TETANGGA RASA SAUDARA
TANTANGAN
2 HARI KETIGA
RUMBEL
MENULIS
KOMUNITAS
IP SAMKABAR
Tetangga
rasa Saudara
Sejak menikah 13 tahun yang lalu. Aku memang sudah hidup terpisah dari
orang tuaku. Karena suamiku seorang ASN maka aku pun selalu ikut kemanapun
suamiku ditempatkan. Rumah kontrakan yang pertama kali kami tempati berada di
sebuah gang di jalan Antasari, Bandar Lampung. Sebuah kontrakan bedengan atau
bangsalan dimana dalam 1 atap ada 5 rumah berjejer.
Di rumah bedengan itu kami tinggal selama 3 tahun di awal-awal
pernikahan. Tentu saja kami saling mengenal diantara tetangga bedengan itu.
Selain tetangga di bedeng. Kami juga kenal dengan beberapa tetangga lain di
sekitar bedengan tersebut.
Pada saat lahirnya anak pertama. Aku masih ingat. Ada pasangan muda yang
baru menikah. Merekalah yang menolong kami mencari kan angkot ke rumah sakit.
Selain itu yang mengazankan juga tetanggaku. Karena suami berada di luar kota
saat itu.
Ternyata tetanggaku itu ingat dengan pesan ibundanya di kampung
halamannya. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya." (HR
Bukhari-Muslim). Padahal kami termasuk baru saling mengenal. Tapi pasangan muda
itu menganggap Aku saudaranya dan ada saja kebaikan yang kami terima.
Beda lagi ketika tinggal di Gorontalo. Ada seorang sahabat yang termasuk
tetangga jauh juga. Beliau sangat baik sekali. Kadang mengirimkan hasil
masakannya pada kami. Ada juga kejadian yang sangat Aku ingat. Ketika Aku harus
dikuret dan di rawat di rumah sakit. Kedua anakku pun Aku titip pada
tetanggaku. Pun ketika melahirkan anak ketiga dan suamiku harus menungguiku di
rumah sakit. Sahabatku itu lah yang dititipkan 2 anak kami lainnya.
Aku pernah membaca sebuah hadist yang bunyinya. Rasulullah SAW berkata,
"Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang
beriman hingga ia mencintai untuk tetangganya, atau beliau berkata, untuk
saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR Muslim). Di
sepanjang perjalananku berumah tangga. Banyak sekali jasa tetangga dan sahabat
di sekitar tempatku tinggal. Dari situ Aku juga berusaha untuk berbuat baik
lagi kepada para tetanggaku.
Lain lagi dengan cerita bertetangga di Samarinda. Walaupun keadaan nya
di perumahan dan cenderung individualistis. Tapi tidak dengan tetangga di
perumahan yang Aku tempati saat ini. Ada tetangga baikku yang sangat suka
memasak. Kadang tak jarang masakannya tercium sampai di rumahku. Lalu
tetanggaku ini rajin sekali membagi hasil karya masakannya. Kadang lauk pauk,
kadang juga berupa cemilan. Tetangga depan rumahku pun begitu. Selain makanan,
pernah membelikan baju tidur couple untuk anakku Hana dan untuk anaknya.
Tetanggaku yang di ujung rumah tak kalah baiknya. Setiap dari luar negeri. Aku
sering kecipratan oleh-oleh darinya. Ada juga tetanggaku yang selalu menawarkan
anakku untuk berangkat sekolah bersama, ketika dilihatnya Aku kerepotan membawa
3 anak dengan naik motor.
Rasulullah SAW mengajarkan dalam haditsnya, "Dan demi Dzat yang
jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang beriman hingga ia
mencintai untuk tetangganya, atau beliau berkata, untuk saudaranya apa yang ia
cintai untuk dirinya sendiri." (HR Muslim).
Terkadang ada saja kejadian yang membuat kita memang mau tidak mau
memang harus minta tolong kepada tetangga. Ada kejadian di tahun 2019 yang
lalu. Ketika itu suami sedang dinas ke daerah yang jauh dari Samarinda.
Perjalanan darat bisa mencapai 10 jam. Sedangkan pesawat hanya ada 1 minggu
sekali.
Ketika itu anak pertamaku sakit. Dari dokter umum diindikasikan bahwa
anakku amandelnya sudah besar dan harus di operasi. Akhirnya aku memastikan
lagi dan memeriksakan ke dokter THT. Lalu dokter memutuskan memang anakku harus
dioperasi secepatnya. Setelah mengurus semua surat dan mendapatkan kamar.
Tetanggaku datang menghampiri kami. Lalu mereka membawa 2 anakku yang lain agar
dapat beristirahat di rumah mereka. Padahal sebelumnya Aku sempat kepikiran
bagaimana dengan 2 anakku yang lain bila Aku mengurus anak pertamaku. Alhamdulillah
semua itu telah berlalu dengan lancar.
Dari artikel yang pernah kubaca tentang Adab Bertetangga yang Sehat Menurut Syekh Muhammad bin Jamil, ada beberapa etika dan adab pergaulan dengan tetangga yang selayaknya kita perhatikan diantaranya mencintai kebaikan untuk tetangga kita sebagaimana kita menyukai kebaikan itu untuk diri sendiri. Bergembira jika tetangga kita mendapat kebaikan dan kebahagiaan, serta menjauhi sikap dengki.
Semoga
dimanapun berada. Aku dan keluarga selalu bertemu dengan tetangga yang baik
hati. Tetangga yang selalu mengajakku kepada kebaikan dan Bersama-sama
menciptakan lingkungan yang sehat untuk anak-anak kami.
#tantangan2day3
#30harisemangatmenulis
#30harifreewriting
#30haribercerita
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#bundahanamenulis
#febriliciouswriting


Komentar
Posting Komentar