KLIP TEMA "MARI BICARA CINTA" 15 FEBRUARI 2021

 

APAKAH NAMANYA CINTA BILA TERUS MENYAKITI?

Bagian 1

 

Baskoro adalah seorang pemuda asal Sumatera, Ia lulusan Sekolah Teknik Mesin yang ternama di kota tersebut. Suatu hari, tiba-tiba datanglah seorang saudara jauh dari ibunya. Seorang gadis cantik dan tampak lugu yang mengaku berasal dari tanah sunda. Oh ternyata gadis itu yatim piatu. Ia bermaksud menumpang tinggal di rumah orang tua baskoro karena memang merekalah satu-satunya keluarga yang tersisa dari pihak orang tua gadis itu. Nama gadis itu ialah Safira. Nama yang manis, semanis orangnya. Pikir Baskoro dalam hati.

“ Ah apa-apaan aku ini, gadis itu kan masih kerabat ibuku, malah kalau dirunut-runut dari garis keluarga, aku seharusnya memanggilnya bibi, “ ujar Baskoro dalam hati. “ Mungkin ini karena aku jarang melihat gadis cantik di sekolah dahulu, jadi ketika melihat Safira aku merasa ada sesuatu yang bergetar, “ Pikir Baskoro kembali.

Lalu emak memanggilku ke ruang tamu, “ Bas, sini keluar, ada tamu nih, sudah tahu ada tamu kok malah di kamar aja, “ ujar Emak. “ Iya mak, “ lalu Baskoro menuju ruang tamu. Mereka pun berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing, persis adegan sinetron yang iia tonton bersama emak. “ Aku Baskoro, anak emak satu-satunya. Selamat datang di kota Lampung” Lalu si gadis membalas jabatan tangan Baskoro “ Saya Safira dari kampung di dekat Gunung Ciremai, Jawa Barat”

“ Bas, Safira akan tinggal bersama kita. Ia kan sudah yatim piatu dan tidak ada keluarga lagi yang mau menampung. Memang emak yang mengajak ia tinggal disini. Safira nanti akan menemani emak jualan di pasar. Nanti Safira akan tidur sekamar bersama emak. “ Kata Emak menjelaskan. “ Iya mak, aku mau ke luar dulu ya mak, mau mencari-cari lowongan kerja. Sudah 2 bulan menganggur rasanya tidak enak mak. “ “ Baguslah kalau kau sadar, disuruh membantu dipasar kau tidak mau”. “ Pamit ya mak, assalamu’alaikum, “ Baskoro sambil mencium tangan emaknya.

“ Ayo Safira malah bengong, kenapa melihat Baskoro sebegitunya? Ganteng kan anak teteh? “ Tanya emak, lalu dengan terkejut Safira hanya mengangguk-angguk sambil malu-malu. “ Sini masuk ke kamar, teteh tunjukin kamarmu, Kita bareng aja ya, soalnya memang rumah teteh kecil, hanya ada dua kamar. Bapaknya Baskoro sudah tidak ada lagi. Ia sudah pergi entah bersama siapa. Ah sudahlah, sepertinya teteh tidak perlu menceritakan cerita masa lalu yang menyakitkan,. “ “ Iya teh, tapi apa sebaiknya saya juga panggil emak ya? Kok aneh kalau saya memanggil teteh. Memang bila dalam urutan keluarga kita teteh adalah sepupu saya. Tapi kan teteh seumuran dengan almarhum ayah saya. “ Kata Safira. “ Terserah, panggil apa pun yang membuatmu nyaman,”

Sudah enam bulan berlalu Safira menumpang tinggal bersama Ibu Henidar, Emaknya Baskoro. Selama tinggal di rumah mereka, Safira merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu sekaligus mendapatkan kasih sayang seorang abang. Usia yang terpaut dua tahun memang membuat Safira akhirnya memanggil panggilan abang kepada Baskoro. Sudah beberapa bulan tinggal bersama, rasanya ada benih-benih aneh yang Safira rasakan. Entah apa namanya. Namun yang pasti ia selalu senang bila melihat wajah Abang Baskoro dan sering mencuri-curi tatapan ketika mereka sarapan bersama.

Suatu pagi, emak memergoki saat Baskoro dan Safira saling menatap. “ eh, kalian kenapa? Ayo mengaku sama emak, Baskoro, Kamu suka ya dengan Safira?” Baskoro menyangkal, “ Apa sih mak, aku kan menganggap Safira adikku. Umurnya saja baru 17 tahun. “ “ Loh kenapa kalau 17 tahun? Sudah boleh menikah kok, “ kata emak enteng. “ Lalu kamu Safira? Mengapa melihat abangmu begitu? Apa ia terlalu ganteng bila dibandingkan pemuda-pemuda dikampungmu?” “ Ah emak biasa ja, engga mak, saya ga ngeliatin abang kok, Cuma senang melihat abang bas lahap sekali makannya.”

Pada siang hari di hari minggu, Emak mengumpulkan Baskoro dan Safira di ruang tamu. “ Bas dan Safira, sini duduk dekat emak, emak mau membicarakan sesuatu”. “ Wah ada apa mak? Sepertinya aka nada pembicaraan serius” Tanya Baskoro “ Begini bas, kamu kan sudah enam bulan ini bekerja, ya walau hanya jadi tukang pengantar kopi dan bersih-bersih di kantor sana tapi kan lumayan, kamu sudah ada penghasilan. “ “ Iya mak, lalu???” tanya Baskoro. “ Emak sudah mulai mendengar omongan-omongan yag tidak enak didengar dari tetangga-tetangga kita. Jadi emak langsung aja ya bas, emak meminta kamu menikahi Safira”, Baskoro dan Safira sama-sama terkejut. Sebetulnya Safira bahagia, karena memang selama beberapa bulan ini ia menyimpan perasaan khusus kepada Baskoro. Akan tetapi Baskoro tampaknya berbeda, karena memang ia menganggap safira sebagai adiknya sendiri. Tapi apa mau dikata. Ia pun menyetujui permintaan emak, karena ia merasa selama ini belum banyak memberikan kebahagiaan kepada emak.

Sebulan kemudian pernikahan digelar, Hanya pernikahan sederhana diadakan di rumah Baskoro. Mereka juga hanya mengundang tetangga terdekat. Yang bertindak sebagai wali nikah safira ialah wali hakim. Karena memang Safira sudah yatim piatu dan tidak memiliki saudara, ada sih keluarga almarhum ayahnya akan tetapi jauh di pulau jawa, sehingga mereke memutuskan untuk meminta tolong wali hakim saja yang bertindak sebagai wali nikah safira. Pernikahan sederhana berjalan dengan lancar, tampak raut kebahagiaan emak dan safira terlihat. Sedangkan baskoro? Ia masih belajar mencintai safira sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang adik.

 

 

----- bersambung ------

 

#KLIP2021

#setoranbulanfebruari

#setoranharike15

#bundahanamenulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF