadari, suami juga sedang dinas karena memang kewajiban terhadap pekerjaannya. Jadi saya menguat-nguatkan diri saya supaya tidak baper.

    Beberapa jam kemudian saya dibawa ke ruangan perawatan. Saya pun tertidur karena kelelahan. Tiba-tiba jam satu malam ada yang membangunkan saya. Ternyata suami datang, ia mengucapkan selamat dan meminta maaf karena datang terlambat. Saya baru sadar juga ternyata memang tidak ada yang menghubungi suami ketika saya melahirkan. Mama juga ingatnya ketika saya sudah dibawa ke kamar perawatan. Lalu suami pun mengazankan dan iqamah ke anak kami. Anak yang kami beri nama M. Labib Kyoshi, lahir dengan berat 2,5 kg dan Panjang 48 cm.

    Alhamdulillah ia lahir selamat dan normal. Terima kasih nak sudah sama-sama berjuang selama dalam kandungan walau ada saja permasalahan. Selanjutnya mari kita sama-sama berjuang menghadapi kehidupan ini.


#KLIP
#Maret2021
#Setoranharike5
#halyangmenantangdalamhidupku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF