Sulungku, Cinta Pertamaku
Tantangan
Hari ketiga
Rumbel
Menulis
Komunitas
IP Samkabar
Sulungku, Cinta Pertamaku
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Tantangan
rumbel menulis kali ini tentang anak sulung. Awal menikah Aku dan suami tinggal
di sebuah rumah bangsalan di kota Bandar Lampung. Kami menikah tahun 2007 tapi
baru diberi amanah tahun 2009. Sebelum hamil anak pertama, sebetulnya Aku sudah
pernah hamil. Tapi masuk bulan keempat terpaksa harus dikuret karena tidak
berkembang. Lalu 3 bulan setelah dikuret Aku hamil kembali.
Selama
mengandung anak pertama. Aku tidak terlalu mengalami emesis. Aku bekerja
seperti biasa dari pagi sampai sore. Akan tetapi di kehamilan ke 6 bulan
terpaksa harus masuk rumah sakit karena ada pendarahan. Lalu masuk ke 8 bulan pun
kembali masuk rumah sakit, terjadi pendarahan lagi dan harus mengambil cuti dari awal.
Hari
yang dinanti tiba, disaat suami kebetulan lagi dinas di luar kota. Aku yang
waktu itu ditemani mama (alm) merasakan gelombang cinta yang lumayan menyakitkan.
Gelombang cinta itu sudah datang dari jam 3 subuh. Kukira hanya mules biasa.
Awalnya cuma tiap jam lalu akhirnya di siang harinya aku ke rumah sakit. Setelah
periksa dalam, bidan memberitahukan hpl nya masih 1 minggu lagi masih belum ada
bukaan.
Sampai
di rumah rasa mulesnya semakin kuat. Setelah maghrib Aku tidak tahan lagi. Rasa
sakitnya selalu dating dan semakin lama semakin sering terasa. Akhirnya minta
tolong tetangga untuk menyewa angkot, karena mobil rental yang dipesan
sebelumnya sedang ada penumpang. Akhirnya ditemenin mama naik angkot. Di tengah
perjalanan, supir angkot mau menaikkan penumpang. Masyaallah, padahal sudah
mules tidak tertahan, seperti ada yang mau keluar lewat jalan lahir.
Lalu
sampailah di rumah bersalin. Seperti orang yang tidak merasakan apa-apa. Dengan
santainya aku turun dari angkot dan berjalan perlahan memasuki rumah bersalin,
sedang mama melanjutkan pembayaran ke supir angkot. Di pintu rumah sakit Aku
dibawa ke ruang bersalin lalu diperiksa dalam. Bidan mengatakan kepadaku bahwa sudah bukaan 10 dan sudah pecah ketuban.
Kemudian
Aku dibimbing kapan harus mengejan. Dokter sedang di perjalanan waktu itu. Aku
mengikuti instruksi dari bidan. Lalu kuingat ketika bayinya keluar berbarengan
dengan datangnya dokter. Alhamdulillah anak sulungku lahir jam 20.00 WIB. Ia
lahir tanpa didampingi ayahnya, karena ayahnya sedang mengemban tugas negara.
Namanya ialah Muhammad Labib Kyoshi, berat badan 2,5kg dan Panjang 49 kg.
Walau lahir
dengan berat badan 2,5 kg, alhamdulillah pertumbuhan Kyoshi berkembang seperti
anak lainnya. Bisa duduk pada umur 6 bulan lalu berjalan pada umur 1 tahun.
Kyoshi tidak mengalami fase merangkak, semoga tidak berpengaruh pada perkembangan
tubuhnya.
Kyoshi
mengalami speech delay sampai umur 4 tahun hanya bisa mengucapkan
beberapa kata. Yaitu Bunda, AC, Kipas angin. Ia sangat suka sekali benda yang
berputar dan sangat penasaran melihat poster-poster yang ditempel di kelas. Bahkan
di dalam kelas ketika Ia TK A pun hanya berlari-lari di dalam kelas. Untungnya
guru-guru di sekolahnya memaklumi. Ketika pengambilan nilai untuk hafalan do’a
dan surat pendek. Kyoshi hanya mau setor ke Bunda.
Naik ke
TK B Kyoshi tidak pernah mau duduk di kursinya. Masih mengelilingi kelas dan
melihat kipas angin. Ketika teman-temannya sudah bias menulis dan membaca. Aku
harus ekstra sabar mengajari di rumah. Padahal ketika itu Kyoshi juga sudah
punya 2 adik.
Disuatu
siang hari. Aku yang kelelahan pun tertidur. Karena sambil meng-ASIhi Hana,
anak ketigaku. Setelah bangun tidur, Iyaz, anak keduaku memberitahukan bahwa Aa
Kyoshi membantu membersihkan setelah BAB. Masyaallah. Anak sulungku. Sudah ada
rasa tanggung jawab kepada adiknya. Ketika kutanya, “Kenapa ga bangunin Bunda?”
Lalu Aa Kyoshi menjawab :” Kesian bunda kecapean”. Langsung aku terharu. Ia
bahkan belum SD. Tapi sudah mengerti keadaanku.
Kami berempat
memang sering ditinggal dinas oleh Ayahnya anak-anak. Jadi secara tidak
langsung, diusia yang masih belia. Kyoshi sudah mempunyai tanggung jawab dan
membantu pekerjaan rumah. Tak jarang ia yang mengunci pagar, semua jendela dan
pintu dan menyalakan lampu apabila malam sudah tiba.
Kyoshi
juga meringankan pekerjaan bundanya membereskan mainan adik-adik. Terkadang Ia
mengangkat jemuran dan mencuci piring tanpa kusuruh. Sebelum tidur Aku selalu
mencium dan memeluknya bergantian dengan adik-adik. Sambil berkata : “ Terima
kasih Aa sudah hebat hari ini, bunda sayang aa”
Memasuki
SD kelas 1 Kyoshi belum lancar membaca tapi sudah bisa mengaji dan menulis. Aku
menghapus rasa malu ku karena anakku salah satu murid yang belum bisa membaca. Bagiku
Ia menjadi anak yang baik dan pengertian itu sudah cukup. Toh mereka tidak tahu
betapa hebat dan mandirinya anakku di rumah. Anak yang tidak pernah menyusahkan
orang tuanya. Anak yang jadi teladan adik-adiknya dalam beribadah.
Sekarang
Kyoshi bukan hanya bisa membaca, tapi suka membaca buku. Buku yang disukainya adalah
ensiklopedi. Umurnya menjelang 11 tahun. Selain bisa mencuci piring, menyapu,
mengepel, memasang sprei kasur. Ia juga bisa sedikit memasak. Walau sering
pindah sekolah Ia bisa mengikuti pelajaran di kelas dan mendapat nilai yang
bagus. Sudah lewat rasa kuatirku yang berlebihan karena dulu Ia belum bisa
membaca.
Kyoshi,
semoga menjadi anak yang soleh, cerdas, sayang keluarga, baik hati, baik budi. Kyoshi
adalah cinta pertama bunda. Aa yang mengajarkan kepada bunda bagaimana menjadi
Orang tua pertama kali. Aa mengajarkan kesabaran dan membuat bunda menjadi
orang yang kuat di tanah rantau. I love u Kyoshi.
Wassalamu’alaikum wr wb.
#tantangan1day3
#anaksulungku
#onedayonewrite
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar



Komentar
Posting Komentar