Yetti oh Yetti ....

 

Yetti oh Yetti…..

 

         Sudah cukup lama aku tidak suka dengan namaku. Walau ini adalah nama pemberian orang tuaku. Sampai sekarang aku tidak pernah dijelaskan apa arti namaku. Yang aku ingat ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama akhirnya aku menanyakan kembali arti dari nama Yetti Febriani.

          Lalu mama manjelaskan, namaku tidak memiliki arti apa-apa. Malah mama menyiapkan nama Yanti, Novi, atau Fadila untuk diriku. Sayangnya pada waktu itu di kampungku, bukan hanaya mama yang sedang mengandung. Ada sekitar ibu muda lainnya yang mengandung. Mereka melahirkan lebih dulu daripada mama. Ternyata para ibu muda yang telah lebih dahulu melahirkan itu menamai anak-anak mereka dengan nama-nama yang telah dipersiapkan mama.

      Ketika aku lahir pun mama belum mempersiapkan nama untukku. Sampai akhirnya setelah beberapa hari tiba di rumah. Mama membaca surat kabar. Di sruat kabar tersebut ada tulisan yeti. Lalu mama memiliki ide untuk menjadikan nama yeti sebagai nama anaknya yang pertama. Karena aku lahir di bulan februari maka nama lengkapku ialah Yetti Febriani.

        Pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama aku mengunjungi perpustakaan di sekolahku. Karena penasaran, aku  mencari arti kata yeti. Menurut kamus, Yeti atau Manusia Salju Menakutkan adalah sejenis primata besar yang menyerupai manusia yang menghuni wilayah pegunungan Himalaya di Nepal dan Tibet. Nama Yeti dan Meh-Teh umumnya digunakan secara luas oleh penduduk asli di wilayah tersebut, dan merupakan bagian dari kisah sejarah dan mitologi mereka. Semakin kesal aku ketika mengetahui arti namaku.

         Pernah suatu ketika aku protes dan bertanya-tanya kembali, kenapa aku diberi nama yeti? Mama dan papa hanya tersenyum dan menjawab sesuai dengan penjelasan mereka terdahulu. Sampai-sampi aku ingin mengubah namaku. Tapi kata papa mengubah nama itu ribet, apalagi di akte kelahiran, lalu ijazah sekolah dasarku sudah memakai nama yetti.

        Semakin dewasa aku melupakan keinginanku itu untuk merubah nama di akte kelahiran. Sampai akhirnya setelah menikah dan kerja di sebuah sekolah. Kepala sekolah di tempatku mengajar pun langsung mengubah panggilanku. “ nama panggilanmu febri aja ya…, disini sudah ada nama Nety, Yati, Ety. Kalau ditambah lagi dengan panggilanmu Yetti nanti semakin bingung yang lain. “ entah ya menurutku alasan saja atau dianggap nama yeti tidak keren. Tapi aku senang, nama panggilanku berubah menjadi febri. Sejak tahun 2009 itu nama panggilanku berubah.

          Nama yetti itu mengingatkanku dengan masa kecil yang tidak menyenangkan dan ingin kulupakan. Jadi resmilah nama panggilan febri sejak aku tinggal di Bandar Lampung. Sekarang nama panggilanku bukan hanya febri, kadang dipanggil ibu nana. Bahkan telah memiliki tiga anak ini. Orang semakin tidak tahu nama aseliku. Karena merka hanya kenal Bunda Kyoshi, Bunda Iyaz atau Bunda Hana.

 

 #KLIP

#februari

#setoranharike24

#rumbelmenulis

#komunitasipsamkabar

#tantangan14hari 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF