Wisata ke Kampung Suku Bajo di Torosiaje
Ketika kami tinggal di Gorontalo. Kami sempat mengunjungi suatu perkampungan suku bajo yang ada di Gorontalo. Nama kampungnya ialah Torosiaje yang berada di kecamatan popayato, kabupaten Pohuwato.
Lima jam merayapi jalan Trans Sulawesi sejauh 240 km dari Kota Gorontalo ini sungguh melelahkan. Sebetulnya cukup waktu 3 jam kita bisa sampai di marisa, ibukota kabupaten pohuwato. Akan tetapi butuh dua jam lagi baru kita bisa sampai ke perkampungan torosiaje. Begitu turun dari mobil, beberapa orang langsung mendatangi kami menawarkan ojek perahu.
Ada beberapa ojek perahu yang siap di dermaga. satu kali jalan ditarik ongkos Rp 5000. Untuk menuju perahu, kami berjalan 150 meter di atas jembatan yang membelah rimbunnya hutan mangrove yang membentengi pesisir selatan Pohuwato dari abrasi laut. Suami saya cerita tadinya akan dibangun jembatan sampai perkampungan tapi di tolak warga karena alasan tertentu.
Nama perahu kecil khas bajo itu ialah leppa yang hanya muat untuk 10 orang, saya dan keluarga melintasi perkampungan di tengah hari bolong. jam 1 siang cukup membuat kulit ini sedikit gosong (agak lebay). 5 menit dalam perairan, leppa kami melintasi deretan rumah-rumah panggung yang bertengger 2-3 meter di atas permukaan laut.
Kampung Torosiaje berbentuk seperti “U” yang melebar terbuka ke arah laut Teluk Tomini. Perahu yang berasal dari daratan Sulawesi dapat dianggap datang dari pintu belakang. Orang Bajo selalu menganggap lautan luas adalah beranda utama kehidupannya. Untuk menuju ‘alun-alun’ di tengah Torosiaje, setiap perahu menyusur gang di antara rumah-rumah hingga melintas di bawah jembatan berhias papan kecil bertuliskan "welcome to bajo".
Sampai lah kami di salah satu rumah makan yang ada disana. Rumah makan itu menyediakan menu berbagai macam ikan dan lobster. Harga nya relatif murah kecuali lobster yang ketika tau harganya kami mengurungkan untuk memesan ^_^.
Setelah makan kami berjalan-jalan ke lorong-lorong yang ada di perkampungan. karena siang hari, banyak penduduk yang menutup pintu rumahnya. mungkin mereka tidur siang. di lorong lain kami melihat anak-anak yang dengan mudahnya menangkap ikan dengan bermodalkan tali pancing yang dilemparkan ke tengah lautan. anak-anak sampai takjub melihatnya. maklum di kota tidak akan ditemukan pemandangan seperti itu.
Setelah puas berjalan-jalan dan berfoto (of course). Anak-anak minta pulang ke marisa. baiklah.. terima kasih suamiku Nana Soeryana telah mengajak kami berpetualang lagi. ditunggu ya petualangan selanjutnya.
sumber : http://www.iqbalkautsar.com/2015/01/torosiaje-kisah-kampung-di-atas-laut.html?m=1




Komentar
Posting Komentar