CAESAR OH CAESAR
TANTANGAN 2 HARI KE-11
RUMBEL MENULIS
KOMUNITAS IP SAMKABAR
Caesar
oh caesar
Pengalaman melahirkan tiap anak
berbeda-beda. Anak yang pertama begitu mudah prosesnya akan tetapi selama masa
kehamilan subhanallah. Saya sampai harus bedrest di rumah sakit 2 kali. Lalu
anak kedua masa kehamilannya lancar, bahkan Saya bekerja di ranah publik. Akan
tetapi proses kelahirannya memerlukan waktu yang lumayan menguras emosi dan
tenaga. Anak ketiga beda lagi. Karena anak ketiga kami lahir di pulau sulawesi,
tepatnya di kota Gorontalo.
Kira-kira di bulan Maret 2013 Saya hamil
kembali. Hamil keempat kalinya. Anak Saya sudah dua tapi kok hamil keempat
kalinya? Itu karena sebelum aa kyo Saya sempat hamil selama 3 bulan tapi karena
tidak berkembang, akhirnya dikuret. Hamil kali ini memang kami rencanakan
karena Iyaz juga sudah lepas asi selama 2 tahun. Tapi qadarullah memasuki bulan
keempat kehamilan. Saya kembali harus dikuret. Penyebabnya sama seperti anak
sebelum kyo. Yaitu janin tidak berkembang.
Setelah kuret, dokter memberitahukan
bahwa kandungan saya harus kosong dulu minimal 3 bulan. Karena kata dokter,
umumnya kondisi rahim akan membaik setelah 3 bulan.
Sebulan lebih berlalu, kami pun
mengunjungi dokter untuk mengetahui apakah rahim Saya benar-benar bersih. Suami
: " Bagaimana dokter, sudah bersih kan rahim istri saya?"
Dokter
: " Ibu nih subur banget, ini sudah ada isinya lagi?"
Berdua
: " apa? Serius dok?"
Lalu
ditunjukkan bagian rahim Saya
Dokter
: " ini, sudah ada janinnya" dokter berkata sambil tertawa.
Lalu
kami keluar dari ruangan dengan rasa malu tapi juga bersyukur.
Kami tidak menyangka bahwa cepat sekali
kami kembali diberi amanah. Dari awal kehamilan, Saya ingin sekali mempunyai
anak perempuan. Sekalian melengkapi karena kami sudah memiliki dua anak
laki-laki.
Pada masa awal kehamilan Saya
beraktivitas seperti biasa. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga lalu mengantar
dan menunggui anak di sekolah. Waktu itu Aa kyo masih belum bisa ditinggal di
sekolah. Jadi Saya sekalian menghabiskan waktu bersama mama-mama wali murid
lainnya. Saya juga mondar mandir antara kelas tk B dan playgroup. Karena
kakak-kakak semuanya sudah sekolah.
Memasuki kehamilan kelima bulan di awal
januari. Tiba-tiba Saya mengalami pendarahan. Segera kami ke rumah dokter
kandungan langganan Saya. Kebetulan tempat praktek dan rumah beliau berada di
tempat yang sama. Alhamdulillah Pak dokter sedang berada di rumah dan Saya pun
langsung diberi obat dalam dan obat luar. Saya sangat khawatir. Bukan kehamilan
kali ini saja Saya mengalami pendarahan. Pada waktu kehamilan anak pertama juga
mengalami pendarahan dna harus menginap di rumah sakit.
Setelah rutin memakan obat dari dokter,
keadaan kandungan Saya semakin membaik. Saya hanya disarankan untuk
beristirahat dengan teratur dan tidak boleh terlalu capek. Sejak itu suami
semakin sering membantu pekerjaan di rumah. Kadang-kadang suami membantu Saya
mencuci baju atau beres-beres. Selain itu suami juga memandikan anak-anak di
pagi hari sebelum mereka berangkat ke sekolah. Saya hanya dibolehkan memasak
saja.
Kehamilan Saya semakin besar. Ketika sudah 9
bulan kehamilan dokter mengatakan posisi bayi sudah bagus. Insyaallah saya bisa
melahirkan normal seperti 2 anak sebelumnya.
Suatu hari di malam kamis. Seperti
biasa saya kontrol USG. Karena memang jadwal praktek dokter rabu malam kamis.
Setelah di periksa dan USG oleh dokter, Saya melihat ada raut wajah cemas dari
dokter yang memeriksa Saya. Lalu dokter berkata : " Bu, apakah ibu
merasakan pecah ketuban? " Lalu Saya jawab : " Engga dokter, Tapi
memang beberapa hari ini ada cairan seperti putih telur yang keluar. Ada apa ya
doi?" " Ini air ketubannya sudah berkurang. Berbahaya bagi janin.
Padahal HPL ini masih 1 minggu lagi, ibu langsung cari kamar ya di rumah sakit
yang dituju malam ini juga. " Sambil dilihat perkembangannya bisa
diinduksi atau kalau tidak bisa, langsung caesar. Karena ini sudah berkurang
sekali air ketubannya"
Seketika Saya lemas. Saya juga bingung.
Saya merencanakan lahiran normal seperti anak-anak sebelumnya. Setelah dari
dokter, Kami menitipkan 2 anak kami lainnya ke salah satu teman. Ini yang kedua
kalinya kami menitipkan kyo dan Iyaz kepada beliau. Tiba di rumah sakit Saya
langsung diperiksa bidan, lalu diperiksa detak jantung bayi. Masih normal.
Ternyata kamar yang tersedia saat itu
hanya kelas 3 dan VIP. Saya lantas memilih VIP. Sesampainya di kamar pun Saya
tidak bisa tidur. Saya masih berharap bisa melahirkan normal. Tapi setelah
diperiksa pun tidak ada bukaan sama sekali. Merasa mules pun tidak. Malam itu
Saya pasrah kepada Allah SWT. Mana yang terbaik saja, insyaallah saya ikhlas.
Dari subuh Saya sudah dapat sarapan.
Saya yang masih optimis bahwa akan melahirkan secara normal. Dengan cueknya
memakan sarapan itu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jam 6
pagi diperiksa lagi detak jantungnya dan ternyata makin lama makin lemah. Para
perawat terus berkonsultasi kepada dokter. Saya diberi pilihan untuk diinduksi
dan operasi caesar. Akhirnya saya memilih operasi caesar saja. Daripada nanti
diinduksi Saya merasakan sakit tapi ujung-ujungnya di caesar juga. Karena
keadaan yang tidak mendukung. Suami juga setuju kalau saya di caesar saja.
Setelah suami tanda tangan. Saya menangis sejadi-jadinya. Padahal waktu
melahirkan 2 anak sebelumnya Saya tidak pernah menangis. Kali ini benar-benar
bobol pertahanan Saya untuk menahan air mata. Saya sangat takut dioperasi.
Jam 7 Wita Saya sudah memakai baju
operasi. Astaghfirullah malu rasanya. Saya cuma diantar suami sampai pintu
kamar operasi. Saya disuruh masuk sendiri. Sedangkan suami harus segera ke PMI
untuk mencari cadangan darah.
Saya masuk sendiri dengan santainya.
Lalu ditanya perawat : " Ibu, keluarganya mana? " Hampir Saya
menangis. "Saya pendatang, keluarga jauh semua. Suami sedang ke PMI"
lalu di dilanjutkan dengan "mari bu naik ke sini" ujar perawat sambil
menunjukkan ranjang operasi.
"Kita pasang infus dulu ya?"
Salah seorang perawat meminta izin. Lalu tiba-tiba ada suara telepon.
"Tolong ambilkan telepon ya sus" lalu tiba-tiba diujung telepon ;
" Bunda, ini perawatnya tadi lupa nulis golongan darah bunda, jadi orang
PMI nya ga percaya kalau golongan darah bunda O" lalu kujawab : " ya
udah, ayah kesini lagi aja. Kenapa malah menelepon bunda?ini lagi pasang infus
loh sebentar lagi mau anestesi" kututup telepon.
Lalu dimulailah proses caesar. Setelah
dipasang infus lalu di suntik bius dan terakhir yang paling menyakitkan yaitu
disuntik di bagian tulang belakang. Sakit dan ngilu kurasa. Jahat banget kalau
ada orang yang bilang masih nyinyir dan bilang kalau melahirkan dengan cara
caesar itu enak. Tidak enak sama sekali. Rasanya sakit dan ngilu.
Tak terasa lama-lama tubuh bagian bawah
terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Tapi masih bisa mendengar alunan musik dan
bisa mendengar percakapan antara dokter dengan tim nya. Akan tetapi belum
selesai mengiris bagian keluarnya anak. Tiba-tiba Saya merasa mual dan ingin
muntah. Lalu dengan sigap perawat memiringkan kepala Saya ke arah kanan. Saya
jadi ingat, tadi subuh Saya sempat sarapan. Karena Saya tidak tahu akan
operasi. Harusnya kalau mau dioperasi. Perut harus dalam keadaan kosong alias
berpuasa. Setelah menunggu beberapa menit seperti ada sesuatu yang diambil dari
perut Saya. Terasa eneg seperti ditarik-tarik dan akhirnya. Oek oek… lahirlah
anak kami. Lalu dokter berkata, "Selamat ya bu, anaknya perempuan"
serasa tak percaya tapi itu nyata. Alhamdulillah karena selama USG tidak pernah
terlihat jelas jenis kelaminnya.
Setelah melahirkan, sepertinya dokter
sedang merapikan irisan perut Saya tadi. Tapi entah mengapa, kepala terasa
berat. Lalu Saya tidak ingat apa-apa lagi.
Setelah sadar, ternyata Saya sudah ada
di ruang perawatan. Sudah ada para teman dan tetangga yang datang. Saya sangat
bahagia. Alhamdulillah, lahir juga anak perempuan kami. Kami beri nama Hana
Shakeela khairina. Artinya anak perempuan satu2nya yang cantik dan penuh
kebaikan.
Di ruang perawatan, perjuangan masih
panjang. Bila kaki Saya sudah bisa digerakkan. Saya bisa belajar bergerak ke
kanan lalu ke kiri. Subhanallah. Nyeri sekali yang terasa, bergerak pun
terbatas. Padahal Hana sudah menangis ingin menyusu. Alhamdulillah ASI lancar
dan Saya pun menyusui dengan cara miring kanan lalu bergantian.
Malamnya badan Saya menggigil, Dada
terasa berat dan penuh. Ya allah sakit sekali. Dada sakit, bekas jahitan caesar
juga sakit, dan kelamin sakit sekali. Ternyata kantong urine nya penuh dan
biusnya sudah habis. Pantas saja terasa sakit sekali. Malam itu juga Saya
meminta perawat melepas kateter. Saya berdoa semoga bisa melewati malam yang
panjang ini. Semoga Saya sabar dan ikhlas menghadapi keadaan ini.
Keesokan paginya kondisi Saya sudah
berangsur pulih. Suami lah yang siaga semalaman menjaga Saya dan mengganti
popok Hana. Kami ditemani oleh aa Kyo dan kakak Iyaz. Mereka senang sekali
mendapatkan adik baru.
Siangnya saya mulai duduk dan turun dari
kasur. Saya mulai belajar berjalan di dalam kamar. Anak-anak sambil tertawa
melihat Saya. " Bunda kayak nenek-nenek, bongkok begitu jalannya"
kata Aa Kyo. Subhanallah sakitnya memang pasca operasi. Ini lah perjuangan
seorang Ibu. Walau dengan cara normal atau caesar. Sama-sama disebut Ibu.
Jangan lah nyinyir apalagi sombong. Karena tiap orang memiliki keadaan yang
berbeda. Marilah kita saling menyemangati.
#tantangan2day11
#30harisemangatmenulis
#30harifreewriting
#30haribercerita
#rumbelmenulisipsamkabar
#komunitasipsamkabar
#bundahanamenulis
#febriliciouswriting



Komentar
Posting Komentar