ZONA 3 DAY 3 CERDAS SPIRITUAL DAN EMOSI

 


ZONA 3 CERDAS SPIRITUAL DAN EMOSI

HARI KETIGA

 

Kecerdasan emosional, pertama kali dinyatakan oleh Peter Salovy dari Harvard University dan John Mayer dari University Of New Hampshire. Mereka mengungkap kualitas-kualitas emosional yang sekiranya penting bagi keberhasilan hidup, antara lain: empati, kemandirian, pengendalian amarah, mengungkapkan dan memahami perasaan, kemampuan beradaptasi, menjadi pribadi yang disukai, penyelesaian masalah antarindividu, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.

Berikut ini 7 cara menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak, sejak usia dini:

Ungkapan kasih sayang afirmatif

Binalah hubungan yang terbuka dan saling menyayangi. Tidak perlu segan atau gengsi menunjukkan kasih sayang kepada anak, karena dapat membentuk citra diri yang positif, serta kesehatan mental yang baik pada anak dan orang tua.

Luangkan waktu khusus, sekitar 20 menit, untuk berinteraksi dengan anak tanpa distraksi apa pun, dan pastikan anak merasakan kasih sayang yang berlimpah dari Ayah dan Bunda. Selama waktu tersebut, pujilah anak dengan tulus dan tunjukkan antuasiasme terhadap aktivitas belajarnya.

Misalnya: “Wah, bagus sekali jembatan yang kamu bangun!” atau “Ayo, kita membangun menara bersama-sama.”. Dapat pula berupa pelukan atau usapan kepala yang membuat nyaman.

Membiasakan tata krama

Sopan santun begitu erat kaitannya dengan pembiasaan. Meski tidak instan, anak-anak akan terbiasa mengekspresikan tata krama jika Ayah dan Bunda konsisten mencontohkannya setiap waktu.

Setidaknya, ada empat kebiasaan penting yang harus ditanamkan, yaitu:

  • Memberi salam dengan ucapan ”Selamat pagi” atau ”Assalamu’alaikum” ketika menyapa orang lain.
  • Mengucapkan terima kasih apabila menerima suatu  kebaikan dari orang lain, berupa benda atau pertolongan.
  • Tidak segan mengakui kesalahan dan meminta maaf.
  • Meminta tolong dengan bahasa yang baik.

Melatih kejujuran dan berpikir realistis

Kejujuran berkaitan dengan kepercayaan dan keberanian menghadapi kenyataan. Untuk melatih kejujuran pada anak, bangun rasa saling percaya dan hormati privasi mereka. Sampaikan kisah keteladanan tentang kejujuran melalui buku atau video.

Tidak perlu menutupi atau merahasiakan kenyataan pahit. Misalnya, ketika anak terjatuh karena tersandung sesuatu, jangan pernah menyalahkan benda-benda karena akan membuat anak terbiasa mencari kambing hitam atas kesalahannya.

Ayah dan Bunda dapat mengkomunikasikan, “Mana yang sakit? Tersandung mainan, ya? Lain kali hati-hati kalau lari, Nak. Yuk, kita bereskan mainannya supaya tidak tersandung lagi.”

Menumbuhkan empati

Empati mulai berkembang sejak 6 tahun pertama kehidupan. Karena itu, bimbing anak untuk peduli terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain, serta mengekspresikan kepedulian mereka dengan tindakan yang tepat.

Beberapa upaya yang dapat Ayah dan Bunda lakukan, antara lain:

  • Membiasakan tanggung jawab pada anak, misalnya membereskan mainan sendiri atau membuang sampah di tempat sampah.
  • Memberi pemahaman mengenai perasaan orang lain ketika sedih, senang, atau marah.
  • Mengajak anak melakukan kebaikan secara acak, misalnya menjenguk orang sakit, mengambilkan barang, membukakan pintu, atau terlibat dalam kegiatan sosial.

Belajar mengenal emosi

Untuk mengungkapkan perasaan mereka, anak-anak perlu mengenal berbagai jenis emosi terlebih dahulu. Akui perasaan anak ketika ia menunjukkan suatu ekspresi.

Misalnya, sembari memberi pelukan, “Sedih ya karena tidak boleh makan permen? Tidak apa-apa, ya. Kita makan buah saja, yuk.” atau “Kamu marah karena Bunda tidak memperhatikan, ya? Maafkan Bunda, ya. Tadi terlalu sibuk di dapur. Sekarang, ayo main sama-sama.”

Mengelola konflik

Ketika terjadi suatu masalah, seperti bertengkar dengan saudara, manfaatkan situasi untuk mengembangkan kecerdasan emosial mereka. Contohnya, dengan membantu anak-anak mengelola konflik, seperti “Iya, Bunda tahu kalau kamu marah karena adik pinjam mainanmu, tapi tetap tidak boleh memukul, ya. Itu kasar. Adik jadi sakit, lho. Bisakah main sama-sama saja atau main yang lain?” atau “Adik, kalau mau pinjam mainan, minta izin dulu sama Kakak. Kalau tidak boleh, Adik main yang lain. Tidak boleh merebut, ya. Kakak jadi kesal.”

Bersikap tenang

Ketika anak marah, Ayah dan Bunda harus mampu menunjukkan kecerdasan emosional sebagai orang tua. Komunikasikan perasaan Ayah dan Bunda dengan tenang, namun tegas. Misalnya, “Nak, Bunda kalau kamu kasar sama Adik.” atau “Bunda lebih senang kalau kamu meminta tolong dengan baik dan pelan, tidak teriak-teriak, ya.”

Sumber : https://www.beberoosie.co.id/articles/7-cara-menumbuhkan-kecerdasan-emosional-anak-usia-dini

------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

Lanjut tantangan hari ketiga yaitu kami membahas huruf c dengan gambar cerek. Mengapa saya memilih family project dengan menggunakan buku dari Julia Sarah Rangkuti ini? Karena hana dalam tahap belajar membaca, nah ketika diajarkan membaca terkadang hana marah bila tidak mengingat huruf yang dibacanya. Makanya pas sekali family project ini memang saya sedang mencari cara lain agar hana mau diajar dan dilatih membaca. Selain itu juga dapat melatih emosi dan spiritual hana juga dengan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan tema.

Hari ini hana sedikit moody, karena ayah sedang keluar kota dan jadi alasannya malas melakukan kesepakatan yang dibuat tiap hari yaitu melakukan tantangan. Akan tetapi saya tidak memaksa hana, saya tetap membujuknya agar melakukan beberapa kegiatan yang hana suka saja. Hana boleh melewati kegiatan yang tidak mau dilakukan. Akhirnya hana memilih menulis kata “cerek”, menggunting pola cerek atau teko, lalu menarik garis angka arab. Hana tidak mau diajak menonton film kartun. Padahal rencananya bunda akan mengajak hana menonton cerita tentang air zam-zam.

Setelah melakukan tantangan hana lebih suka dibacakan buku oleh bunda. Tadi hana minta bacakan cerita “ si kerudung merah”. Hana yang tadinya moody dan agak sedih menjadi ceria kembali karena telah dibacakan buku oleh bunda.

Hari ini bisa dibilang tidak belajar dengan lancar, akan tetapi hana berhasil memberitahukan perasaan tidak nyamannya karena sedang kangen kepada ayah dan sedang tidak mau mengikuti tantangan dari bunda. Dari sana setidaknya bunda mengerti hana sudah mulai bisa mengelola emosi dan jujur kepada bunda. Akhirnya kegiatan tambahan lainnya yaitu kami membaca-baca buku cerita lainnya yang disukai hana.  Hari ini cukup mendapat poin 85 % untuk bunda. Semangat selalu, walau pun sedang berjauhan dari suami.

 









#hariketiga

#harike3

#tantangan15hari

#zona3cerdasemosidanspiritual

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia

#familyproject

#sahabatterbaik

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF