KYOSHI DAN OPERASI AMANDEL
makan pizza sebelum operasi
pasca operasi
makan bubur sumsum
TANTANGAN
2 HARI KESEMBILAN
RUMBEL
MENULIS
KOMUNITAS
IP SAMKABAR
Kyoshi
dan operasi amandel
Awal pembuka tahun 2019. Ada saja
kejadian yang membuatku harus banyak sabar dan menahan tangis. Saat itu Aku
hanya bersama anak-anak di rumah. Karena suami sedang dinas di Kutai Barat
selama 1 bulan.
Kejadian bermula ketika Kyo radang tenggorokan.
Lalu kubawa ke klinik. Setelah diperiksa dokter, dokter mengindikasikan ada
amandel kyo sudah besar dan harus segera di operasi. Dokter pun meyakinkan
kalau sudah di operasi, tidur kyo ga akan mendengkur lagi. Karena memang selama
ini setiap malam Aku mendengar dengkuran yang keras banget dari kyo. Ku pikir
itu terjadi karena badannya yang besar. Karena belum terlalu yakin dengan
penjelasan dokter umum. Aku pun memeriksakan kyo ke dokter THT.
Aku dan anak-anak menuju dokter THT
di jalan Antasari. Selain memeriksakan kyo juga membersihkan telinga
adik-adiknya. Ternyata dari hasil pemeriksaan dokter THT juga mengatakan bahwa
kyo harus segera di operasi. Lemes rasanya. Bingung, Aku harus bagaimana. Tapi
dari dokter dijelaskan. Kalau operasinya bisa memakai BPJS. Alhamdulillah.
Ternyata proses memakai BPJS untuk
berobat ke Rumah Sakit yang dirujuk tidak terlalu ribet. Kami hanya butuh surat
rujukan dari klinik, lalu fotokopi kartu BPJS dan kartu keluarga. Setelah dapat
surat rujukan dari klinik, kami menuju rumah sakit yang berada di JL. Kadrie
Oenig. Lalu Kami ke bagian costumer
service. Dicarilah kamar untuk penyembuhan. Ternyata kamar yang sesuai dengan
kelas BPJS penuh semua. Kami pun disarankan untuk naik kelas. Akan tetapi harus
deposit 4 juta. Pada saat itu Aku hanya membawa uang 1 juta. Lalu kutelepon
suami. Sambil menangis kubilang uangku kurang dan minta segera di transfer.
Kalau diingat-ingat kenapa ya aku harus nangis? Aku sebenarnya tidak tega
mendengar kata operasi. Apalagi kyo masih 9 tahun. Ditambah suami yang berada
di luar kota membuat Aku harus mengurus segalanya disini apalagi kami juga jauh
dari keluarga. Mau minta tolong pun bingung kepada siapa, karena Aku belum
punya banyak teman. Setelah selesai menelepon. Aku meminta keringanan agar
depositnya bisa kubayar malam atau besok harinya. Alhamdulillah kami diberi
keringanan dan dibolehkan membayar deposit keesokan harinya.
Hari semakin petang. Dari siang aku
sana sini membawa 3 anakku. Sebelum operasi tentu saja harus melakukan seluruh
pemeriksaan. Mulai dari cek darah lalu rontgen. Yang paling sulit adalah ketika
mengambil darah. Kyo cenderung memberontak. Lebih kurang 30 menit para perawat
membujuknya. Aku pun sudah berkeringat. Semua bujukan kukeluarkan. Tapi belum
juga mempan. Akhirnya kyo mau diambil darahnya setelah kupangku. Iya betul,
setelah dipangku bundanya, kyo mau diambil darahnya. Anak umur 9 tahun yang
berat badannya 50 kg waktu itu. Masyaallah.
Proses pengambilan darah itu
betul-betul heboh. Selain lama, Teriakan kyo juga membuat orang kepo dengan
keadaan di lab pemeriksaan darah. Adik-adiknya kyo juga melihat ketika aa kyo
diambil darahnya. Mereka terlihat ngeri, tapi hanya diam.
Di ruang rontgen kejadiannya beda
lagi. Ketika akan di rontgen. Kyo tidak mau membuka bajunya. Karena malu.
Karena dia tahu bahwa tidak boleh menunjukkan aurat kepada orang lain. Lalu
bunda bilang, aurat laki-laki beda dengan perempuan. Dari pusar sampai lutut
saja. Selain itu, walau pun aurat tapi kalau untuk berobat dan kesehatan tidak
apa-apa. Setelah dijelaskan barulah ia mengerti.
Hari semakin malam. Aku bingung
bagaimana nasib 2 anakku lainnya. Mereka sudah kelaparan sedangkan aku tidak
bisa meninggalkan kyo sendiri. Kami sedang menunggu kamar supaya bisa
beristirahat. Karena jadwal operasi sudah ditentukan keesokan harinya. Sambil
menunggu di depan ruang rontgen Aku berdoa kepada Allah SWT. Aku berdoa ada
teman yang membantu, karena Aku sadar masih sedikit temanku. Bingung harus
menelepon siapa untuk meminta bantuan. Tak lama ada telepon dari tetanggaku di
perumahan dan kebetulan memang teman 1 kantor suami. Lalu mereka datang ke
rumah sakit dan membawa Hana dan Iyaz ke rumah mereka. Alhamdulillah doaku
terjawab.
Jam 9 malam kami akhirnya bisa masuk
kamar. Setelah di kamar kyo meminta dibelikan pizza dengan topping kesukaannya,
“ Aku mau makan enak dulu sebelum operasi,” kata Kyo. Lalu jam 10 malam pizza
nya datang dan kyo menghabiskan 3 potong pizza. Setelah itu ia dapat tidur.
Sedangkan Aku, masih kepikiran anak bungsuku. Karena kami belum pernah
seharipun berpisah. Pasti akan menjadi malam yang panjang untuk Hana. Suami ku
berada di perjalanan. Karena dari Kutai Barat ke Samarinda bisa menempuh waktu
10 jam perjalanan. Sedangkan pesawat kecil hanya ada 1 minggu sekali.
Benarlah dugaanku. Jam 1.30 WITA. Aku
ditelepon temanku. Sambil kudengar tangisan Hana. Bundaaa bundaa.. terasa pilu
sekali. Mungkin Hana bingung. Mengapa Bunda tidak ada disampingnya. Untungnya
tak lama kemudian datanglah ayahnya Hana ke rumah temanku. Langsung lah Hana
dibawa ke rumah sakit saat itu juga.
Pagi harinya setelah kyo mandi. Ada
perawat yang datang untuk memasang infus. Terjadi drama lagi. Apalagi ada
ayahnya. Tambah menjadi dramanya kyo. Tangannya tidak mau sama sekali disentuh
oleh perawat. Boro-boro mau memasukkan jarum untuk infus. Awalnya dibujuk
sampai ayahnya bilang, " aa mau sembuh ga? Kalau mau sembuh harus di
operasi, dan sebelum operasi harus di pasang infus dulu". "Nanti
kalau sudah sembuh dibeliin lagi makanan yang enak" dengan iming-iming
'makanan' akhirnya kyo menyerah. Walau suaranya menggelegar yang penting infus
terpasang.
Jam 8 pagi tanggal 14 Februari 2019 operasi
dimulai. Disepanjang operasi Aku selalu berdoa kepada Allah SWT untuk
memberikan kelancaran pada operasi dan diberikan kesembuhan untuk anakku. Dengan
mengingat Allah hati menjadi tenang. Kali
ini tidak menangis. Masa sedih dan capek sudah hilang. Aku optimis kyo akan
sembuh dan selalu sehat.
Tidak berapa lama. Dokter keluar dan
memberitahukan bahwa operasi berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Tinggal
menunggu di ruang penyembuhan. Beberapa jam kemudian kyo diantar ke kamar
penyembuhan. Ketika sadar kyo hanya merasa haus dan tidak menangis. Cuma bunda
aja yang masih melow ingin nangis lagi.
Aku merasa tahun 2019 lalu adalah
memang tahun ujian sebagai orang tua. Pertama kalinya juga Aku mengurus
kelengkapan untuk menginap di rumah sakit dan pas ketika suami lagi di luar
kota.
Semoga hal ini membuatku semakin
menjadi Ibu dan Istri yang tangguh. When Allah is by your side, nothing is
impossible. Kata-kata itu selalu kuingat.
Semoga sehat terus cinta pertama
bunda, jagoan bunda, anak solehnya bunda. Semoga kami sekeluarga diberikan
keselamatan dan kesehatan selalu oleh Allah SWT.
#tantangan2day9
#30harisemangatmenulis
#30harifreewriting
#30haribercerita
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#bundahanamenulis
#febriliciouswriting




Komentar
Posting Komentar