KLIP : Hal yang menantang dalam hidupku

 

Pondok tempat kami bermalam

Top Dempo



Kawah


Ketika Naik Gunung Dempo

 

      Masa-masa menjadi anak kuliahan memang masa-masa aku mencoba hal yang baru. Ikut berorganisasi sana sini, ikut perjalanan menghadiri kegiatan organisasi dan yang paling menantang ialah ketika harus mendaki salah satu gunung yang ada di Sumatera Selatan yaitu Gunung Dempo.

    Gunung Dempo terletak di perbatasan provinsi Sumatra Selatan dan provinsi Bengkulu tepatnya di kota dingin penghasil kopi robusta yaitu Kota Pagaralam. Gunung Dempo terletak di kota Pagaralam, dengan jarak tempuh darat sekitar 7 jam dari Palembang, ibu kota provinsi Sumatra Selatan. (Wikipedia)

     Perjalananku dan teman-teman di Mapala Gempa Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya dimulai pada siang hari. Kami berangkat dari kampus UNSRI Indralaya sekitar bada ashar. Sebuah bus kecil membersamai kami menuju kota Pagaralam. Saat itu adalah pertama kalinya aku menuju kota Pagaralam bersama teman-teman. Oya yang ikut pendakian ada sekitar 15 orang, dari ke-15 orang tersebut 3 diantaranya ialah perempuan, yaitu aku, cimot dan butet.

     Perjalanan selama 7 jam tidak terasa karena di bus kami berbincang-bincang dan kadang diselingi dengan tidur di bus. Ada juga yang bermain gitar di dalam bus dan ada juga makan cemilan masing-masing.

    Sekitar Pukul 22.00 WIB kami sampai di semacam pondokan yang memang diperuntukkan untuk para pendaki. Jangan dibayangkan bahwa pondokan itu seperti vila-vila ya… pondokan yang berupa kamar seluas 8 m x 8 m yang tidak memiliki kamar. Hanya ada Kasur busa dan satu sofa tua.

      Aku mulai khawatir, karena otomatis kami akan tidur dalam satu ruangan yang sama yaitu laki-laki perempuan. Membayangkannya saja aku takut. Untuk menjaga privasi antara laki-laki dan perempuan hanya dibatasi kain sebagai pembatas saja. Ketika yang lain sudah tertidur, aku semakin tidak bisa tidur. Suara dengkuran teman laki-laki terdengar jelas. Lalu aku ke luar pondokan tersebut, perutku lapar dan ingin minum yang hangat. Lalu ditemani 2 teman laki-laki lainnya kami menuju satu-satunya warung yang buka pada malam itu.

    Saat itu jam 12 malam, aku pun makan beberapa gorengan dan minum segelas kopi hitam. Setelah itu kami pulang lagi ke pondokan. Akhirnya kedua temanku tadi tertidur. Sedangkan aku masih belum bisa tidur. Mungkin karena bawaan minum kopi hitam semakin membuatku terjaga.

     Tidak terasa aku pun tertidur di sofa. Aku terbangun ketika azan subuh dan sadar semua orang sudah mentertawakanku. Ternyata aku mendekur keras, ada yang merekam hasil dengkuranku. Jangan tanya malu atau tidak yang pasti malu banget. Tapi untungnya waktu itu aku tidak mudah baper. Ya walau mereka meledekku karena mendengkur, aku cuek saja.

    Setelah sholat subuh kami sarapan dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Aku hanya membawa ransel yang berisi baju-baju dan perbekalanku. Sedang teman laki-laki yang lain membawa carrier. Ada yang membawa tenda dan ada juga yang membawa logistik.

    Kami memulai perjalanan pada Pukul 06.00 WIB. Kami menuju jalur pendakian yang resmi yaitu melalui kampung IV. Ada dua puncak Gunung Dempo yang bisa dijelajahi, yaitu Top Dempo dan Kawah Merapi. Sebelum memulai pendakian, kami menemui sesepuh Gunung Dempo dan melakukan pendaftaran serta keperluan administrasi. Selanjutnya pendakian bisa dimulai dengan melewati medan berkerikil dan pemandangan kebun teh yang terhampar menghijau.

      Setelah melewati perkebunan teh selama kurang lebih 20-30 menit, pendakian akan tiba di Pintu Rimba dengan jalur tracking yang mulai menanjak. Dari Pintu Rimba menuju ke Shelter 1 jalur pendakian didominasi dengan medan yang cukup datar namun sempit hingga memasuki kawasan hutan. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai shelter 1 kurang lebih 1,5-2 jam. Di lokasi shelter terdapat mata air yang bisa digunakan untuk mengisi perbekalan.

     Perjalanan menuju ke Shelter 2 kami melewati jalur yang sudah mulai menanjak dan melewati kawasan hutan yang sangat rapat dengan pohon-pohon. Kurang lebih di setengah perjalanan akan menjumpai “dinding lemari” yang medannya sangat terjal dan licin sehingga harus ekstra hati-hati dan tetap waspada agar tidak tergelincir. Aku yang melihat pemandangan tersebut rasanya ingin kembali lagi ke pondokan. Untung teman-teman menyemangatiku untuk memanjat dinding lemari itu, suatu hal yang mustahil sekali aku lakukan sekarang, hahaha. Kalau diingat-ingat masyaallah ya niat banget aku sampai mau ikut pendakian ini.

    Perjalanan dari shelter 2 menuju ke Top Dempo didominasi dengan medan yang terus menanjak dengan melewati hutan yang semakin berkurang  vegetasinya. Pemandangan yang indah dengan hawa sejuk pegunungan mulai  terasa menyegarkan tubuh yang mulai lelah dengan tanjakan-tanjakan yang dilalui. 

     Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ke Top Dempo sekitar 3-4 jam perjalanan. Tidak terasa matahari mulai tenggelam, setelah sampai kami mendirikan tenda. Ini adalah pertama kalinya aku ikut bermalam di tenda ditengah-tengah hutan. Walau hanya bercahaya api unggun dan lampu emergency suasana malam itu begitu sejuk dan tidak seseram yang kubayangkan..

      Tidak lama kemudian ada suatu kejadian. Si butet sepertinya kemasukan, entah dia dalam keadaan yang kurang fit atau sedang lapar. Aku  hanya bisa mengucapkan doa-doa saja. Walau aku tahu butet non muslim, tapi saya ikut mendoakan dan dibantu oleh teman-teman laki-laki yang lain. Suasana malam itu begitu mencekam. Entahlah, Aku berharap hari cepat terang dan ingin lekas pulang ke rumah, huhu. Akhirnya butet sadar dan ia pun tertidur. Aku, butet dan cimot tidur dalam tenda yang sama.

      Menjelang subuh, tiba-tiba aku mendengar azan, siapa yang azan di tengah hutan begini? Ternyata salah seorang temanku yang azan. Kami pun sholat masing-masing. merasakan sholat subuh di tengah hutan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Kulihat butet masih tertidur, ya sudah aku pun bergabung dengan teman-teman lain untuk membuat sarapan. Ya sarapan kami mie, telur, kornet dan singkong goreng ditambah dengan secangkir kopi hitam panas. Cukup menghangatkan suasana gunung yang sangat dingin.

      Menjelang siang kami mengunjungi puncak Merapi, tidak terlalu jauh dari top dempo. Akan tetapi kami harus turun sedikit untuk melihat pemandangan yang katanya indah. Tibalah kami di Puncak Merapi dan benar saja, kami disuguhi kawah yang mempesona berwarna biru, hijau tosca, hijau, dan abu-abu. Tidak lupa kami mengabadikan kawah yang begitu indahnya. Salah seorang temanku yang bernama Ammar pun mengumandangkan azan.

       Sungguh syahdu dan semakin bersyukur dengan apa yang kumiliki, nikmat bisa melihat pemandangan yang indah, nikmat persahabatan dengan para lelaki yang dari luar penampilannya masyaallah, tetapi mereka tetap ingat sholat walau dimanapun berada. Pengalaman pendakian ini merupakan pengalaman yang menantang dalam hidupku. Tidak menyangka aku bisa mencapai Top Dempo dan pulang ke rumah dengan selamat.


sumber : https://nyero.id/jalur-pendakian-gunung-dempo/#:~:text=Untuk%20mencapai%20lokasi%20Gunung%20Dempo,waktu%20sekitar%2030%20menit%20perjalanan. 


#KLIP

#hariketiga

#halyangmenantangdalamhidupku

#maret2021

#bundahanamenulis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF