Kisah Klasik Sekolah (SMP)
Tantangan hari keempat
Rumbel menulis
Komunitas IP Samkabar
Aku masuk Sekolah Menengah Pertama
(SMP) pada tahun 1996. Kala itu yang mengurus masuk smp aku sendiri. Dari SD
yang lama aku mendaftar bersama teman-teman dengan berjalan kaki. Setelah beberapa
minggu mendaftar, akhirnya diumumkan lah aku dan beberapa teman diterima,
sedangkan ada juga teman yang lain terpaksa harus mencari sekolah swasta karena
tidak diterima di sekolah negeri.
Di kelas 1 aku sekelas dengan beberapa
teman dari SD. Karena memang SMP tersebut satu-satunya rayon yang terdekat
dengan SD ku. Di kelas 1 Aku semeja dengan sahabat ku dari SD yaitu Ami. Selain
pintar Ia cantik dan sangat percaya diri.
Selama
kelas 1 berjalan dengan lancar. Tapi ada 1 kejadian yang Aku ingat sampai sekarang.
Pada suatu siang di ruang kelas, Kami murid-murid sedang khusyu mengerjakan
soal-soal yang diberikan guru Bahasa Indonesia. Ibu Guru Bahasa Indonesia
adalah Ibu Guru favoritku dan teman-teman. Selama kegiatan belajar berlangsung,
ada seorang temanku yang ingin meminjam penghapus. Karena temanku malas
mengambil penghapusnya, lalu kulempar lah penghapus itu ke arah depan dekat
dengan meja guru ( posisi tempat dudukku paling belakang dan tempat duduk
temanku di depan). Kulemparlah penghapus kecil itu, tapi apa yang terjadi? Ternyata
penghapus itu mendarat di kepala guru yang sedang duduk. Ya Allah aku gemetar. Pasti
aku akan mendapat hukuman, ucapku dalam hati.
Lalu
aku disuruh maju ke depan kelas oleh Guru yang bersangkutan. Aku langsung minta
maaf. Tapi hukuman tetap ada, Lalu apa hukumanku? Aku disuruh melempar
penghapus ke arah atas dan menangkapnya selama 10x. Bila Aku gagal, lemparan
diulang dari pertama. Perasaanku campur aduk pada saat itu, Selain malu aku
juga takut, takut nilai ku dikurangi. Setelah berkali – kali gagal melempar
penghapusnya kea rah atas. Akhirnya selesai juga setelah 15 menit berlalu. Setelah
kejadian itu Aku tidak berani menatap guru Bahasa Indonesia itu.
Aku
naik ke kelas 2 dengan nilai yang lumayan. Aku masuk peringkat 3 besar dan
bergabung dengan kelas 2.3. Disinilah cerita percintaan monyet ku dimulai. Di kelas
2 lah aku mulai mendapatkan surat cinta. Surat cinta nya datang berkali-kali. Aku
tahu siapa yang mengirimkan surat itu. Hingga suatu hari aku dipanggil guru
Bahasa Indonesia ke perpustakaan. Karena
pada waktu itu beliau juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan. Otomatis sering
berkantor di perpustakaan. Sesampai di perpustakaan, Ibu Guru memberikan surat
cinta dari teman sekelasku. Dalam hatiku : “ apa-apaan. Kok surat itu bisa
sampai ke tangan ibu guru”. Memang sudah sering temanku itu mengirim suratnya, tapi
aku cuekin. Eh Taunya dia nekad menitipkan surat itu ke Ibu Guru.
Kebetulan
yang mengirim surat itu punya semacam genk yang terkenal nakal. Sambal memberikan
surat itu kepadaku, Ibu guru mengatakan kepadaku untuk memikirkan kembali
supaya aku menerima cinta si pengirim surat. Karena di kelas lain ada kejadian,
ada anak perempuan yang menolak salah satu geng terkenal itu, lalu anak itu
diancam. Nah mungkin guru ku itu takut aku juga diancam makanya memberikan
saran untuk menerima cinta (monyet) si pengirim surat.
Keesokan
harinya aku memutuskan untuk menerima cinta (monyet) temanku itu. Tapi ada
beberapa syarat yang harus dia patuhi. Lalu dia dengan senangnya memberitahukan
ke teman sekelas bahwa kami sudah jadian. Padahal pada waktu itu aku naksir
teman sekelasku. Huhu dasar cinta monyet.
Sejak
jadian si cowo itu mulai protektif. Aku ga bisa lagi berteman dengan anak
laki-laki lainnya. Tiap pulang sekolah dia selalu mengawal sampai ke rumah bersama
dengan teman-teman genk nya. Tapi anak zaman dulu masih polos kali ya. Sekedar suka-sukaan
dan menyatakan cinta ya sudah. Kami tidak punya medsos sebagai tempat pamer atau
tidak punya hp juga untuk saling menelepon atau bertukar pesan. Kami hanya
bertemu di sekolah saja.
Lalu
aku naik ke kelas 3. Alhamdulillah anak itu pindah sekolah. Entah apa alasannya
pindah sekolah yang pasti aku lega. Aku bisa melanjutkan hari-hari bebas
berteman dengan siapa saja. Di kelas 3 ada pelajaran yang sangat aku sukai. Yaitu
pelajaran Bahasa Inggris. Ada peraturan unik dari Pak Guru Bahasa Inggris ini. Bagi
siswa yang telat masuk. Tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran beliau. Kalau pun
tetap akan ikut pelajaran, boleh mengikuti pelajaran di luar kelas. Pada suatu
hari, entah dari toilet atau mengerjakan urusan lain. Aku telat masuk kelas
Bahasa Inggris. Tiba-tiba sesebapak sudah berada di dalam kelas. Ya sudah aku
pasrah harus berada di luar kelas selama pelajaran Bahasa Inggris berlangsung. Malunya
minta ampun. Tapi ya itu adalah konsekuensi. Yang aku ingat lagi kok aku rajin
banget ya sampai aku tetap mengikuti pelajaran walau berada diluar kelas. Aku belajar
lewat jendela. Padahal bisa saja kan aku main ke kantin atau nongkrong-nongkrong
Bersama anak lain. Tapi sayangnya dulu aku tidak punya uang jajan.
Masa
kelas 3 itu aku lewati dengan riang. Pulang sekolah aku sering main sepeda
hingga memanjat pohon belimbing bersama teman-teman yang lain. Oya pada suatu
hari kami kerja kelompok di rumah teman, Tapi kami tidak mengerjakan tugas. Yang
ada cuma ngobrol-ngobrol dan makan. Lalu main sepeda lagi keliling kampung.
Begitulah
kisah klasik masa sekolahku dahulu. Hingga sekarang aku dan teman-teman alumni SMP ku
masih berteman. Alhamdulillah semua sudah menikah dan memiliki keluarga
masing-masing. Bahkan diantara mereka ada yang menikah dengan teman SMP dulu.
#tantangan1day4
#onedayonewrite
#rumbelkomunitasipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#temakisahmasasekolah



Komentar
Posting Komentar