PENGALAMAN MELAHIRKAN ANAK KEDUA










TANTANGAN 2 HARI KESEPULUH
RUMBEL MENULIS
KOMUNITAS IP SAMKABAR


Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

        Melahirkan anak kedua berbeda dengan kondisi waktu anak pertama. Kondisi ekonomi keluarga kami sudah mulai lebih baik. Dan ada suami yang siaga mengantar Saya bolak balik ke rumah sakit.
      Awal hamil anak kedua ini diluar perkiraan juga. Bahkan rasanya Saya belum siap. Karena sebelum hamil, Saya mulai bekerja kembali di salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris Internasional. Saya mengajar dari siang sampai sore saja.
       Oya karena Saya mulai kerja, aa kyo juga mulai dimasukkan ke salah satu PAUD yang berada di pinggiran Bandar Lampung. Pagi sekolah lalu sore baru pulang ke rumah. Karena kyo sekalian saya titipkan ibu angkat yang kebetulan menjadi Ibu kantin di sekolah kyo.
      Selama kehamilan anak kedua lancar saja. Malah Saya lebih sibuk. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja di ranah publik. Selain itu, Saya juga sering ditinggal dinas keluar kota. Kebayang kan hectic nya hari-hari Saya.
        Dari bulan pertama kehamilan sampai bulan kesembilan alhamdulillah lancar. Mungkin karena suasana di tempat kerja juga yang membuat saya bahagia dan rileks. Tiap sore ada saja makanan yang kami makan bersama-sama. Karena kebetulan teman sekantor juga yang hamil, pasti setiap lapar ada saja makanan yang kami beli.
        Setelah memasuki bulan ke-9 kehamilan. Saya pun cuti. Hari-hari Saya lalui dengan mengerjakan tugas rumah tangga seperti biasa. Setelah ada tanda-tanda mules beberapa hari sebelum melahirkan. Mama (alm), Papa dan adik-adik serta keponakan dari Palembang datang ke rumah kami.
       Di suatu siang hari kami sedang berkumpul di rumah. Lalu ada rasa mules. Akhirnya Saya pun ke rumah sakit dan membawa tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan. Sampai di rumah sakit dan di periksa dalam. Ternyata masih bukaan satu. Saya pun di suruh pulang lagi.
      Sesampainya di rumah rasa mules semakin datang. Saya istighfar sebanyak-banyaknya, lalu sholat seperti biasa. Tambah malam tambah mules. Akhirnya jam 1 malam Saya pun diantar lagi ke rumah sakit. Lalu diperiksa lagi oleh bidan. Ternyata sudah bukaan 3. Memang lambat sekali kurasa. Akhirnya kami tidak boleh lagi pulang ke rumah. Kami langsung menginap di rumah sakit.
       Saya sempat diajak suami jalan kaki lagi. Bayangkan jam 1 malam kami berjalan bolak balik di koridor rumah sakit. Setelah lelah. Kami masuk kamar inap. Karena lapar, Suami pun membelikan nasi goreng. Kami pun makan bersama. Saya tidak kuatir meninggalkan aa kyo di rumah karena bersama dengan kakek nenek dan tantenya.
       Semalaman itu Saya benar-benar terjaga. Mules nya benar-benar ga tahan. Saya juga dalam keadaan batuk dan pilek. Kebayang kan ga enaknya. Setelah mandi pagi dan sarapan, bidan datang dan mengatakan sudah mulai bukaan 7. Saya disuruh menunggu lagi.
        Menjelang pukul 9. Rasa sakitnya benar-benar tidak bisa Saya tahan. Akhirnya dibawa ke ruang bersalin. Lalu diperiksa dalam lagi oleh bidan, ternyata masih bukaan 9. Lalu bidan memberitahukan bahwa dokter yang biasa memeriksa kandungan sedang berada di luar kota dan kami ditanya apakah ingin berganti dokter. Lalu suami memutuskan cukup sama bidan saja.
        Masih dengan rasa sakit dan mules. Ternyata akhirnya sudah bukaan 10. Tapi bidan melarang untuk mengejan karena belum pecah ketuban. Harus menunggu beberapa detik lagi. Saya benar-benar tidak tahan. Sudah lemas rasanya. Saya juga dipasang infus karena semalaman terjaga. Suami yang kala itu berada di samping Saya merasa gemas. Sampai ikut-ikutan memberikan aba-aba atur nafas mengikuti aba-aba bidan. Saya sampai berteriak “ pecahkan saja ketubannya bu, ga kuat lagi ini” lalu bidan memberitahukan Saya harus sabar lagi menunggu, karena ketuban lebih baik pecah secara alami. Terus terang. Saya tidak tau bagimana rasanya pecah ketuban. Saya konsentrasi dan banyak bertasbih, beristighfar dan membaca doa-doa yang Saya ingat. Sampai akhirnya terasa nyesssss, ada yang pecah. Lalu Saya diberi aba-aba untuk mengejan. Kondisi yang sedang batuk dan pilek membuat Saya kesulitan bernafas. Alhamdulillah tidak berapa lama keluar juga. Seorang bayi laki-laki. Pada pukul 9.30 WIB.
          Suamiku berkali-kali menciumku dan mengatakan “ Terima kasih sayang”. Mungkin ini kali pertama Ia menyaksikan momen melahirkan anaknya sendiri. Karena waktu Saya melahirkan anak pertama. Ia berada di luar kota. Perasaan bahagia menyelimuti hatiku karena akhirnya ada suamiku yang mendampingi proses melahirkan anak kedua. Anak laki-laki itu kami beri nama M. Gentza Abyaz. Seorang anak laki-laki yang cerdas dan perkasa. Nama yang sudah Saya siapkan dari beberapa bulan sebelumnya, sejak Saya tahu akan mendapat anak laki-laki kembali.
          Selalu ada cerita yang menarik dibalik proses kelahiran seorang anak. Sebagai orang tua, Kami selalu mendoakan yang terbaik bagi anak-anak kami. Agar anak-anak menjadi anak-anak yang soleh solehah, baik budi, baik hati, cerdas dan semua yang terbaik. Terima kasih ya Allah. Atas segala karuniaMu.

#tantangan2day10

#30harisemangatmenulis
#30harifreewriting
#30haribercerita
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#bundahanamenulis
#febriliciouswriting

         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZONA 2 MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Aliran Rasa Tahap Telur

DAY #2 ZONA 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF