KLIP : Hal menantang dalam hidupku
Ketika Kyoshi Harus Operasi Amandel
Waktu itu Kyoshi sedang sakit, ia demam sampai beberapa hari. Kebetulan ayahnya sedang berada di Kabupaten Kubar Alias Kutai Barat. Jarak antara Kota Samarinda dengan Kabupaten Kutai Barat ialah sekitar 145 km atau sekitar 9 jam perjalanan barat.
Dari pemeriksaan dokter umum, diduga bahwa Kyoshi, anak pertama kami terkena amandel dan harus segera dioperasi karena memang sudah tidak bisa diobati dengan rawat jalan. Dalam hati saya panik dan sedih, bagaimana bisa saya tidak tau bahwa amandel Kyoshi sudah parah. Saya merasa tidak berguna sebagai seorang ibu.
Untungnya saya tidak berlarut-larut menyesal. Saya mencoba lagi untuk memeriksakan Kyoshi ke dokter spesialis THT. Untungnya di Samarinda ini ada beberapa dokter THT yang terkenal bagus. Akhirnya saya dan anak-anak mengunjungi klinik dokter THT yang berada di Jalan Pangeran Antasari, Samarinda.
Setelah menunggu sekitar 15 menit kami masuk ke ruangan praktek dokter. Kala itu belum pandemi. Jadi saya bisa ikut masuk bersama kedua anak saya lainnya. Lalu kyoshi mulai diperiksa. Dari hasil pemeriksaan dokter THT diketahui memang Kyoshi harus segera dioperasi. Karena amandelnya kanan dan kiri semakin besar.
Saya semakin gundah dan menceritakan hal ini kepada suami lewat telepon. Akhirnya suami menyarankan saya untuk segera mengurus pengobatan kyoshi. Keesokan harinya saya kembali ke klinik tempat kami berobat menggunakan BPJS untuk meminta surat rujukan berobat dan operasi di rumah sakit yang dirujuk.
Keesokan harinya lagi kami mendatangi dokter THT di rumah sakit yang dirujuk tersebut, dan memang keadaannya bahwa kyoshi harus dioperasi. Akhirnya kami membuat janji dengan dokter tersebut mengenai jadwal operasinya. Ternyata dokter menjadwalkan operasi keesokan harinya. Saya disarankan untuk segera mencari kamar untuk pasca operasi.
Jangan tanya perasaan saya waktu itu. Bingung, sedih dan rasanya butuh suami disamping saya. Sambil membawa ketiga anak, saya pun menemui bagian pendaftaran pasien dan menanyakan kamar yang tersedia.
Ternyata kamar yang tersedia sisa kamar VIP. Karena kami yang tadinya kebagian kelas 1 untuk BPJS, jadi mungkin hanya menambah beberapa juta lagi, itu yang dijelaskan oleh petugas rumah sakit. Yang lebih mengejutkan, saya harus deposit sebesar 3 juta rupiah. Padahal di dompet saya hanya punya 1 juta rupiah dan di atm hanya ada 500 ribu rupiah. Akhirnya saya menemui bagian kasir dan meminta keringanan agar bisa memberi deposito 1 juta terlebih dahulu. Saya berjanji akan melunasi keesokan harinya. Yang penting anak saya bisa mendapatkan perawatan secepatnya.
Hari semakin sore, setelah selesai urusan administrasi. Kyoshi pun melakukan berbagai pemeriksaan. Mulai dari cek darah sampai rontgen. Nah ketika akan dilakukan pengambilan darah supaya bisa diperiksa petugas, kyoshi mulai keluar dramanya.
Beberapa kali petugas membujuk hingga mereka berpeluh pun tetap tidak bisa membujuk kyoshi. Akhirnya saya membujuk dan kyo minta berada dipangkuan saya. Masyaallah, Berat badannya saat itu 45 kg dan saya sambil memeluk kyo dari belakang dan menenangkannya. Adik-adiknya melihat adegan itu dari kejauhan. Untung si kecil hana tidak menangis melihat adegan itu. Akhirnya setelah beberapa menit, petugas berhasil mengambil sample darah kyoshi.
Dari ruang lab kami menuju ruang rontgen. Untungnya jaraknya tidak jauh, hanya beda ruangan saja. Kami masuk ke dalam ruangan, dan lagi-lagi terjadi drama. Kyoshi menolak untuk membuka kaosnya. Dia bilang kepada petugas bahwa dia malu untuk membuka kaosnya karena tidak kenal, selain itu ia harus menjaga auratnya dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Masyaallah, saya pun berusaha menenangkan dan menjelaskan kepada kyoshi bahwa dalam keadaan mendesak dan memang untuk pengobatan tidak apa-apa membuka pakaian. Setelah mendengar penjelasan saya, akhirnya kyoshi menurut.
Perjalanan kami belum berakhir. Saya harus ke bagian farmasi yang mengurus peralatan sebelum operasi. Yaitu selang infus dan lain-lain. Karena pasien sedang banyak-banyaknya, kami pun menunggu cukup lama. Kala itu sudah pukul 20.00 wita dan anak-anak sudah mengantuk. Untung saja sebelumnya saya sudah mengajak anak-anak makan di kantin rumah sakit sehingga hana dan iyaz tidak begitu rewel.
Kami juga sambil menunggu kamar perawatan yang tersedia. Ternyata petugas menginfokan bahwa kamar perawatan bisa dimasuki Pukul 22.00 wita. Astaghfirullah, hana sudah mulai rewel dan mengantuk. Untungnya ketika saya bingun itu ada teman suami yang menelepon. Dia menawarkan bantuan untuk menjaga hana dan iyaz. Alhamdulillah ternyata Allah mendengar doa saya. Saya diberikan pertolongan lewat teman suami.
Tak lama teman suami datang ke rumah sakit dan membawa hana dan iyaz ke rumah mereka. Alhamdulillah. Saya bisa menunggu kyo di rumah sakit dengan tenang. Sambil menunggu kamar yang sedang disiapkan. Kyo meminta saya untuk memesankan pizza. Karena ia ingin makan pizza sebelum operasi. Ah ada-ada saja permintaan anak ini.
Tepat pukul 22.00 wita kami memasuki kamar perawatan dan kami beristirahat. Untungnya pizza sudah saya pesan sebelumnya sehingga kami tidak terlalu lama menunggu. Setelah memakan pizza sesuai permintaannya dan sikat gigi, kyoshi segera tidur.
Saya yang waktu itu tidak bisa tidur, akhirnya mengerjakan tugas setoran matrikulasi yang waktu itu saya masih menjadi mahasiswi matrikulasi batch 7 Ibu Profesional Samkabar. Tidak lama saya pun tertidur. Tetapi tiba-tiba pukul 02.00 wita malam saya ditelepon oleh teman suami. Ternyata hana menangis keras, mungkin ia baru menyadari tidak ada bunda dan ayahnya disampingnya. Karena memang anak-anak kami belum pernah dititipkan sebelumnya. Sekitar 30 menit hana menangis, untungnya suami ternyata sampai di rumah temannya dan akhirnya mengajak hana bersamanya. Alhamdulillah suami datang pada saat yang tepat dan langsung membawa hana ke rumah sakit menemui saya. Sampai di rumah sakit hana pun tidur kembali.
Operasi dimulai pagi-pagi sekali. Saya lagi-lagi menangis. Tidak kuat membayangkan bahwa kyoshi diumurnya hampir 9 tahun harus mengalami operasi amandel. Suami menguatkan saya dan meyakinkan bahwa kyoshi insyaallah baik-baik saja. Ini adalah salah satu cara kita untuk mengobati kyoshi. Setelah setengah jam kemudian dokter keluar ruangan operasi dan menjelaskan bahwa operasi berjalan dengan lancar.
Rasanya ada saja hal yang menantang yang harus saya hadapi. Yah namanya hidup pastilah menghadapi tantangan dan cobaan, tinggal bagaimana kita menghadapi itu semua. Apakah menjadikan kita tambah bersyukur atau malah kufur akan nikmat Allah SWT.
#KLIP
#maret2021
#setoranharike4
#halyangmenantangdalamhidupku
#bundahanamenulis

Komentar
Posting Komentar