TOROSIAJE, DESA DIATAS AIR



















TANTANGAN 2 HARI KEENAM
RUMBEL MENULIS
KOMUNITAS IP SAMKABAR



Torosiaje, Desa Diatas Air


            Tahun 2017 ketika kami masih tinggal di Gorontalo. Kami berkesempatan main ke Torosiaje. Torosiaje adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Popayato, kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Indonesia. Desa ini terdiri atas 2 dusun. Desa ini merupakan kampung Suku Bajo. Kampung diatas air yang terletak 600 meter dari daratan. Di desa ini terdapat perkampungan suku Bajo yang dibangun di atas pantai (wikipedia).
              Selama lima jam kami melalui jalan Trans Sulawesi sejauh  240 km dari Kota Gorontalo. Hal ini sungguh melelahkan, apalagi kami membawa 2 balita dan 1 anak. Kami sering berhenti dari masjid satu ke masjid lain dikarenakan anak-anak yang bergantian ke toilet.  Dari Gorontalo  menghabiskan waktu selama 3 jam untuk bisa sampai di marisa, ibukota kabupaten pohuwato. Lalu ditambah 2 jam lagi  dari Marisa untuk bisa sampai ke perkampungan Torosiaje.
             Sesampainya di desa sebelum menuju Torosiaje. Kami harus naik perahu kecil. Begitu turun dari mobil, beberapa orang langsung mendatangi kami menawarkan ojek perahu. Ada beberapa ojek perahu yang  siap di dermaga. satu kali jalan ditarik ongkos Rp 5000. Untuk menuju perahu, kami berjalan 150 meter diatas jembatan yang membelah rimbunnya hutan mangrove yang membentengi pesisir selatan Pohuwato dari abrasi laut. Suami bercerita tadinya akan dibangun jembatan sampai perkampungan tapi ditolak warga karena alasan tertentu.
            Nama perahu kecil khas bajo yang membawa kami ke perkampungan Torosiaje ialah leppa. leppa hanya muat untuk 10 orang saja. Kami sekeluarga melintasi perkampungan di tengah hari. jam 1 siang cukup membuat kulit ini sedikit gosong. Selama 5 menit, leppa kami melintasi deretan rumah-rumah panggung yang bertengger 2-3 meter di atas permukaan laut.
           Kampung Torosiaje berbentuk seperti “U” yang melebar terbuka ke arah laut Teluk Tomini. Perahu yang berasal dari daratan Sulawesi dapat dianggap datang dari pintu belakang. Orang Bajo selalu menganggap lautan luas adalah beranda utama kehidupannya. Untuk menuju ‘alun-alun’ di tengah Torosiaje, setiap perahu menyusur gang di antara rumah-rumah hingga melintas di bawah jembatan berhias papan kecil bertuliskan "welcome to bajo".
              Sampai lah kami di salah satu rumah makan yang ada disana. Rumah makan itu menyediakan menu berbagai macam ikan dan lobster. Harga nya relatif murah kecuali lobster yang ketika tau harganya kami mengurungkan untuk memesan. Menu yang ditawarkan rumah makan di sana sangat menggugah selera. aa kyo sampai nambah berkali-kali karena suka sekali dengan menunya. 
           Setelah makan kami berjalan-jalan ke lorong-lorong yang ada di perkampungan. karena siang hari, banyak penduduk yang menutup pintu rumahnya. mungkin mereka tidur siang. di lorong lain kami melihat anak-anak yang dengan mudahnya menangkap ikan dengan bermodalkan tali pancing yang dilemparkan ke tengah lautan. anak-anak sampai takjub melihatnya. maklum di kota tidak akan ditemukan pemandangan seperti itu. Setelah puas makan, jalan-jalan keliling perkempungan dan berfoto. Kami pun pulang ke hotel dan beristirahat.
           Kenangan selama di Torosiaje dan keunikan desanya selalu teringat walaupun sekarang kami sudah berada di kota lain. Semoga ada waktu lagi untuk berkunjung ke Torosiaje.

#tantangan2day5
#30harisemangatmenulis
#30harifreewriting
#30haribercerita
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#bundahanamenulis
#febriliciouswriting



sumber : http://www.iqbalkautsar.com/2015/01/torosiaje-kisah-kampung-di-atas-laut.html?m=1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF